Cerita Islami Kisah Sahabat Nabi Muhammad Rasulullah Saw Bubuk Dzar Al Ghifari

Cerita Islami Kisah Sahabat Nabi Muhammad Rasulullah SAW  Abu Dzar Al Ghifari Menentang Kedzaliman

Cerita Islami atau Kisah Hikmah Sahabat Rasulullah hari ini.Abu Dzar Al Ghifary yaitu salah satu sahabat besar Nabi Muhammad SAW. Nama lengkapnya yang masyhur ialah Jundub bin Junadah Al Ghifari dan populer dengan kuniahnya Abu Dzar. BeIiau berasal dari suku Ghifar. Di mana suku tersebut tinggal di bersahabat Madinah (Yatsirb). Suku Ghifar menyembah berhala berjulukan Munat.
 Cerita Islami Kisah Sahabat Nabi Muhammad Rasulullah SAW  Cerita Islami Kisah Sahabat Nabi Muhammad Rasulullah SAW Abu Dzar Al Ghifari

Kisah teman nabi Al Ghifari ketika belum mendapat hidayah.Suatu ketika Abu Dzar Al Ghifary berkunjung ke berhala Munat untuk mempersembahkan susu asam (yoghurt). Abu Dzar menunggu usang di depan berhalla Munat untuk menyaksikan susu persembahan diminum oleh berhala tersebut. Tapi tak juga berhala Munat meminum susu tersebut. Lalu seekor rubah lewat da meminun susu dan membuang air seninya ke pendengaran berhala Munat. Abu Dzar memperhatikan kejadian itu alasannya berhala Munat membisu saja.

Akhirnya dia tertawa dan mengejek berhala Munat. Kemudian Abu Dzar mencela dirinya sendiri alasannya bertindak ndeso dengan menyembah berhala yang tidak sanggup berbuat apa-apa. Abu Dzar kembali ke rumah dan merenungkan kejadian tadi. Lalu dia menatap langit dan gurun.

Dia yakin bahwa niscaya ada Yang Maha Kuasa atau Maha Pencipta yang mengadakan langit dan gurun tersebut. Abu Dzar Al Ghifary berkeyakinan pula bahwa Yang Maha Pencipta tersebut pastilah lebih agung dan pada berhala-berhala sembahan.

Suatu hari tiba seseorang dari Mekkah dan berkata kepada Abu Dzar Al Ghifary, “Ada seseorang dari Mekkah yang menyampaikan bahwa Tiada Tuhan selain Tuhan dan mengaku dirinya yaitu seorang Nabi.”

“Dari suku manakah dia?” Tanya Abu Dzar

“Dari suku Qurays.”

“Dari keluarga (bani) manakah dia?”

Dari banu Hasyim.”

“Apa yang dilakukan suku Qurays terhadapnya?” Tanya Abu Dzar Al Ghifary lagi
“Mereka menuduhnya sebagai pembohong, tukang sihir dan gila.” Kemudian orang itu pergi meninggalkan Abu Dzar yang sedang berpikir.

Lantas Abu Dzar Al Ghifary mengutus saudaranya berjulukan Unais Al Ghifari untuk mencari informasi ke Makkah. Unais sendiri yaitu seseorang penyair yang begitu jago dalam menggubah syair-syair Arab. Berangkatlah Unais ke Makkah untuk mencari tau apa bahwasanya yang berlangsung di Makkah sehubungan dengan informasi kemunculan utusan Allah itu.

Sesudah meniti beberapa ratus mil, pada jadinya Unais hingga ke kota Mekkah. Sesudah sukses memperoleh sebagian info serta penyaksian sendiri, Unais kembali pada suku Ghifar serta menjumpai Abu Dzar.

“Aku sudah lihat seseorang lelaki yang memerintahkan semoga lakukan perbuatan baik serta hindari perbuatan keji. Dia memerintahkan untuk menyembah Allah. Saya lihat di samping kanannya ada seseorang cowok berjulukan Ali serta istrinya Khodijah di belakangnya tengah berdoa di Ka’bah, ” narasi Unais

Abu Dzar tak senang dengan narasi saudaranya Unais, pada jadinya dia mengambil keputusan untuk pergi sendiri serta menjumpai Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Pertemuan dengan Nabi Muhammad SAW.
Mendengar laporan serta Unais itu, Abu Dzar lebih ingin tau lagi untuk berjumpa sendiri dengan orang yang ada di Makkah yang mengakui sudah memperoleh informasi serta langit itu. Cepatlah dia berkemas untuk pergi menuju Makkah, untuk menentramkan nada hatinya itu.

Serta sesampainya dia di Makkah, segera saja menuju Ka’bah serta tinggal kepadanya hingga bekal yang dibawanya habis. Dia pernah ejekan pertanyaan pada beberapa orang Makkah, siapakah di antara kalian yang disebutkan sudah meninggalkan agama nenek moyangnya? Orang-orangpun selekasnya tunjukkan pada Abu Dzar, seseorang laki-laki yang ganteng putih kulitnya serta bercahaya berwajah kolam bln. purnama.

Abu Dzar memanglah sangat waspada, dalam keadaan hampIr semua masyarakat Makkah memusuhi serta menentang Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam. Serta orangpun di Makkah dalam kondisi takut serta cemas untuk mendekat pada dia sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam, karena siapa yang mendekat padanya apabila dia yaitu dari kelompok budak beliau, bakal hadapi eksekusi berat dari tuannya.

Demikian juga apabila dari kelompok pendatang serta tak mempunyai qabilah pelindungnya di Makkah. Untuk kondisi yang sekian mencekam, Abu Dzar tak gegabah bicara dengan kebanyakan orang dalam soal apa yang tengah dicarinya serta apa yang dikehendakinya.

Dia cuma menunggu serta menunggu di Ka’bah, dalam kondisi semuanya perbekalannya sudah habis. Dia berupaya menangani rasa lapar yang mengganggu perutnya dengan minum air zam-zam serta tak ada masakan lain diluar itu. Sekian selalu situasi penantian itu berjalan sepanjang tiga puluh hari serta perut Abu Dzar sepanjang itu tak kemasukan apa-apa terkecuali cuma air zam-zam.

Ini sungguh sebagai karamah air zamzam, karena kenyataannya Abu Dzar tubuhnya terasanya makin gemuk sepanjang tiga puluh hari itu. Apa bahwasanya yang dinantinya? yang dinantinya hanya peluang menjumpai serta berdialog segera dengan laki-laki ganteng wajahnya bln. purnama itu, untuk tahu darinya segera agama apa bahwasanya yang dibawanya. Dia sehari-harinya terus-terusan mencermati sikap laki-laki ganteng itu serta sikap orang-orangnya yang anti pati terhadapnya.
Ia tiba ke Makkah sembari terhuyung-huyung, tetapi cahaya matanya bercahaya bahagia. Memanglah, sulitnya perjalanan serta teriknya matahari yang menyengat badannya cukup menyakitkan. Tetapi maksud yang akan diraihnya sudah memperingan penderitaan serta meniupkan semangat keceriaan.

Ia masuk kota dengan menyamar seperti akan lakukan tilawaf melingkari berhala-berhala di sekitaran Ka’bah, atau seperti musafir yang sesat dalam perjalanan, yang membutuhkan istirahat serta memberi perbekalan. Walau bahwasanya kalau beberapa orang Makkah tahu kalau kehadirannya itu untuk menjumpai Nabi Muhammad SAW serta dengarkan info beliau, pastinya mereka bakal membunuhnya.

Ia selalu mengambil langkah sembari menempatkan telinga, serta tiap-tiap didengarnya orang memberikan mengenai Rasulullah, ia juga mendekat serta memerhatikan dengãn hati-hati. Hingga dari narasi yang menyebar disana-sini, diperolehnya panduan yang sanggup mengarahkannya ke tempat tinggal Nabi Muhammad serta mempertemukannya dengan beliau.

Imam All bin Abi Thalib lihat seseorang ajaib yang ada di pojok Ka’bah ketika malam hari. Lantas dia hampiri orang ajaib itu yang tidak lain yaitu Abu Dzar.

“Sepertinya anda tidak dari tempat sini, ” Ucap Imam Ali

“Ya! ”jawab Abu Dzar singkat

Imam Ali mengajak Abu Dzar untuk ke tempat tinggalnya.

Esoknya setelah Abu Dzar pamitan dengan Imam Alu, dia pergi menuju ke pojok Ka’bah kembali. Hingga ketika Imam Ali tiba keKa’bah, dia lihat kembali Abu Dzar.

“Tampaknnya tengah ada yang anda fikirkan, ” sapa Imam Ali.

“Ya. Namun saya minta engkau merahasiakannya apabila saya bercerita apa yang saya fikirkan, ” balas Abu Dzar. Abu Dzar begitu suka dengan balasan Imam Ali dengan pengucapan Insya Allah.

“Aku mendengar kalau di kota ini ada seseorang Nabi serta saya menginginkan berjumpa dengannya. ”

Lalu Imam Ali mengajak Abu Dzar untuk menjumpai Rasullulah SAW. Sesudah berjumpa Rasullulah SAW, Abu Dzar menyebutkan ke lslamannya dengan menyampaikan dua kalimat syahadat. Rasullulah SAW memohon semoga Abu Dzar sembunyikan ke lslamannya serta kembali pada sukunya untuk menebar agama Islam. Rasullulah SAW cemas golongan Qurays bakal membunuhnya kalau tahu ke Islaman Abu Dzar.

Namun Abu Dzar dengan berani bakal memberikan ke lslamannya di depan golongan Qurays. Besok paginya Abu Dzar tiba ke Ka’bah serta berkata dengan lantang “Wahal Qurays! Saya bersaksi kalau Tidak ada Tuhan terkecuali Tuhan serta Muhammad yaitu Rasul Allah. ”

Akibatnya alasannya perkataannya itu, Abu Dzar dikeroyok golongan Qurays hingga pingsan. Mujur sepupu Nabi Muhammad SAW yakni Al Abbas menolongnya. Sesudah siuman kembali sang Teman bersahabat Nabi, Abu Dzar kembali pada tempat Ka’bah serta berteriak dengan kalimat menyerupai tadi. Golongan Qurays juga kembali menghajarnya hingga babak belur serta Abu Dzan pingsan kembali serta Al Abbas kembali menolongnya.

Akhinnya Sahabat Nabi ini menjumpai Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW dengan sedih lihat keadaan Abu Dzar, memerintahkan semoga dia kembali pada sukunya serta menebar Islam disana. Abu Dzar sukses mengislamkan orang tuanya, saudaranya Unais serta beberapa suku Ghifary.

Saat Rasullulah SAW pindah ke Madinah, Abu Dzar menjumpai Rasulullah SAW serta bercerita ihwal ke Islaman sukunya. Nabi Muhammad SAW juga bergembina atas kesuksesan Abu Dzar membawa sukunya dari kegelapan ke sinar kebenaran. Lantas Rasullulah SAW memberi tujuh nasehat pada Abu Dzar untuk di sampaikan pada sukunya yakni :

  • 1. Sayangilah beberapa golongan fakir miskin serta semoga senantiasa bersahabat dengan mereka
  • 2. Senantiasa lihat orang yang ada dibawah mereka serta bukanlah diatas mereka baik kedudukan, ekonomi, status serta yang lain.
  • 3. Senantiasa melindungi serta merajut jalinan silahturahmi
  • 4. Jangan hingga memohon pada orang lain
  • 5. Berkata jujur walaupunpu merasa pahit
  • 6. Janganlah takut pada siapa saja apabila ada di jalan Tuhan terkecuali pada Tuhan SWT semata
  • 7. Perbanyaklah berdzikir pada Tuhan SWT.

Lantas Rasulullah SAW meneruskan penjalanannya ke Madinah, sedang Abu Dzar kembali pada sukunya untuk mengemukakan nasehat Rasulullah SAW yang didengarnya.

Satu ketika Abu Dzar, Sahabat Nabi tiba ke Masjid serta dia berjumpa Rasulullah SAW yang tengah sendirian. Rasulullah SAW memerintahkan Abu Dzar untuk sholat sunnah 2 rakaat. Sesudah usai sholat, Abu Dzar ejekan sebagian pertanyaan pada Rosulullah SAW.

“Ya Rasullulah, perbuatan apa yang paling baik? ”

“Percaya pada Tuhan SWT serta berjuang di jalan Tuhan SWT. ”

“Pengikut bagaimana yang paling prima? ”

“Yang paling sopan. ”

“Pengikut manakah yang paling selamat? ”

“Muslim yang sanggup melindungi hukum serta tangannya. ”

“Hijrah apakah yang paling baik? ”

“Hijrah dari perbuatan dosa. ”

“Sedekah apa yang paling baik? ”

“Bersedekah pada yang miskin. ”

“Ayat manakah yang paling baik? ”

“Ayat Kursi. ”

“Berapakah jumlah Nabi? ”

“Jumlah nabi ada 124. 000 empat nabi bangsa Assyiria yaItu Adam, Idris (manusia yang pertama menulis dengan pena), Sis serta Nuh. Serta empat nabi tiba dari bangsa Arab yakni Hus, Shaleh, Syu’aib serta nabimu (Muhammad SAW). ”

“Ada berapakah kitab Allah? ”

“Ada 104 buah kitab, 40 shuhuf (lembaran) di turunkan pada Sis, 30 shuhuf di turunkan pada Idris, 10 shuhuf di turunkan pada Irohim, 10 shuhuf di turunkan pada Musa sebelumnya Taurat. Di turunkan juga kitab Taurat, Zabur, Bibel serta Al’Qur’an. ”

“Aku katakan padamu wahai Abu Dzar, takutlah pada Tuhan SWT karenanya inti agama. ”

Cerita Islami Kisah Sahabat Nabi Muhammad Rasulullah SAW Ketika Perang Tabuk


Rasullulah SAW memimpin pasukan muslimin menuju Tabuk untuk melawan pasukan Romawi. Dalam perjalanan yang begitu melelahkan sebagian golongan muslimin yang Iemah imannya ketinggalan serta kembali pada Madinah.

Abu Dzar ketinggalan dari pasukan Islam alasannya unta yang ditungganginya lemah serta tak sanggup jalan lagi. Di dalam gurun pasir yang terik panas matahari, Abu Dzar berkemauan untuk menyusul pasukan muslimin yang di pimpin Rasullulah SAW.

Semua perbekalan yang dibawanya habis sesaat perjalanan masihlah berhari-hari untuk menyusul pasukan golongan muslimin. Abu Dzar menyelusuri gurun pasir dengan jalan kaki siang malam. Didalam kehausan yang begitu serta tubuh yang lemah, teman bersahabat Nabi ini temukan mata air. Saat menginginkan meminumnya, la teringat bakal Rasullulah SAW. Dia tak jadi minum sebelumnya nabinya minum terlebih dulu.

Lantas Abu Dzar isi air ke tempat air minum lantas meneruskan perjalanannya. Di satu tempat Rasulullah SAW mengambil keputusan untuk istirahat dengan berkemah. Pada jadinya ketika pagi hari seorang memberitahu kalau ada seseorang yang tiba menuju perkemahan mereka dalam kondisi Iemah. Sesudah ada dalam jarak dekat, Rasullulah SAW serta beberapa teman bersahabat lihat Abu Dzar.

Lihat keadaan Abu Dzar yang lemah serta kehausan, Rasullulah SAW memerintahkan satu diantara sahabatnya untuk memberi air. Namun sebelumnya air di ambil untuk dia, Teman bersahabat Nabi, Al Ghifari menyodorkan tempat air yang diisi air minum pada Rasullulah SAW.

‘Abu Dzar, kenapa engkau kehausan tengah engkau mempunyai air? ” Bertanya Rasulullah SAW.

“Wahai Rasullulah SAW, didalam perjalanan saya temukan mata air yang saya cicipi nyatanya airnya begitu fresh. Saya ingat bakal engkau Rasullulah serta saya berkemauan tidak untuk meminumnya sebelumnya engkau minum lebih dulu, ” jawab Abu Dzar.

Lalu Rasullulah SAW bersabda ; “Abu Dzar, mudah-mudahan Tuhan mengasihimu. Engkau bakal tinggal sendiri, wafat sendiri serta masuk nirwana sendiri. Sebagian orang Irak bakal besar hati terhadapmu. Mereka bakal mengurusi jenazahmu serta mendoakanmu. ”

Cerita Islami Kisah Sahabat Nabi Muhammad Sepeninggal Rasullulah SAW


Sesudah Rosulullah SAW meninggal dunia, Abu Dzar berjihad melawan kerajaan Romawi di ketika ke kholifahan Abu Bakar serta Umar bin Khatab. Di jaman ke kholifahan Usman, bin Affan dipenuhi dengan nepotisme dimana beberapa kerabat bersahabat serta keluarganya banyak jadi penumpuk harta hingga memperoleh memprotes keras daru Abu Dzar untuk mengingatkan tindakannya. Belum lagi kerabatnya sebagai petinggi tinggi senantiasa semena-mena pada rakyatnya.

Salah satunya Marwan bin Hakkam yang senantiasa mabuk karena minuman khamr lantas masuk kedalam masjid serta muntah dalam sholat. Abu Dzar membacakan ayat QS : At Taubah : 34 yang berbunyi “Dan orang-onang yang menaruh emas serta perak serta tak menggerakkan di jalan Allah, jadi katakanlah pada mereka (kalau mereka bakal memperoleh) siksa yang pedih. ”

Namun nasehat Abu Dzar tak diindahkan bahkan juga Abu Dzar oleh Usman bin Affan diasingkan ke Syam. Sesudah di Syam berlangsung perseteruan dengan Muawiyah bin Abi Sofyan yang juga suka lakukan dosa menyerupai menumpuk harta, kejam pada rakyar dsb. Abu dzar dibuang ke Al Rabadzah tempat yang begitu tak disenangi olehnya.

Karena ditempat tersebut sebelumnya masuk Islam, Abu Dzar menyembah berhala. Saat Abu Dzar dibawa oleh Marwan bin Hakam berbarengan istri serta anak perempuannya untuk dilepaskan ke Al Rabadzah, Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, Aqil serta Amman bin Yassir mengantarnya. Marwan pernah memperoleh bentakan dari Imam Ali alasannya agresi yang kejam pada Abu Dzar yang telah lansia dengan kata,

“Hentikan kelakuanmu wahai musuh Allah! ” Marwan juga segera ciut nyalinya. Sesudah menyampaikan salam perpisahan, Abu Dzar bersama keluarga meninggalkan mereka. Air mata menetes diantara mereka karena kekejaman yang dikerjakan penguasa waktu itu.

Abu Dzar menyampaikan sabda Nabi Muhammad SAW dihadapan beberapa pengantarnya “Abu Dzar, mudah-mudahan Tuhan mengasihimu. Engkau bakal hidup sendiri, meninggal dunia sendiri, bangun sendirian serta masuk syurga sendirian. ”

Di dalam gurun, Abu Dzar telah tidak sanggup menahan kekurangannya serta dalam kondisi sakit, dia hadapi sakaratul maut tepatnya pada th. 30 Hijriah. Istrinya menangis dihadapannya.

“Wahai istriku kenapa engkau menangis? ”

“Bagaimana saya tak menangis tengah engkau mendekati maut di dalam gurun ini. ”

“Suatu ketika saya serta beberapa teman bersahabat sekedar duduk berbarengan Rasullulah SAW serta Rasulullah berkata kalau diantara kami ada yang wafat di dalam gurun serta ada sekumpulan golongan mukmin yang bakal menghadiri kematiannya. Naiklah ke atas bukit. Lihatlah jalan yang umum ditempuh oleh beberapa kholifah.

Sekumpulan orang terperanjat lihat seseorang wahita bau tanah ada di dalam gurun yang tengah melambaikan tangannya. Mereka juga hampiri istri Abu Dzar.

“Suamiku hendak tidak berpengaruh menahan sakitnya juga  tak ada seseorang juga yang ada di sebelahnya. ”

“Siapakah suami ibu? ”

Abu Dzar Al Ghifari Sahabat Nabi Rasullulah SAW. ” Mendengar balasan istri Abu Dzar mereka terperanjat serta dengan selekasnya masuk kedalam kemah tempat Abu Dzar berbaring. Kepala rombongan itu berjulukan Malik bin Asythor (penglima perang serta teman bersahabat dekat Imam Ali). Pada jadinya di dalam gurun itu Abu Dzar meninggal dunia akhir kekejaman penguasa ketika itu. Malik serta rombongan mengurusi jenazahnya hingga usai.

Jangan lewatkan cerita islami Kisah Para Nabi,Nabi Uzair Tertidur 100 Tahun
Itulah Cerita Islami kisah teman nabi Muhammad Rasulullah SAW Abu Dzar Al Ghifari yang teguh imannya melawan pemimpin zalim
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor