Cerita Mistis Faktual Guna-Guna Selingkuhan Suami

Cerita Mistis Nyata Terkena Santet Selingkuhan Suami

Cerita mistis konkret terbaru hari ini yaitu kisah seorang perempuan anggap saja namanya Lindawati yang disantet oleh seseorang yang diduga selingkuhan dari suaminya.seperti apa kisahnya pribadi kita simak.cerita mistis konkret terbaru.
Namaku Lindawati. Sebagian temanku ada yang memanggilku dengan sebutan Linda, tapi ada juga yang memanggilku dengan sebutan Wati. Dalam keluarga, saya kerap dipanggil dengan sapaan Wati, itu mungkin lantaran saya terlahir dari keluarga Jawa. Aku yaitu ibu rumah tangga dengan 3 orang putra putri. Putraku terbesar sudah duduk dibangku SMA. Tahun 2017 ini ia lulus dan rencananya melanjutkan kuliah di Jakarta. Anak kedua kami masih duduk di dingklik Sekolah Menengah Pertama dan yang paling kecil masih di taman kanak-kanak.

Aku yaitu seorang pegawai negeri sipil di pemerintah propinsi Riau, sementara suamiku yaitu seorang pengusaha kayu. Tapi mungkin Iebih pantas bila suamiku disebut sebagai pengusaha apa saja. Sebab bisnisnya tidak hanya melulu kayu, kadang ia juga menangi pekerjaah proyek apa saja yang kadang saya juga tidak mengerti. Aku memang tidak terlalu memahami kegiatannya sehari-hari alasannya yaitu ia terlalu banyak waktu di luar rumah ketimbang di rumah. Itu terutama semenjak kami mempunyai anak ketiga.

Yah, saya mungkin harus memulai kisahku semenjak saya punya anak ketiga. Anak bungsu perempuan yang amat saya cintai. Anak pertama dari kedua kami yaitu lelaki. Aku suka dengan anak perempuan lantaran saya sanggup mendandaninya. Aku juga lebih sanggup bercengkrama dengannya ketimbang dengan anak pria yang sehari-hari sibuk dengan dirinya sendiri dan dunianya saja.

Aku merasa suamiku, sebut saja Burhan, mulai berubah sikap semenjak saya punya anak ketiga ini. Aku tidak tahu mengapa Bang Burhan sanggup berubah secara drastis. Tapi saya menganggap itu yaitu sebuah hal yang biasa. Aku berpikir mungkin Bang Burhan harus bekerja lebih keras hingga ia jarang pulang. Dalam seminggu, hampir setiap hari Bang Burhan mengaku harus pergi ke luar kota membicarakan proyek dengan rekan-rekan bisnisnya. Dan saya percaya saja dengan alasannya itu, alasannya yaitu tak ada lagi yang sanggup saya lakukan selain mengiyakannya.

Sekali dua kali saya tidak mencicipi apapun dalam diri Bang Burhan. Aku sangat mempercayai suamiku lantaran saya tahu ia mencintaiku dan saya juga sangat mencintainya. Tapi beberapa bulan kemudian, saya merasa ada yang asing dalam dirinya. Aku melihat ada kebencian dari tatap mata suamiku itu.Aku tidak berani bertanya lantaran ku tahu beliau akan murka kalau saya mempertanyakan hal itu. Aku hanya sanggup menahan rasa dalam hati.

Tak hanya tatap matanya saja yang berubah, prilaku Bang Burhan juga berubah semenjak 3 bulan lalu. Ia sudah tidak lagi menggauliku sebagai istrinya. Ia tampaknya enggan menyentuhku, bahkan untuk duduk bersama saja Ia mirip berusaha untuk menghindar. Jika ia pulang ke rumah, ia sibuk dengan pekerjaan di ruang kerjanya. Atau bila pun kami berkupul bersama, ia sibuk dengan televisi dan anak-anak. Aku yakin ada yang berubah dalam diri suamiku itu.

Malam itu, saya berusaha memberanikan diri menghampiri suamiku yang tengah sibuk menonton televise sendiri. Anak-anak semua sudah terlelap tidur. Perlahan saya duduk di sampingnya dan berusaha menggengam tangannya. Tapi apa yang terjadi, ia menghindar dan akal-akalan ke depan menciptakan kopi. Aku hanya membisu dengan menahan rasa kecewa. Sesaat kemudian ia kembali ke depan televise dengan membawa segelas kopi dan duduk menjauh dariku.

“Bang, Abang ini kenapa sih. Aku merasa ada yang berubah dalam diri Abang,” saya berusaha memberanikan diri bertanya.
“Aku baik-baik saja, saya lelah terlalu banyak yang harus saya kerjakan dan pikirkan. Kamu kenapa bertanya mirip itu?” Suamiku memberi klarifikasi sambil balik bertanya.

“Tidak apa-apa, saya hanya merasa ada yang berubah dalam sikap Bang Burhan padaku,” jelasku.
“Sudahlah, tak usah dibahasa dilema itu. Kita sudah usang berkeluarga jangan kau bahasa hal-hal yang tak perlu,” jawabnya ketus sambil pergi dengan membawa membawa segelas kopi yang tadi Ia seduh sendiri.
Pagi hari saya sudah bangun, bersama pembantu rumahku saya mempersiapkan sarapan dan segala yang kami butuhkan untuk pagi itu. Aku lihat Bang Burhan masih tergolek di kamar belakang tak jauh dari computer. Rupanya Ia tidur di ruang kerjanya. Dan hingga saya berangkat kerja, Ia masih tertidur pulas. Aku sudah buatkan kopi dan sarapan di meja makan. Mungkin nanti Ia bangun pribadi sarapan atau ngopi dulu.

Sore hari, saya pulang kantor. Sepenti biasa saya pribadi menghampiri putri bungsuku. Aku menggendongnya dan memanjakannya. Aku tahu beliau niscaya merindukanku sesudah seharian saya tinggalkan. Putri bungsuku itu diasuh oleh pembantu dan ibu mertuaku. Rumah kami dan mertua memang tidak terlalu jauh, hanya berjarak sekitar 500 meter saja. Maka ibu mertuaku kerap kali tiba ke rumah untuk menengok cucunya.

Sampai tengah malam, Bang Burhan belum pulang. Aku tak berani menghubunginya, lantaran saya tahu jawabannya niscaya akan murka atau Ia akan memberi seribu alasan untuk tidak pulang. Dan memang benar, hingga pagi menjelang ia tidak pulang. Hatiku mulai resah, saya merasa semakin tak menentu. Aku tidak tahu lagi bagaiman saya harus menghadapi suamiku. Jika saya terlalu protektif padanya, ia akan murka lantaran merasa dikekang. Tapi bila saya biarkan saja, Ia semakin tak menentu.

Yah, sehari dua hari Bang Burhan tidak pulang. Aku berusaha menghubunginya, Ia beralasan sedang di proyek bersama rekan kerjanya.
“Mama damai saja, urusi saja pekerjaan rumah. Aku masih banyak kerjaan di proyek ini. Aku juga tidak sendirian, banyak orang yang punya istri dan bawah umur di sini tidak pulang,” jawbnya. Dan saya mendapatkan balasan itu.

Tapi ternyata, seminggu dua ahad Ia tidak juga pulang. Sejak itu telepon genggamnya juga tidak sanggup dihubungi. Aku tak tahu ke mana harus mencari suamiku. Aku tak tahu diproyek mana ia sedang bekerja. Teman-temannya yang biasa saya hubungi juga tidak ada yang tahu di mana suamiku. Atau mungkin teman-temannya sengaja tidak memberi tahu saya lantaran mereka takut pada Bang Burhan.

Sejak suamiku menghilang, rumahku didera hal-hal gaib yang tak masuk akal. Malam itu, tiba-tiba saja anak keduaku menjerit-jerit di dapur. Ia melihat ada seorang nenek-nenek kumal sedang duduk di dingklik belakang.
“Mama tolong, ada hantu!” Teriak anakku sambil berlari ke ruang televisi.

DI ruang televisi itu kami sedang berkumpul. Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Masih belum larut. Aku dan anak pertamaku menganggap penglihatan Tio anak keduaku itu sebagai halusinasi. Ia tidak pernah merasa takut dengan hantu mirip malam itu.
“Ah kau mana mungkin ada hantu di rumah ini dari tadi pun Abang bolak-balik ke dapur tak ada apa-apa.” Anak pertamaku memberi komentar pada adiknya.

Yah malam itu, yaitu hari pertama adanya info penampakan di rumahku. Tapi saya juga tidak menganggap itu sebagai hal yang serius. Mungkin Tio hanya berhalusinasi alasannya yaitu ia juga suka nonton film horror. Tapi malam berikutnya, hal yang asing tenjadi atas diriku sendiri. Sekelebatan saya melihat ada bayangan hitam kelua dari kamar mandi. Saat itu saya persis sedang berjalan menuju kamar mandi. Aku berniat untuk buang air kecil. Bulu kudukku tiba-tiba meremang melihat hal itu. Tapi saya berusaha memaksakan diri ke kamar mandi, saya tidak ingin menceritakan hal itu pada bawah umur atau siapapun. Aku tidak ingin mereka ketakutan di dalam rumah, pikirku.

Dua malam sesudah pristiwa penampakan di kamar mandi itu, saya kembali didera hal mistik. Kali ini bukan sekedar penampakan semu. Malam itu saya tengah berbaring di ranjang sambil bengong memikirkan Bang Burhan.
Tiba-tiba dari atas Iangit-langt kamarku muncul sebentuk bayangan hitam yang mirip wujud seorang nenek-nenek. Mataku terbelalak melihat insiden yang mengerikan itu.

Jelas saya melihat wujud itu tiba dari langit-langit kamarku. Wajah itu mirip sanggup menembus langit-langit kamar, Dengan wajah yang menyeringai angker ia terus memandangku tanpa berkatakata. Mulutku pun mirip terkunci untuk berteriak. Tubuhku tak sanggup lagi saya gerakan. Aku hanya sanggup terdiam berbaring sambil menyaksikan pemandangan yang mengerikan.

Aku tak menyaka kalau malam itu yaitu malam pertama di mana saya terjebak di dunia mistik. Sejak malam itu, saya terus didera rasa takut oleh kehadiran makhluk halus d rumahku. Bukan hanya aku, anak pertamaku dan anak keduaku pun mengalami hal yang sama. Bahkan pembantuku juga berkali-kali melihat penampakan makhluk halus di rumah kami. Rasa takut dan tidak nyaman mulai menderaku dan semua orang yang ada di rumah kami.

Sudah sebulan Bang Burhan tidak pulang, saya tak tahu ke mana harus mencarinya. Aku pun tak sanggup memberi balasan ketika bawah umur bertanya. Aku hanya menjawab bapaknya sedang dalam proyek. Tapi mengapa bapak tidak sanggup dihubungi. Itu pertanyaan yang tidak sanggup saya jawab pada bawah umur dan keluargaku. Bahkan orang bau tanah Bang Burhan pun tak tahu ke mana anaknya pergi. Ayah dan ibu Bang Burhan sudah mencoba menghubungi tapi tak pernah sanggup tersambungkan.

Aku mulai khawatir dengan keselamatan Bang Burhan, demikian juga dengan bawah umur yang mengkhawatirkan ayahnya. Terlebih orang bau tanah Bang Burhan yang setiap hari menanyakan keberadaan suamiku. Aku tak sanggup menjawab pertanyaan mereka. Aku juga tidak bisa.merdekan kekhawaitran mereka. Betapa tidak, jauh di lubuk hatiku, saya juga khawatir dengan keberadaan Bang Burhan, suamiku. Tapi saya juga tak tahu ke mana harus mencarinya.

Malam itu sekitar pukul 11. Mataku belum juga sanggup terpejam, entah mengapa ada gundah di hatiku. Dadaku berdebar-debar tak menentu semenjak lepas shalat isya tadi. Anak-anak, pembantu dan mertuaku kebetulan ada di rumah. Mereka semua sudah terlelap dalam tidurnya. Di sebelah kiri, saya melihat Si kecil mungil tertidur pulas. Sesekali beliau mendengkur dan berbalik. Wajahnya yang polos membuatku tetap tersenyum bahagia meski hati ini sakit lantaran Bang Burhan.

Tibat-tiba saja. Brakkkk.. Dari atap rumahku saya mendengar sesuatu yang jatuh menghantam genting. Aku berpikir ini niscaya benda keras yang jatuh entah dari mana. Sesaat kemudian saya mendengar bunyi berdentum, masih dari atap rumahku. Dua bunyi yang berbeda itu membuatku terbangun dari pembaringan. Dari dalam kamarnya mertuaku juga keluar, saya berpikir Ia pun niscaya mendengar bunyi yang sama.
“Ada apa Wati, itu mirip ada bunyi keras di atas genting rumah,” tutur mertuaku.

Aku yang sedari tadi sudah mendengar hal itu Iangsung keluar rumah tanpa memikirkan hal lainnya. Dilkuti mertuaku saya memperhatikan apa yang terjadi di atas genting rumahku. Tapi tak ada apapun di atas rumahku. Yang tenlihat hanya gelapnya malam. Kemudian saya menyidik seisi rumah bersama mertuaku. Tapi juga tidak ada kerusakan yang sempat saya duga sebelumnya.

“Tidak ada apa-apa Mah. Mungkin besok pagi saja kita lihat. Sekarang sudah larut malam,” tuturku pada ‘mertuaku.
“Ya sudah besok saja kita suruh orang lihat ke atap rumah,” jawabnya.
Malam itu kami kembali ke kamar masing-masing. Meretuaku tidur bersama anak keduaku. Mertuaku kalau menginap di rumah memang sering kali tidur bersama anak keduáku. Ia begitu sayang padanya hingga apapun akan ia berikan untuk anakku itu.

Malam itu, saya gres sanggup tertidur selepas pukul 2 pagi. Kepalaku serasa pusing dan mulutku terasa sakit. Tapi saya paksakan untuk tidur kanena saya memang harus istirahat.

Cerita Mistis Misteri Mitos Akibat Terkena Santet


Pagi harinya, saya merasa ada sesuatu yang asing dalam diriku. Baru saja saya membuka mata dari tidurku. Aku merasa ada yang bergerak-gerak dalam perutku, entah mungkin saya masuk angin atau bagaimana saya tak tahu persis. Mulutnya juga terasa mual, mirip hendak muntah. Mataku juga berkunang-kunang, saya niscaya sakit, pikirku.

Baru saja saya hendak berdiri dari pembaringan, tiba-tiba mulutku mual bukan kepalang dan saya muntah. Aku memuntahkan darah yang berlendir mirip semoga dari mulutku. Berkali-kali saya muntah hingga saya tak tahu berapa kali saya memuntahkan darah dari mulutku. Yang saya ingat ketika itu yaitu teriakanku pada ibu dan anak-anakku. Aku sempat berteriak minta tolong dan jadinya ibu mertuaku dan anak-anakku tiba ke kamar. Aku masih ingat ketika itu mereka terus membopongku ke kawasan tidur dan kembali membaringkanku. Tapi saya kembali muntah di kawasan tidur itu menciptakan bantalan kasurku yang putih ternoda merah.

Sejak itu, saya tak tahu lagi apa yang terjadi. Aku benar-benar tak sadarkan diri lantaran pingsan. Dan anehnya, sesudah saya siuman dari pingsan pun saya tak tahu lagi apa yang terjadi. Aku tak sanggup mengingat semua insiden yang terjadi semenjak ketika itu. Aku benar-benar lupa ingatan dan tak tahu lagi yang terjadi selanjutnya.

Tapi berdasarkan orang-orang yang saya cintai, berdasarkan anak-anaku, orang tuaku dan mertuaku. Sejak ketika itu sikap saya berubah aneh. Aku mirip orang gila, mirip orang sakit dan mirip orang kesurupan. Aku menjelma orang yang asing dengan sikap yang tak masuk akal.

Pagi hari sesudah saya muntah-muntah darah itu, saya dibawa ke dokter dan dokter memberiku beberapa jenis obat. Menurut dokter, saya kena maag kronis hingga saya muntah dan ada luka di perutku. Tapi mengapa saya tak sanggup mengingat semua insiden yang terjadi sesudah saya muntah darah itu. Aku menjadi orang gila, ya menjadi orang gila sesudah saya muntah darah itu.

Akhirnya orang tuaku dan mertuaku berinisiatif membawaku ke orang pintar, seorang Kyai tak jauh dan rumah kami. Tapi juga tak ada perubahan sesudah saya berobat beberapa kali ke rumah Kyai itu. Kyai itu hanya sanggup menyampaikan kalau saya terkena santet.Ia tak sanggup menyembuhkan penyakit itu, menurutnya itu hanya sanggup disembuhkan oleh suamiku sendiri.

Tentu saja semua orang yang mendengar hal itu merasa aneh. Mengapa suamiku yang sanggup menyembuhkan penyakitku ini. Apakah suamiku yang melaksanakan santet itu. Namun apakah benar ini yaitu santet, juga tak ada yang sanggup memastikannya. Yang niscaya saya hilang ingatan Iebih dari 6 bulan semenjak saya muntah darah itu.
Dalam rentan waktu 6 bulan itu, banyak sekali pengobatan alternative sudah dilakukan oleh keluargaku dan mertuaku.


 Berbagai ustazd, Kyai dan paranormal sudah di datangkan untuk kesembuhan aku. Tapi saya tetap saja sakit, saya tidak sanggup mengontrol diriku. Aku benar-benar sudah menjadi orang stress, orang gila yang tak tahu lagi dengan diriku sendiri. Untuk mandi, makan dan berpakaian saja saya harus dibantu oleh orang lain. Beruntung saya punya orang bau tanah dan mertua yang baik. Merekalah yang merawatku selama saya sakit itu.
Sementara itu Bang Burhan belum juga diketahui keberadaannya. Segala cara sudah dilakukan untuk mencari tahu di mana suamiku berada. Mertuaku, ayahnya Bang Burhan, punya keyakinan bila Bang Burhan pulang, maka saya akan sembuh dari penyakitku.

Maka ayah mertuakulah yang paling getol setiap hari mencari informasi ihwal Bang Burhan. Ia bahkan pernah pergi ke Jakarta lantaran ketika itu Ia mendengar Bang Burhan ada di sana. Tapi hasilnya nihil. Bang Burhan tidak ditemukan, meski ayah mertuaku berada 1 ahad di Jakarta untuk mencarinya.

Kisah Mistis Misteri Nyata Terkena Santet Dan Cara Mengobati Terkena Santet

Bulan ke 6 saya sakit, ibu mertuaku berinisitaif untuk mengumpulkan anak yatim sejumlah 41 orang di rumahku dan mengadakan pengajian. Itu berdasarkan saran dari seorang kyai dari Medan. Menurut Kyai itu, penyakitku gres akan sembuh bila suamiku pulang. Artinya obat dan penyakitku itu ada pada suamiku. Semua keluargaku bergotong-royong tidak mengerti apa maksud dari perkataan Kyai itu. Tapi mereka tetap mengumpulkan bawah umur yatim untuk mengadakan doa bersama.

Hanya berjarak satu ahad sesudah doa bersama 41 anak yatim itu digelar, suamiku benar-benar pulang. Ia kembali dengan isak tangis dan penyesalan yang mendalam. Suamiku menangis dihadapan ibunya, ayahnya dan semua keluargaku. Saat itu saya tidak mengetahuinya, saya hanya mendengar dongeng dari keluargaku. Di hadapan keluargaku, suamiku menjelaskan semuanya. Semua yang terjadi selama Ia menghilang.

Aku tidak ingin menjelaskan apa yang bergotong-royong terjadi dengan suamiku. Karena ini menyangkut malu keluarga. Kami juga mengenal perempuan itu dengan baik, lantaran ia juga sudah dianggap sebagai saudara kami. Yang pasti, saya telah disantet oleh seorang perempuan yang selama ini menjadi selingkuhan suamiku, Wanita itu berniat melenyapkanku untuk selamanya dan merebut suamiku dan seluruh harta kekayaan yang dimiliki suamiku.

Yah, kami memang termasuk orang berada di lingkungan kami. Mertuaku dan orang tuaku yaitu onang-orang terpandang di Iingkunganku bahkan hingga ke kota. Kami punya banyak perjuangan dan suamiku mewarisi banyak harta kekayaan mertuaku. ltulah yang menciptakan perempuan selingkuhan suamiku itu lupa diri. Suamiku sendiri ketika itu tahu, kalau perempuan itu hendak menyantet aku. Tapi ia tak berdaya, mirip kerbau yang dicucuk hidungnya.
itulah kisah misteri dongeng mistis terkena santet dan cara mengatasi serangan santet sehingga selamat
Jangan lewatkan tanaman hias yang sanggup menangkal santet

Beruntung saya sanggup lolos dari serangan santet itu. Mestinya, tak usang sesudah saya muntah-muntah dan kala itu saya sudah harus menghembuskan nafas terakhirku. Tapi lantaran saya juga punya tameng diri dari kejahatan gaib, saya masih sanggup lolos dari penyakit asing itu. Meski saya kemudian kehilangan ingatanku, saya juga masih sanggup sembuh berkat derma dan doa orang-orang yang mencintaiku.sumber:misteri
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor