Cerita Misteri Mistis Insan Harimau Itu Ternyata Suamiku

Cerita Mistis Misteri Manusia Harimau Sumatera Memburuku

Cerita misteri insan harimau.Malam Jumat Kliwon, 20 Januari 2017 saya hingga di Desa Nondeng, hutan Angkara Jodoh, Lampung Barat. Mobil sedan Toyota Agya 990 CC warna putih yang kupunyai, tidak bisa meneruskan perjalanan alasannya yaitu pecah ban Ban depan kanan pribadi kempes alasannya yaitu masuk lobang besar berpaku. Seharusnya ban tubles tidak akan pribadi kempes. Namun, apes menyergap hidupku. Ban itu pribadi kehilangan angin dan tinggal velg yang menyentuh aspal.
 Cerita Mistis Misteri Manusia Harimau Sumatera Memburuku  Cerita Misteri Mistis Manusia Harimau Itu Ternyata Suamiku

Karena desa ini belum ada penerangan listrik, maka keadaan jadi gelap gulita. Jam di tanganku mengatakan angka 24.00 tengah malam. Pukul 12 waktu setempat.Jantungku berdetak andal tatkala saya mendengar bunyi auman harimau Sumatra malam itu. Suara itu terasa begitu dekat, mungkin hanya setengah kilometer dari mobilku. Atau 500 meter dari tempatku mengganti ban depan.

Dengan buru buru saya membuka ban dan mengeluarkan ban serep dari bagasi belakang. Aku mengeluarkan dongkrak, membuka baut kemudian mengganti ban. Sebelum jawaban pekerjaan itu, senterku tiba-tiba mati. Padahal batere charger itu gres saja terang benderang dan isinya penuh.

Suara harimau makin keras aumannya. Berarti raja hutan itu sedang mendekat ke arahku. Kayu-kayu bau tanah jenis gerawan dan tembesu umur ratusan tahun itu, berdaun lebat, menciptakan suasana semakin gelap. Hujan terus membasuh bumi dan kilat serta petir menggantikan penerangan lampuku yang terputus. Baju kaosku lembap kuyup dan tubuhku menggigil alasannya yaitu dingin.

Sebagam wanita, janda muda, tidak seharusnya saya menyetir séndiri di malam keramat di hutan Desa Nondeng. Desa ini sudah ditinggalkan penduduk alasannya yaitu angker. Semuanya warga pindah alasannya yaitu gangguan mistik wilayah ini. Anak-anak kecil banyak diculik hantu, ibu-ibu bau tanah banyak yang diperkosa jin. Bahkan bapak-bapak juga banyak yang sakit lumpuh alasannya yaitu gangguan makhluk mistik sadis Desa Nondeng dan hutan Angkara Jodoh.

Mulutku terus berdoa, berzikir dan memuji kebesaran Tuhan Azza Wajalla. Aku memohon bantuan, pertolongan Yang Maha Kuasa, semoga saya selamat malam itu. Mobilku bisa berjalan lagi sebelum harimau ganas itu menyantap tubuhku.

Di dalam kegelapan saya terus meraba raba memasang ban. Memang sebagai petualang nyetir jauh, saya sudah terbiasa mengganti ban. Bahkan, kalau ada kerusakan mesinpun, sedikit banyak saya sanggup membetulkan. Sebagai tamatan Sekolah Tinggi Tekhnik Mesin, lnstitut Tehnologi Balaraja, saya bisa membongkar mesin. Memasang mesin dan tahu perihal permesinan kendaraan. Jangankan kendaraan beroda empat kecil menyerupai Toyota Agya, kendaraan beroda empat truk pun, pernah saya bongkar. Truk pengangkut nenas milik ayahku di Tanjung Batu, Ogan Ilir, pernah saya bongkar dan saya betulkan. Semua itu berhasil dan saya sanggup kebanggaan dari kakekku.

“Cucuku ini memang seorang perempuan anang ino, tomboy, satria lembut dari trah Tanjung Batu,” ungkap Gede Harun Abu Saman, 78 tahun, kakekku yang sudah bau tanah namun juga masih aktif sebagai pengusaha perkebunan nenas di Ogan illir. Gede Harun Abu Saman memang bahagia melihat saya yang kelaki-lakian. Maka itu saya dijodohkan dengan cucunya yang lain, Darwis Asikin, suamiku, yang meninggal alasannya yaitu kecelakaan pesawat Adam Air di Masalembo, Laut Makasar.

Cerita Misteri Mistis Kisah Nyata Bertemu Melihat Manusia Harimau Sumatera


Cerita Mistis .Hujan berhenti total ketika ban mobilku sudah terpasang. Aku segera masuk kendaraan beroda empat dan menghidupkan mesin. Aku masukkan perseneling satu dan melaju méninggalkan hutan Angkara Jodoh menuju barat. Dengan kecepatan rendah alasannya yaitu jalan rusak parah, saya melaju dengan penuh konsentrasi. Aku takut kalau kalau pecah ban lagi dan celaka dua belas. Sebab ban serap tak ada lagi, sudah digunakan di ban kanan yang gres saja pecah.

Saat lampu kendaraan beroda empat ku menyorot ke jalanan di depan, seekor harimau lewat memotong jalan. Raja hutan itu melintas dengan Santai di jalan berlobang, sambil kepalanya melirik ke arahku.

“Duh gusti, itu harimau yang belakangan diberitakan banyak makan orang. Suara harimau itulah yang tadinya berisik di telingaku,” batinku, sambil hati-hati menyetir.

Beberapa ketika harimau itu berhenti di jalan. Matanya sangat tajam mengarah ke mataku. Ketika matanya tersorot lampu kendaraan, mata itu pribadi mengeluarkan sinar bagaikan lampu laser ke arahku. Setelah menatap tajam dengan sinar laser ke mataku, harimau itu duduk di tengah jalan. Menghalangi laju kendaraanku menuju arah perbatasan Sumatera Selatan-Lampung Barat.

Batinku bergolak hebat. Apakah harimau besar itu langgar kemudian saya Iari. Atau saya berdiam di depannya sambil menunggu kesadaran binatang ancaman itu untuk pergi dan jalanan. Tapi mungkinkah beliau pergi? Sebab beliau nampak begitu nyaman di tengah jalan untuk menghalangiku.

Harimau itu nampak kelaparan dan ingin memakan diriku. Anehnya pula, tengah malam itu tak ada satupun kendaraan yang melintas. Jangankan mobil, motor dan sepeda pun, tidak ada yang melintas sama sekali.

Rasa takut menggelayut dalam batinku. Bulukudukku merinding dan nyaliku menciut seketika. Pikirku, saya tetaplah pertempuan lemah dan perempuan yang membutuhkan pemberian lelaki. Apakah saya bisa menghadapi Raja Hutan yang matanya menyala-nyala dan kelaparan itu?

“Bila saya tabrak, harimau sebesar itu pastilah takkan mati, bahkan tubuhnya berbalik kemudian menyerang saya dan mobilku, kemudian saya dicabik-cabik dan dibunuh olehnya,” bisikku, dalam hati.

Mulutku terus berdoa, benzikir, berserah din kepada Tuhan yang Maha Agung, Tuhanku yang jadi satu-satunya tempatku meminta. Aku memohon petunjuk kepasa Tuhanku, apakah yang harus kulakukan di saat-saat terjepit menyerupai itu? Tiba-tiba bunyi petir bergetar hebat.

Petir itu menghantam pohon di akrab harimau itu duduk. Harimau tersentak kaget dan saya Iebih terkaget lagi dengan suana gemuruh salak langit itu. Oh Tuhan, harimau itu bangun dari duduknya, kemudian keluar dari jalan dan masuk hutan belukar sebelah jalan.

Dengan perlahan saya memacu gas Agya ku. Aku melaju dengan kecepatan agak tinggi alasannya yaitu takut. Mobilku melaju cepat ke barat meninggalkan lokasi harimau belang itu. Dengan jantung berdetak dan rasa takut yang teramat sangat, saya melarikan Toyota Agya Putih 990 CC itu. Namun saya mencicipi harimau itu berbalik dan berlani kencang mengejar kendaraanku yang cepat berlari ke barat.

Benar saja, sesudah matuku melihat ke beling spion, harimau itu membuntutiku dari belakang. Dia mengejar saya dan semakin saya cepat, semakin cepat pula macan itu berlari mengejarku.Dengan rasa takut yang teramat sangat, saya memacu kecepatan 60 kilometer perjam. Seharusnya, jalan itu tidak bisa dengan kecepatan tinggi sebesar itu. Tapi alasannya yaitu ingin menyelamatkan dir, saya memacu minibus ku itu dengan sangat cepat.

Setelah satu jam mobilku berlari dan harimau itu terus mengejar, saya melihat kantor polisi sektor Tarbungan. Lampu menyala terang di Polsek itu dan saya memasuki halaman kanton polisi sektor itu untuk meminta bantuan. Ada empat polisi benjaga di pos dan saya meminta tolong.

“Ada apa ibu? Apa yang bisa dibantu?” tanya seorang polisi berpakaian dinas, pangkatnya Bripka dan namanya Bripka Suryanto Sulastomo.

“Saya dikejar harimau Pak, Harimau besar mengejar kendaraan beroda empat saya semenjak dari hutan Angkara Jodoh, Desa Nondeng, Lampung Barat,” kataku, terengah engah.

“Tenang Bu, tenang, di mana harimau yang mengejar ibu, kok tidak ada?” tanya Bripka Suryanto Sulastomo, kepadaku.

“Ya ampun Pak, harimau itu sangat akrab dengan mobilku dan mengejarku selama berjam-jam perjalanan menuju kantor polisi ini,” imbuhku.

“lya, tapi harimau yang kata ibu mengejar kendaraan beroda empat itu, kok enggak ada ya?” tanya Bripka Suryanto Sulastomo, tak menuntut jawaban.

Memang, hingga setengah jam saya berada di pos depan Polsek Tarbungan, harimau yang mengejar saya itu ternyata tidak ada. “Saya rasa ibu berhalusinasi alasannya yaitu Ielah menyetir jauh dari Jakarta ke kawasan ini. Ibu capek dan mengantuk, mungkin, hingga ibu membayangkan melihat seekor harimau besar yang mengejar ibu,” kata Bripka Suryanto Sulastomo lagi, kepadaku.

Kisah Nyata Cerita Misteri Harimau Makara Jadian Mengejarku


Aku’disarankan untuk beristirahat dulu di mobil. Bripka Suryanti Sulastomo meminta mobilku diparkir depan pos dan saya tidur dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Palembang. Aku mengikuti saran itu dan saya menyalakan mesin dan menghidupkan AC dan berusaha memejamkan mata. Sementara empat polisi Polsek melanjutkan kiprah mereka berjaga malam itu.

Namun mataku tidak sanggup saya pejamkan. Artinya saya tidak sanggup tidur. Pikiranku masih memikirkan harimau itu. Harimau itu benar-benar ada dan bukan halusinasi. Aku tidak sedang bermimpi, tidak sedang mengigo. Harimau itu benar-nyata dan ada. Tapi mengapa Bripka Suryanto Sulastomo katakan saya sedang halusinasi? Halusinasi alasannya yaitu capek nyetir dan Jakarta dan mimpi.

walau saya berusaha memejamkan mata, namun saya tak bisa tidurjuga. Maka itu, batinku memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Bila saya usang terdiam di kantor polisi Polsek Tarbungan di perbatasan provinsi ini, waktuku akan terbuang percuma. Namun, bila berjalan, lambat tau cepat saya akan hingga di Kota Palembang, tempat kedua orangtuaku menetap.

Aku segera keluar dari kendaraan beroda empat dan pamit kepada empat polisi PolsekTarbungan itu. Terutama kepada Pak Bripka Suryanto Sulastomo. Pak Suryanto bangun dan bertanya kepadaku, apakah fisikku sudah cukup berpengaruh untuk meneruskan perjalanan ke Palembang. Setelah saya yakinkan bahwa saya kuat, Pak Bripka Sutyanto Sulastomo pun mengantarkan saya ke kendaraan beroda empat dan saya pergi meninggalkan kantor polisi Tarbungan.

Jam di tanganku sudah mengatakan jam, 02.45 WIB, tanggal 20 Januari 2017, hari jumat kliwon. Sebelum saya beranjak, saya bertanya kepada Pak Bripka Suryanto, di mana tambal ban dan berapa jauh ada tukang tambal ban alasannya yaitu ban serap ku pecah. Pak Suryanto Sulastomo menyebut sepuluh kilo meter ada tambal ban besar. Buka 24 jam dan tambal tubies pun, bisa.

Aku menyalakan mesin dan memacu gas keluar Polsek Tarbungan menuju barat. Aku pamit dan menghormat kepada empat polisi, terutama kepada Pak Bripka Suryanto Sulastomo yang baik hati membantuku.

Setelah kurang lebih satu kilometer meninggalkan Polsek Tarbungan, saya melihat harimau tadi mengejar lagi. Dengan sangat terang saya melihat sosok Raja Rimba itu dari beling spion tengah dan spion pinggir kanan. Harimau itu ada lagi dan mengapa ketika di Polsek Tarbungan kok tidak ada? Batinku berbisik, harimau itu bukan harimau biasa, tapi harimau jejadian yang semenjak kecil biasa saya dengar banyak ada di sekitar Kota Palembang, kotaku.

Karena was was dan galau gulana, pas jalan mulus, saya pacu dengan kecepatan tinggi Agya ku. Namun semakin saya cepat melarikan mobil, semakin cepat pula binatang buas itu mengejar. Setelah tiga kilo Iari, saya melihat toko ban yang menyala terang.

Toko ban itu juga berpraktek menambal. Baik ban tubles maupun ban yang memakai ban dalam. Aku segera masuk ke halaman toko itu dan ada dua orang petugas tambal ban bendiri menyambutku di pagi buta itu.

Aku segera turun dan meminta pemberian tukang ban untuk mengambil ban yang pecah di bagasi Toyota Agya ku. Dua orang itu mendatangi bagasiku dan menurunkan ban. Lalu beliau meletakkan ban di sirkel besi untuk penambalan tubles. Disuntiknya potongan yang pecah dan dengan teliti kedua orang itu mengurus ban serep yang bermasalah.

Namun yang jadi MISTERI aneh lagi, harimau itu hilang dan tidak nampak batang hidungnya dan mataku. Aku kemudian menceritakan kepada dua tukang ban perihal harimau yang mengejarku.

“Ah tidak ada harimau Bu, ibu mimpi kali, mimpi meliht harimau kanena ibu mengantuk menyetir jauh dan Jakarta, menyeberang bahari pula, selama tiga jam terapung di Sekat Sunda dalam kapal ferry. Biasanya, kalau menyetin mengantuk, penyetir cenderung berhalusinasi,” kata tukang ban, yang belakangan saya ketahui berjulukan Gontap Sinaga.

Sama menyerupai polisi Polsek Tarbungan, tukang ban ini juga menyangka saya berhalusinasi. Harimau itu tak pernah ada dan takkan mungkin ada, apalagi hingga mengejar kendaraan beroda empat yang lari begitu kencang. Setelah menambal ban serap, saya membayar dan melanjutkan perjalanan ke barat. Melaju melintasi Kota Martapura, Kota Baturaja dan masuk ke Hutan Beringin yang akan menembus Kota Prabumulih, 120 kilometer dari Palembang.

Begitu masuk hutan Beringin, Ogan Komering Ulu, harimau itu menarik mobilku lagi. Dia muncul lagi dengan tubuh yang lebih berpengaruh dan menyetop jalan kendaraanku. Mobilku menyerupai direm dan ditarik oleh elevator. Aku melihat dari kaca, harimau itu makin nampak besar dan makin kelihatan galak nan ganas.

Dengan meyakini kekuatan doa, saya berdoa dan zikir meminta kepada Tuhan untuk melawan harimau itu. Aku turun membuka pintu kendaraan beroda empat di suasana temaram, remang-nemang alasannya yaitu menjelang subuh, untuk menghadapi harimau misterius itu. Aku membawa kunci ban untuk menggebuk binatang itu dan siap bertarung hingga mati alasannya yaitu jengkel.

Ya Tuhan Ya Tuhanku, begitu saya akan memukul harimau itu, ternyata muka harimau bermetamorfosis wajah suamiku. Darwis Asikin, suamiku yang ikut jatuh dalam kecelakaan pesawat Adam Air di Selat Makasar.

Cerita Misteri Mistis Kisah Nyata Ternyata Suamiku Manusia Harimau Sumatera


Tubuh dan kakinya berbentuk tubuh harimau, sementara mukanya, muka almarhum suamiku, Darwis Asikin. Selain suami, Kak Darwin Asikin juga saudara sepupuku. Dia satu kakek denganku dan kami menikah dijodohkan, alasannya yaitu kami masih bersaudara dekat.

“Kenapa begini Kak? Kakak kan kecelakaan pesawat dan raib dalam pesawat Adam Air dari Surabaya ketika menuju Manado,” tanyaku.

Arkian, ternyata semasa hidupnya, suamiku itu mempelajani ilmu Manusia Harimau. Dia mencar ilmu secana serius di Hutan Lampung Barat, terutama di kawasan Hutan Angkara Jodoh, tempat pertama kali saya menemukannya di tengah jalan dalam hutan belantana Desa Nondeng.

“Kakak sudah meninggal, tapi Kakak punya saudara kembar gaib, Manusia Harimau yang berdiam di Desa Nondeng, Hutan Angkara Jodoh. Jika Adek merindukan Kakak, Kakak selalu bisa ditemui di Desa Nondeng dari hutan Angkara Jodoh,” katanya, lirih.

Setelah berbicara begitu, dalam hitungan detik, Kak Darwis Asikin raib. Dia menghilang dan berlari cepat ke timur. Kembali ke Hutan Angkara Jodoh di Desa Nondeng, Lampung Barat. Dengan perasaan cuntang puranang saya melanjutkan penjalanan ke Palembang dan tiba di Jembatan Ampera, Musi Satu, pukul tujuh pagi.

Setelah saya bencerita kepada kakekku di Tanjung Batu, Ogan Ilir, barulah kakekku jujur mengakui, bahwa suamiku, Darwis Asikin, semasa hidupnya, yaitu Manusia Harimau. Harimau Jadi-Jadian untuk menyedot harta mistik di Singapura. Suamiku memang usang tinggal di Kota Singa dan kaya raya alasannya yaitu sedot harta mistik sebagai insan harimau.

Kekayaan yang berupa tanah, perkebunan dan ratusan truk peninggalannya, yaitu hasil kemampuannya menyedot harta mistik selaku insan harimau. Hingga kini, bulan maret ini, bila saya mau jumpa suamiku, saya tiba dengan kendaraan beroda empat ke Hutan Angkara Jodoh dan Desa Nondeng, Lampung Barat. Aku pribadi jumpa dan ngobrol panjang dengan kembaran Darwis Asikin sebagai insan harimau. Bertubuh harimau namun berwajah suamiku yang telah wafat, Darwis Asikin.(Kisah YuIia Yasmina.sumber:Misteri)
Jangan lewatkan Cerita misteri keturunan insan harimauCerita Misteri mendapat ilmu insan harimau 
Itulah kisah misteri mistis kisah faktual ternyata suamiku insan harimau jadi-jadian

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor