Kisah Konkret Ritual Menerima Ilmu Terbang Dan Mengecil Ibarat Debu

Cerita Mistis Nyata Kisah Misteri Ritual Untuk Mendapatkan Ilmu Terbang

Gunung Dempo tetap sunyi. Semilir angin barat senja itu meniup dedaunan pepohonan angsana. Kami bersebelas terbuai oleh lembutnya bayu. Tak ayal menciptakan mata kami menjadi mengantuk. Tetapi kami tidak boleh tertidur. Jika tidur, maka, kami semuanya akan binasa. Harimau Penthera akan menerkam kami. Daging lembut kami akan menjadi santapan Si Raja Gunung itu. “Tidur, berarti mati!” pekik Ki Langit Sabana, guru spiritual kami, mengingatkan.
 Ki Langit Sabana tidak lain yakni pemegang ilmu linuwih Tapa Debu yang berjulukan Hamid Jamaludin, sebutlah begitu, seorang mantan perwira tinggi Angkatan Darat yang bisa menghilang melenyapkan diri dan terbang bagaikan debu. Di bawah ini, kisah lengkap Tapa di gunung Dempo, yang dilakukan 2011 lalu.

Jantungku berdetak hebat pada ketika hujan kerikil turun menimpa angsana. Batu kerikil kali sebesar kepala jatuh dari langit. Hujan batu, hujan yang tidak lazim terjadi dan dialami oleh kalangan praktisi supramistik. Termasuk aku, seorang yang lemah dan fakir yang telah 20 tahun memasuki usang mistik, dunia supranatural yang belakangan dianggap gila oleh sebagian keluargaku.

Hujan kerikil itu, ternyata yakni sinyal gaib dari kaki langit Bahwa, perjuangan itu mendapat restu dan siap dilaksanakan, pada malam yang telah ditentukan, yaitu Selasa Pahing, pukul 24.00, tanggal 4 Januari 2011, beberapa hari sesudah heboh perayaan Malam Tahun Baru Masehi, di mana kami semua sudah standby di atas Gunung Dempo, gunung yang berketinggian hampir 3000 meter dari permukaan maritim ini.

Sebenarnya saya tidak boleh keras oleh ayah dan ibuku untuk berguru ilmu Kambayan Sugiang ini. Sebuah cabang ilmu gaib yang bukan cuma bisa melenyapkan diri sendiri, tapi juga bisa masuk ke alam gaib, alam Ayunan Rahman, kemudian mendapat kunci pintu alam Bangiang Garaeng, alam debu, suatu dunia setengah positif di balik dunia nyata. Alam Bagiang Garaeng itu adanya di atas Gunung Dempo, Pagara lam, Sumatera Selatan, tempat di mana kami melaksanakan pertapaan.

Sebagai seorang guru besar Universitas Mahayana, Semarang, katakanlah begitu, yang mengutamakan hal rasional di dalam kiprah kerjanya, maka ayahku sangat tidak menyukai dunia mistik. Dunia gaib baginya yakni kienik, dunia irasional yang menggiring seseorang mejadi gila.

“Sinting, benar-benar sinting kami nantinya,” kata ayahku, ketika mengetahui bahwa saya akan masuk ke kelompok Rajutalam, komunitas pelaku gaib yang mengakibatkan tempat Sumatera Selatan sebagai basis utama.
“Tidak Papa, saya harus berangkat ke Gunung Dempo dan apapun yang akan terjadi, akan saya hadapi di sana, hal ini sudah menjadi konsekuensi logisku sebagai seorang praktisi supranatural,” desisku, ketika ayahku mencegat saya untuk berangkat. Begitu juga dengan ibuku, hingga beliau menangis, menghimbau biar saya tidak berangkat ke tempat sangat berbahaya dan baginya mengerikan itu.

Aku menghambur, mencium kaki ayah dan kaki ibuku.Aku sangat memohon restu mereka berdua, memohon ijin mereka yang yang terpenting, saya sangat memohon doa dan mereka biar usahaku berhasil dan saya pulang dalam keadaan selamat.

Karena tekadku membaja, membatu dan hatiku sudah bundar total, maka kedua orangtuaku akhimya melepaskan aku. Mereka mengijinkan dan memberiku restu untuk pergi. Akupun segera meninggalkan rumah kami di Jalan Kartini 569 Cc, Semarang, dan saya buru-buru menghambur, melesat ke bandara Adi Sumarmo kemudian terbang ke bandara SoekarnoHatta Jakarta lanjut ke bandara Sultan Mahmud Badarudin di kota Palembang.

Kisah misteri dongeng mistis laris ritual untuk bisa terbang


Dari bandara Sultan Mahmud Badarudin, Talangbetutu, saya menyewa taksi sedan Toyota Altis berjalan selama empat jam meleweti jalur 300 kilometer menuju Pagaralam, Lahat. Setelah hingga di Kota Pagaralama, saya menyewa sepeda motor untuk naik ke kaki Gunung Dempo. Di Blok timur Cilpilak, sudah menunggu lima sahabat dari Brunai Darussalam, dua sahabat dari Malaysia dan tiga sahabat dari Australia. Mereka sudah memasang tenda dan mengakibatkan blok cilpilak sebagai perumahan darurat, hingga hari ritual sakral itu datang.

Setelah dua hari kami di barak, barulah pemimpin sekte datang. Hamid Jamaludin, seorang tentara berpangkat jenderal bintang dua purnawirawan, pemimpin ritual, seseorang yang punya kemampuan gaib mumpuni,.punya ilmu pecah jiwa, ilmu linuwih dan pemegang pintu kelimuan mahaguru supranatural Java Mantra.

Jenderal pensiunan Hamid Jamaludin yakni tentara yang bisa menghilangkan,melenyapkan dirinya dan menciptakan panik para musuh ketika beliau perang melawan Fretilin di TimorTimur tahun 76 lalu. Sudah ratusan Serdadu Fretilin mati di tangannya dan jantung musuh itu beliau makan dengan sadis.

Jantung itu dimakan supaya semakin ganas dan berani masuk ke kantong musuh dan beringas untuk menghabisi dengan dingin. Jika tidak, tentara kita akan menjadi takut bahkan banyak pula yang disersi di Timor Timur alasannya yakni takut menghadap serdadu Fretilin yang ganas juga sadis.

“Kini, sesudah berhasil menghancurkan serta menciptakan Ftetilin mengalah dari Timor Timur masuk ke pangkuan Indonesia, barulah sayameninggalkan kebiasaan memakan jantung insan itu dan saya bertobat,” ungkap Pak Jenderal Hamid Jamaludin, kepadaku.

yang menciptakan saya terkagum-kagum kepada Pak Hamid Jamaludin ini, beliau tidak tiba dengan pesawat atau kendaraan apapun ke Gunung Dempo ini dari Jakarta. Tetapi beliau tiba dengan Ilmu Ringan Tubuh, terbang dari Jakarta menyeberang di atas Kepulauan Seribu kemudian terbang ke Pagaralam, Sumatera Selatan.

Ilmu Pak Hamid Jamaludin sangatlah tinggi dan Iinuwih. Namun, beliau tidak pernah menyombongkan diri, beliau yakni seorang yang sangat sederhana, bersahaja, merendah dan tawaddu. Tingkat sifat pasrah, berserah diri dan bergantung nya kepada Tuhan Azza Wajalla begitu tinggi. Dia seorang sufi sejati, yang sangat bersahabat dengan Tuhan dan sangatlah mengasihi Tuhan melebihi siapapun. Mungkin kedekatannya itu sanggup mendekati walau tidak sama, dengan kedekatan para rasul kepada Tuhan Azza Wajalla.

Namun, Pak Hamid Jamaludin tidak pernah sedikitpun mengungkap kedekatan itu. Tidak sekalipun beliau membuka belakang layar bagaimana beliau berulang kali bertemu dengan para wali, dengan para rasul di dalam ritual sakralnya, di kamar gelapnya di rumahnya yang besar di Menteng, Jakarta Pusat.

Karena kedekatannya dengan para Malaikat pula, atas ijin Allah, maka Pak Hamid Jamaludin mengetahu apa yang tidak diketahu? banyak orang. Dia mengetahui apa yang orang lain tidak tahu. Dia sangat tahu apa yang orang lain tahu. Maka itu, ilmu Weruh Sakdurunge Winarah, ilmu mengetahui sesuatu yang akan terjadi di depan, ramalan, beliau sangatlah ahli.

Pak Hamid Jamaludin banyak mengetahui apa yang akan terjadi di depan. Contoh soal, ramalannya ihwal kejatuhan Pak Harto, di mana ketika itu Pak Harto sedang kuat-kuatnya, menciptakan banyak pejabat tercengang, ketika beliau katakan bahwa Pak Harto akan jatuh dengan modus mengundurkan diri. Gerakan mahasiswa akan menduduki DPR dan terjadi huru hara besar di beberapa kota besar di Indonesia secara serempak. Hal itu diungkapkannya pada Desember 1997 dan setahun kemudian, apa yang dikatakannya yakni benar adanya. Di beberapa kota terjadi bakar-bakaran, huru hara dan Pak Harto menyatakan berhenti sebagal presiden.

Contoh soal lain, ramalan yang sangat jitu sebelum tsunami besar melanda Aceh, di mana sebulan sebelumnya Pak Hamid Jamaludin melihat gempa besar di ujung Aceh dan gempa itu meledakkan ombak besar kemudian mematikan ratusan ribu nyawa manusia. Hal itu diungkapkannya kepada beberapa menteri, tapi menteri tidak percaya ramalan itu. Begitu benar terajadi, barulah menteri itu sujud mencium tangan Pak Hamid Jamaludin. Hingga sekarang, Pak Hamid selalu dimintai pendapat ihwal beberapa calon pemimpin dunia oleh para menteri.

Kami semua mendengarkan ramalan-ramalan Pak Hamid sebagai sebuah kelakar. Dia memberikan apa yang beliau lihat di depan nanti, sebagai sebuah percandaan, tetapi dari pencandaan itu, kami semua menyimak, apa bahu-membahu yang akan terjadi yang menjadi inti dari pembicaraannya. Terkadang Pak Hamid Jamaludin menunjukkan Kultum, khotbah-khotbah dengan cara yang bersahaja, sederhana dan mengena di hati kami semua.

Apabila sahabat dari Australia tidak mengerti, maka Pak Hamid akan menerangkannya dengan Bahasa Inggris. Bahasa lnggrisnya sangat fasih dan lancar, ‘begitu juga dengan bahasa Jerman, Jepang, Belanda dan Bahasa Spanyol.

Teman-teman dari Australia tertarik kepada komunitas ini alasannya yakni sosok Pak Hamid Jamaludin yang sakti. Mereka yang jauh-jauh tiba dari Sydney itu, ingin menggali ilmu tradisional waraisan bangsa Indonesia yang hingga kini ini sudah nyaris punah. Ilmu gaib warisan masa kemudian bangsa Jawa dan Bangsa Melayu Indonesia itu, nyaris hilang dan mereka yang tiba dari Australia itu ingin memindahkan ilmu itu ke Negeri Kanguru.

Tanggal  4Januari 2011, hari Selasa Pahing, ritual sakral dimulai. Kami melaksanakan upacara gaib itu di tengah malam, sempurna pukul 24.00 di atas Gunung Dempo. Rasa cuek menggigit sekujur tubuh, kami semua pada mulanya menggigil alasannya yakni kedinginan. Namun, ajaib, sesudah mengambil wudhu, kami keluar tenda dan berkumpul di bawah pohon kayu tembesu umun 5000 tahun di blok pangkiliang, di lima level di atas perkemahan kami. Rasa cuek tiba-tiba lenyap dan tubuhpun berkembang menjadi hangat.

Cerita mistis positif kisah misteri ritual untuk bisa terbang


 Walau udara pegunungan tentu sangat dingin, hanya 8 hingga 9 denajat celsius sesuai petunjuk yang tertera di termometer.Semua anggota dituntut untuk higienis hati kepada sesama manusia, higienis hati kepada Tuhan Azza Wajalla, kemudian memusatkan konsentrasi kepada kekuasaan, kekuataan dan keagungan Tuhan Subhanahuwatallah. Kami semua diminta untuk menanggalkan sifat lahiriah duniawi, namun masuk ke alam antasukma, alam antah barantah yang selama ini saya tidak tahu sama sekali ada alam bersahabat bumi, namun tidak terlihat dari bumi. Alam itu yakni Alam Ayunan Rahman, alam nirwana tepi dunia, nirwana percobaan sebelum menanti nirwana sesungguhnya di alam abadi nanti.

Ketika Jenderal Hamid Jamaludin menepukkan tangannya, kami semua membuang fikiran kemudian melepaskan fikiran itu menuju satu titik. Titik nol, titik di mana semuanya mencicipi seakan kembali ke dalam rahim ibu. Mantra-mantra linuwih yang diberikan jenderal Hamid Jamaludin, kami baca dan hayati secara seksama. Saat itu lah, roh kami keluar dari jasad dan kami menyatu terbang di dalam gelap, di dalam cuek dan cuaca pegunungan yang sangat lembab.

Semua itu kami sanggup rasakan, bukan sanggup dilihat. Namun semua menemukan pengalaman yang sama. Pengalaman batiniah dan rohaniah yang sekaligus bersatu padu. Kami mencicipi perpegangan tangan dengan sosok Pak Hamid Jamaludin yang memimpin di kepingan terdepan. Seperti seorang imam di dalam sholat. Sebagai makmum, kami mengikuti dari belakang dan kami terbang entah arah ke mana, tak ada satupun di antara kami yang tahu, kecuali Jenderal Hamid Jamaludin,

Setelah beberapa jam terbang, kami menemukan sinar kuning kemerahan, matahari yang menunjukkan bias sinar dari timur. Bola dunia terlihat bundar dan sinar itu semakin terang dan terang sehingga kami melihat bulatan globe bumi yang utuh.

Selain nampak gambar daratan dan laut, samudera, kami juga mencicipi betapa anggunnya dunia, bumi, alam fana yang akan hancur pada hari selesai zaman nanti. Lalu kehancuran itu akan membinasakan seluruh makhluk, seluruh yang bernyawa akan mati, hancur total oleh mega dahsyatnya tragedi sebagai alasan Tuhan SWT untuk mensyahkan hari kiamat.

Apa yang tertangkap oleh mata, ternyata lebih dahsyat jauh dibandingkan dengan apa yang ditangkap oleh rasa. Semua berjalan dan bergerak dengan rasa, hati, jiwa, ruh yang lebih mulia dan yang mulia. Lebih positif dan pada apa yang dilakukan dengan penglihatan mata. Maka itu, kami semua tidak merasa aneh lagi, bahwa seseorang yang matanya dibutakan oleh Tuhan alasannya yakni kecelakaan atau suatu penyakit, Tuhan akan membukakan kepekaan rasa, indera ke enam bahkan indera ke tujuh yang supertajam, bisa memandang lebih jauh, lebih tajam dari pada apa yang secara fisik tertangkap oleh dua bola mata.

Kami tidak tahu hari apa dan tanggal berapa, yang terperinci kami semua terlepas dari bumi, masuk ke suatu alam yang sebut saja alam Ayuran Rahman, alam milik Tuhan Azza Wajalla yang selama ini sangat rahasia.
“Secara fisik dan alamiah, insan akan tahu bila mencari, kemudian menemukan alam belakang layar yang diberikan Tuhan SWT bila kita meminta dan total berdoa sambil ikhtiar.


 Tidak ada yang mustahil kita temukan dari sejuta belakang layar itu jikalau kita sungguh-sungguh ingin mengetahuinya. Ingat, Tuhan berpesan kepada insan udunni astajim lakum, berdoalah dan mintalah kepada-Ku, kata Allah, saya akan mengabulkan pintamu itu. Jadi, bila kita sungguh-sungguh, menyerupai pepatah Arab menyebut, manjaddah wajadah, barang siapa sungguh-sungguh, akan mendapatkannya, itulah yang saya lakukan dulu, hingga, Alhamdulillah, mendapat semuanya ini,” desis Jenderal Hamid Jamaludin, sesudah kamj keluar dari alam Ayunan Rahman tersebut.

Tentang suasana pada alam Ayunan Rahman, jujun agak sulit diceritakan. Karena kami diwanti-wanti, untuk tidak mengumbar akan keaadan yang super indah tersebut.
Jenderal Hamid Jamaludin meminta kepada kami untuk tidak membuka semuanya. Sebab, bila itu dibuka, dikuatirkan akan menciptakan kehebohan, kegaduhan spiritual yang akan menjadi kontraproduktif. Bagi pelaku ilmu syareat dan hakikat, cukuplah menekuni serius keilmuan dan jalan ibadah inti itu.

“Jalanilah dengan balk dan benar, jujur serta tulus ikhlas. Sedangkan yang kita jalani yakni ilmu selesai ihwal ke-Tuhanan, yaitu ilmu makrifatuilah, ilmu yang bisa memisahkan jasad dan roh, pecah jiwa, rogoh sukmo untuk mendekatkan diri kepada Allah. Makin berserah diri bergantung, menggantungkan diri serta mempasrahkan seluruh jiwa raga total kepada Sang Pencipta, Tuhan Yang Agung, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

“Ingat, Tuhan tidak akan menunjukkan kepingan kecil ilmu-Nya sekecil apapun, sebiji kermunting untuk manusia, jikalau insan itu tidak berusaha mendekat dan meminta kepada-Nya, untuk mengetahui sesuatu yang sedikit dari maha luas, mega samudra kekuasaan serta keb├Ęsaran-Nya. Tuhan Karim!” imbuh Jenderal Hamid, kepada kami.

Adapun zikrullah utama yang terus diungkap sepanjang ritual sakral aclalah: zikir, subhanallah, Alhamdulillah, Lailahaillah, Aliahu Akbar. Ziki ini nyaris tidak boleh terputus, terus diucapkan setiap kali kita ingat, setiap kali bernafas, setiap kali jantung berdetak dan setiap terjaga dan tidur.

Tentang mengapa harus dilakukan di atas gunung yang dingin, tengah malam, sunyi, tanpa lampu dan angin yang kencang. Jenderal mengatakan, bisa saja dilakukan di kota-kota, di desa atau di perkampungan umum. Akan tetapi, konsentrasi insan akan sulit tercapai bila dilakukan di tempat keramaian, ada suara, ada bunyi berisik dan ada kemudian lalang kehidupan.

“Ritual ini dilakukan di puncak Gunung Dempo, alasannya yakni gunung Dempo yakni tempat yang dingin, sepi, sunyi dan gunung ini merupakan paku, paku dari tegaknya Pulau Sumatera. Gunung ini mengikat Bukit Barisan yang memanjang dan selatan ke utara, menjahit Pulau Sumatena dan mengokohkan pulau ini, hingga tidak terbelah oleh gempa sebesar apapun.

Gunung Dempo memang gunung berapi dan sangat berbahaya bagi kehidupan, tetapi, Penghuni Gaib gunung in Eyang Bawu Rekso, Kakek Sangkil Ahmad, sahabat sejatinya saya, menjadi belahan jiwa yang selalu pundak membahu menjaga bumi dari kehancuran tangan insan yang tamak. Maka itu, tempat gunung ini tidak boleh untuk eksploitasi besar besaran, walau di sini banyak emas dan benda berharga yang bisa untuk membayar hutang negara,” dongeng Jenderal Hamid Jamaludin, ketika kami bersiap meninggalkan Gunung Dempo dan kembali ke rumah masing-masing.

Di luar dugaan, usai ritual itu, kami semua bisa mengecilkan diri menjadi sebutin debu. Semuanya mengecil dan melayang terbang dari gunung kemudian pulang ke rumah masing-masing. Ada yang pulang ke Brunai, Malaysia, Jakarta dan Semarang. Bahkan, sahabat yang pulang ke Sydney, menjadi debu kecil melayang ke Australia.
Setelah sampai, mereka menelpon dan menceritakan terbang penerbangan debu itu di atas Sam udera Hindia yang luas. Mereka mendarat di atas menara Pulau Chrismas kemudian melanjutkan terbang gedung Opera House dan jembatan Victoria Bridge di Sydney. Australia, kemudian pulang ke rumah mereka masing-masing di bersahabat Kingcross Street View. Kisah ini dialami oleh Yulianti Maizuki sumber:misteri
itulah kisah misteri dongeng mistis positif ritual untuk mendapat ilmu terbang orisinil
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor