Alasan Khodam Cincin Tapak Jalak Mengamuk Dongeng Nyata

Cerita Mistis Misteri Kisah Nyata Teror Khodam Penunggu Cincin Batu Akik Tapak Jalak

Banyak yang menggunakan cincin watu akik namun bukan sekedar hanya untuk hiasan di jari saja.Akan tetapi juga banyak yang percaya dengan adanya khodam di dalam watu cincin yang bisa mendatangkan manfaat.Misteri Nyata Tengah Malam akan membuatkan kisah seseorang yang menggunakan watu cincin berkhodam.simak kisahnya.
 
Karena tanpa sengaja air seninya menciprati ke watu keramat yang dikenakan oleh Usep, tiap malam, ia selalu didatangi oleh orangtua berjubah hitam dengan wajah murka dan mata melotot.
Chandra dikenal sebagai sosok yang paling konyol. Sejak kuliah, bahkan, sesudah ia bekerja di salah satu kantor yang terletak di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, kelakuannya tidak berubah sama sekali. Boleh dikata, kalau ia tidak masuk, lantaran sakit atau kiprah ke luar kota, maka, kantor pun terasa sepi.
Kekonyolan serta ringan tangan, menciptakan Chandra selalu dilibatkan dalam banyak sekali acara yang diselenggarakan oleh kantornya....

Hingga pada suatu hari, kantor tersebut berniat mengadakan acara alam bebas di tempat Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat. Pada kesempatan ini, Chandra diminta untuk melaksanakan survey lapangan terlebih dahulu. Setelah melaksanakan perundingan dan melihat suasana villa yang bakal ditempati oleh rombongan nanti, Chandra pun kembali ke Jakarta.

Waktu yang dinanti pun datang. Sebelum berangkat, Usep, demikian nama panggilan Yusuf Maulana, yang hidupnya selalu bergelimang dengah gaib itu mengingatkan; “Chan ... bilangin sama teman-teman, jangan suka ngomong kotor di sana. Bisa ancaman nanti.”

“Beres Boss,” sahut Chandra.
Setelah mengabsen seluruh penerima yang naik dalam bus, kembali, dengan gaya konyol Chandra pun mengingatkan; “Teman-teman, di sana, kita dihentikan ngomong kotor.”
“Maksudnya gak boleh bilang kotor?” Timpal Linda.
“Waduh, masak sih harus diterangin. Dan jangan berludah atau buang air kecil apa lagi besar sembarangan,” sahut Chandra sambil tersenyum.

Setelah itu, bus pun berjalan dengan santai menuju Sukabumi. Di sepanjang jalan, semuanya bernyanyi-nyanyi dengan riang gembira. Dan ketika hingga di sana, dengan sigap Chandra pun turun dan mengatur rombongan menjadi kelompok-kelompok kecil.

Kisah faktual mistis misteri di teror hingga sakit ''burungnya'' oleh khodam Tapak jalak


 Setelah itu Ia pun berkata; “Masukkan barang masing-masing ke kamar yang telah ditentukan. jangan ada yang salah kamar bahaya.Waktunya sepuluh menit”.
Tak hingga sepuluh menit, semuanya sudah ke luar dan kamar. Chandra pun eksklusif menghitung. Setelah dirasa cukup, terdengar bunyi Chandra; “Siap kita semua berjaIan menuju ke Curug Sawer. Lama penjalanan sekitar 30 hingga 45 menit.

Siap ...?“
“Siap ...!“ Jawab mereka serempak sambil berjalan mengikuti Chandra. Sekali ini, Chandra benar-benar berubah. Ia tampak Iebih berwibawa ketimbang biasanya. Sifat konyolnya pun lenyap.
Setibanya di Curug Sawer, hampir semuanya kedinginan. Angin yang menerpa air yang turun dari ketinggian seolah menciptakan kabut yang demikian indah ketika tertimpa sinar matahari. Penuh dengan warna-warni.


Keadaan yang tidak menguntungkan ini menciptakan Chandra sebentar-sebentar harus buang air kecil. Suatu ketika, Ia bantu-membantu Usep menuju gerumbul perdu untuk buang air kecil yang kesekian kalinya. Setelah sejenak meminta izin dalam hati, keduanya pun membuang hajat kecilnya bersamaan dengan angin yang berkesiur.

Usai  itu, Usep dengan gesit berjalan menyusul rombongan yang kembali kevilla untuk beristirahat. Pada ketika itu, tanpa alasannya yang jelas, mendadak, Chandra mencicipi ada sesuatu yang menjalar di tubuhnya. Hanya sesaat, kemudian, lenyap dan kembali menyerupai biasa....

Setelah hingga di kamar, Chandra eksklusif membersihkan diri. Dan mereka pun makan malam bensama dengan riang. Malam itu mereka sengaja tidak menciptakan acara apapun. Sehingga, sempurna pukul 22.00.. .terdengar pengumuman dari Chandra.

  ‘’Sekarang waktunya istirahat.Persiapkan diri teman-teman semua untuk program besok...ingat,hadiah sudah menanti di kantor.’’
“Siap...,” jawab mereka serempak sambil berjakan menuju ke kamar masing-masing. Chandra yang satu kamar dengan Andan dan Iwan eksklusif masuk dan merebahkan dirinya di pembaringan. Malam itu, Chandra bermimpi didatangi kakek berjubah hitam dengan wajah murka dan mata melotot sambil menghardik; “Anak tak tahu diri...!”

Selanjutnya, tak ada kejadian yang berarti. Dan semua rombongan kembali ke Jakarta dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Dua hari kemudian, di kantor, sesudah semua pemenang mengambil hadiahnya, mereka pun kembali bekerja dengan penuh semangat. Apalagi Pak Bambang, eksekutif perusahaan tersebut menjanjikan, bila laba yang dicapai bisa ditingkatkan, mereka bakal mendapat bonus sekaligus berdarmawisata bersama keluarga ke Bali.

Dan apa yang terjadi dengan Chandra. Sekali ini Ia menjadi orang yang amat gelisah. Betapa tidak, semenjak dari Sukabumi,ia mencicipi gatal dan panas yang teramat sangat pada kemaluannya. Mulanya ia menganggap terkena herpes.
“Wah ... kalau begini terus bisa celaka,” bisiknya dalam hati.

Sorenya, Chandra Iangsung ke dokter. ia bahkan diminta untuk melaksanakan investigasi darah di laboratorium. Dokter hanya menyatakan; “Mungkin celana dalam Anda lembab dan kurang bersih. Pakai salep dan minum antibiotik ini sesuai aturan”.
“Terima kasih dok’, jawab Chandra dan kembali pulang.

Malamnya, alih-alih tenang, sesudah meminum obat dan membalurkan salep di tempat yang gatal, Chandra jadi semakin gelisah. Betapa tidak, rasa panas dan gatal itupun kian menjadi-jadi. Sekali ini, Ia benar-benar tersiksa, mata tak sanggup dipejamkan, sementara, sudut matanya selalu menangkap ada bayangan yang terus mengawasi kemana a bergerak disertai dengan busuk pandan yang demikian menyengat. Paginya, Ia pun meminta izin ke kantor lantaran demam....

Ketika berhasil memejamkan matanya, kembali, lelaki renta berjubah hitam tiba dalam mimpinya. Sekali ini, lelaki renta itu mengancam akan menghancurkan kemaluannya. Chandra pun tersentak... tangannya dengan serta merta memegang kemaluannya. Hatinya Iangsung berdesir ketika jam tangannya mencicipi ada beberapa benjolan di batang kemaluannya. Dengan perasaan tak menantu, Chandarpun membuka celana. Ah ... ya Allah, apa salah dan dosaku,” demikian rintihnya.

Chandra mencoba mengingat kembali apa yang telah dilakukannya di Sukabumi. Semuanya berjalan wajar, ia bahkan tak pernah buang air kecil atau besar di WC umum, selain itu, Ia juga tidak pernah bekerjasama tubuh dengan siapa pun. Sorenya, seusai mengambil hasil laboratorium dan kembali ke dokter, sang dokter hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hasil lab memperlihatkan Anda tidak mengidap apa-apa”, kata sang dokter dengan penuh selidik.

“Terus?” Potong Chandra cepat.
“Habiskan obat yang kemarin saya berikan, kalau belum sembuh, nanti kita observasi di Rumah Sakit yang lebih lengkap peralatannya,” sahut sang dokter memperlihatkan semangat.
“Baik dok,” kata Chandra lemah sambil berjalan keluar ruangan praktik.
Setibanya di rumah, Chandra eksklusif masuk ke kamarnya. ia lebih banyak mengurung diri ketimbang duduk bersama dengan keluarganya di ruang keluarga. Keadaan ini menciptakan ibunya menjadi bingung. Akhirnya, sang ibu pun masuk dan bertanya; “Bagaimana sakitnya?”

“Masih sama,” jawab Chandra sekenanya.
“Apa yang dirasakan?” Tanya sang ibu sambil duduk di tepi pembaringan anaknya.
Bukan menjawab, Chandra malah menangis. Dengan penuh kasih, sang ibu pun membelai kepala sang anak sambil berkata;
“Tuhan menurunkan penyakit beserta dengan obatnya, percayalah kepada-Nya, lnsya Allah, semuanya akan berjalan dengan baik.”
Sang ayah yang menyusul, mencicipi ada hal yang tak masuk akal pada penyakit anaknya. Setelah sesaat melihat kesekeliling kamar, terdengar suaranya; “Sudah mulai lebih baik?”
Chandra hanya menggeleng. Ia tak bisa menatap mata ayahnya yang berkilat bagai mata elang dan penuh selidik itu. Sang ayah yang mafhum dengan keadaan anaknya eksklusif memberondongnya dengan pertanyaan;
“Siapa orang renta yang di sudut kamar itu, kenapa ia hingga murka dan mengikutimu hingga ke rumah?”
“Hah...,” hanya kata itu yang terlontar dan verbal Chandra.
“Jawab...,” desak sang ayah.
Chandra hanya bisa menangis sambil menerang jelaskan apa yang dilakukannya di Sukabumi. Dahi sang ayah berkerut, akhirnya, dengan lirih ia pun berkata;

“Ambilkan daun sirih merah tujuh lembar, dan segelas air putih. Kemudian, persiapkan sirih lengkap, rokok lisong, bunga setaman dan sebutir telur ayam kampung.”

Sang ibu hanya bisa mengangguk dan berjaIan keluar. Sementara, sang ayah pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Tak berapa usang kemudian, segala yang diminta telah tersaji dengan apik dan diletakkan di sudut kamar tidur Chandra. Sang ayah pun segera aben dupa dan duduk dengan hening di depan sesaji. Mulutnya tampak berkomat-kamit.

Cerita kisah mistis misteri faktual mengatasi kodam tapak jalak


Tampaknya, sang ayah sedikit mengalami kesulitan. Sesekali tubuhnya bergetar dengan hebat. Walau ruangan itu menggunakan AC, namun, baju sang ayah tampak mulai berair bersimbah keringat.
“Maafkan anak saya kalau melaksanakan kesalahan baik sengaja maupun tidak sengaja pada Abah,” demikian gumam sang ayah lirih.

Dan beberapa ketika kemudian, sang ayah pun kembali berkata sambil bangkit “Tolong telepon temanmu, Usep, biar segera tiba kesini penting.”
“Maksud ayah Usep sahabat kantor Chandra?” Tanya sang anak dengan wajah tak mengerti.
“Ya ... bilang supaya cepat kesini,” kata sang ayah mantap.

“Baik...,” kata Chandra sambil mengambil handphone-nya dan menelepon Usep.
Sejam kemudian, Usep pun datang. Setelah sejenak berbasa-basi dengan sang ayah, Usep pun masuk ke kamar Chandra. Hatinya tercekat ketika melihat ada sesajian dan dupa yang masih mengepul di sudut ruangan sahabatnya itu. Maklum, apa yang dilihatnya, sebagaimana mempersiapkan sesaji kalau akan merendam watu tapak jalak yang diwarisi dari kakeknya.

“Kenapa, kaget?” Tanya sang ayah sambil tersenyum.
Usep hanya mengangguk. “Nak ... tolong ceritakan, dari mana dan bagaimana bisa mewarisi watu tapak jalak itu?” Kata ayah Chandra sambil tersenyum.
Usep tergugu. Ia tak menyangka sekaligus kagum dan semakin hormat pada ayah sahabatnya bisa eksklusif menebak tanpa harus memperlihatkan sebelumnya. Usep tersenyum sambil berkata; “Luar biasa, saya salut, omm bisa menebak cincin wanisan keluarga saya.”
“Warisan keluarga?” Tanya ayah Chandra.

“Betul Om, mulanya, buyut mendapat cincin dan kujang, di tempat Pameungpeuk. Menurut kisah kakek, Uyut harus menjalankan salat dan membaca Al Qur’an selama 41 han 41 malam tanpa putus. Pada hari tenakhir, Uyut didatangi seseorang berjubah putih, jenggot dan alisnya berwarna putih kepenakan dan menitipkan dua benda tersebufuntuk dirawat dengan sebaikbaiknya oleh keluarga kami.”

“Nah ... kebetulan, kini jatuh ke tangan saya. Anak lelaki tertua dan keluarga,” tambah Usep.
“Baik Nak Usep, saya minta dengan hormat, tolong cincin itu dilepas dan masukkan ke dalam air kembang itu. Sebab, tanpa sengaja, waktu kalian sama-sama buang air kecil, watu itu kena,” ujar ayah Chandra.

“Hah ... oh ... mungkin terkena angin. Sebab waktu kita kencing, mendadak ada angin kenceng Om,” ujar Usep sambil berjalan menuju sesaji yang ada di sudut ruangan. Ia Iangsung duduk dan mencopot dan memasukkan cincin tersebut ké dalam gelas yang berisi air dan bebungaan. Usep juga Iangsung aben dupa, mulutnya pun berkomat-kamit.

Saat kemudian, terdengar katanya sambil mengangsurkan tangannya ke arah Chandra;
“Maafin  ye...gua gaktau.”
Chandra hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan keduanya eksklusif terlibat dalam perbincangan. Beberapa ketika kemudian, Usep mengambil gelas yang berisi cincin tapak jalak. Setelah cincin keramat itu diambil dengan sendok, Ia pun mengangsurkannya pada Chandra.

“Minum cukup seteguk, kemudian, pakai buat balur di tempat yang sakit.”
Luar biasa, rasa panas dan gatal pun sontak menghilang. Bahkan paginya, tak ada bekas sama sekali. Chandra kembali normal menyerupai biasa
Ketika teman-teman kantor menanyakan kenapa ia sakit, dengan santai Chandra pun berkata dengan muka merah padam lantaran malu; “Tanya Usep. Cuma beliau yang bisa menjawab dengan niscaya dan benar.”
“Makanya...jangan sukasembarangan sama karuhun,” sahut Usep sekenanya.
Seisi kantr pun tertawa dengan riuh, dan kembali riang menyerupai semula.
itulah kisah mistis misteri lantaran khodam tapak jalak yang terkena air kencing
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor