Perpustakaan Kisah Legenda Rakyat Indonesia

Perpustakaan Cerita Legenda Rakyat Indonesia

www.expobia.id menyebarkan banyak dongeng legenda rakyat setiap harinya yang selalu update,jika ingin melihat koleksi semua dongeng legenda yang sudah tersedia KLIK DISINI DAFTAR KUMPULAN CERITA LEGENDA RAKYAT INDONESIA.Dari aneka macam dongeng rakyat yang kami posting mungkin belum pernah kalian dengar atau baca.

Cerita legenda rakyat update hari ini akan menyebarkan kisah dongeng rakyat Sendang Klangkapan.seperti apa kisah menariknya,langsung kita simak.
 

Cerita Legenda Rakyat Sendang Klangkapan Desa Margodadi, Sayegan, Sleman
 Perpustakaan Cerita Legenda Rakyat Indonesia  Perpustakaan Cerita Legenda Rakyat Indonesia

CERITA RAKYAT.Warga desa pun geger. Di bawah pohon beringin besar yang sudah lingkap atau terkelupas, tepatnya, di bekas tempat seluruh warga desa kemarin buang air kecil, tibatiba, muncul dua buah mata air yang mengalirkan air sedemikian jernih...

Warta berkisah. Pada zaman dahulu, Ki Tunggulwana, lelaki budiman dan rendah hati itu dkenaI sebagai sosok yang mula pertama membuka lahan yang dahulunya hutan menjadi tempat pemukiman dan persawahan.

Seiring dengan perjalanan sang waktu, hutan yang semula menakutkan dan menakutkan lantaran dihuni oleh binatang buas dan makhluk halus pemangsa insan itu berkembang menjadi ramai.
Ki Tunggulwana hanya tersenyum senang ketika melihat para pendatang sanggup memetik hasil ladang atau panennya dengan wajah yang sumringah. Hatinya hanya sanggup memanjatkan rasa syukur tak terhingga atas segala karunia yang diberikan oleh Yang Maha Tunggal hatinya pun berbisik, tempat ini akan terus subur, tenang dan sejahtera, asalkan, seluruh warga masyarakatnya hidup saling tolong menolong dan selalu mensyukuri apa yang dikaruniakan oleh-NYA.

Hingga pada suatu hari, usai panen, beberapa warga masyarakat tiba ke rumah Ki Tunggulwana. Salah seorang dari mereka mengusulkan; “Ki Tunggulwana,seyogyanya, kita seluruh warga mengadakan upacara higienis desa sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia-NYA.”
Ki Tunggulwana hanya tetsenyum. Keningnya berkerut seolah memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, terdengar suaranya; “Baik ... segera persiapkan segala sesuatunya, kita akan mengadakan upacara higienis desa tepat pada Anggara Kasih (Selasa Kliwon).”

Cerita Rakyat Dongeng Nusantara Kisah Terciptanya Sendang Klangkapan


Hari yang dinantikan pun tiba. Seluruh warga masyarakat berkumpul di depan rumah Ki Tunggulwana dengan membawa pelbagai hidangan. Usai doa dipanjatkan, maka, semua yang hadir bisa eksklusif menyantap atau terlebih dahulu saling tukar hidangan. Dan pada ketika itulah, muncul, sepasang insan berpenyakit kulit dan mengenakan pakaian yang telah lama dan kotor.Baunya sangat menusuk hidung!

“Tuan ... berilah hamba makan,” demikian kata keduanya bersamaan sambil mengangsurkan tangannya.
“ih ... baunya,” kata beberapa orang yang eksklusif menjauh sambil menutup hidungnya.
Walau beberapa kali mencoba, alih-alih mendapat sekãdar makanan, semua yang didekati eksklusif pergi dengan wajah sinis.

Karena merasa terganggu dengan kedatangan keduanya, beberapa orang warga yang dikenal sok jagoan, Iangsung saja bersikap sinis. Salah saorang dari mereka yang berjulukan Jagal Kasusra, mencoba rnengusfr kedua tamu tak diundang itu dengan kasar.

“Pergi kalian pengemis busuk!”
Kedua orang itu seolah mengacuhklan apa yang dikatakan oleh Jagal Kasusra. Akibatnya, lelaki itupun makin naik pitam.
“Ah ... sekali ini Jagal kena batunya,” demikian sindir teman-temannya.

Merasa dipermalukan di depan orang banyak, maka, Jagal Kasusra pun eksklusif menghajar keduanya hingga tewas. Pada ketika itulah, Ki Tunggulwana tiba dan menegur Jagal Kasusra; “Kenapa Kisanak bunuh? Bukankah semenjak semula saya sudah mengingatkan supaya yang hidup di kampung ini harus saling tolong menolong.”

Jagal Kasusra tak menjawab. Hatinya masih marah. Namun, Ia tak berãni melawan Ki Tunggulwana, lelaki budiman yang kharismatik dan konon menguasai ilmu kanuragan yang sangat mumpuni.Ia hanya bisa tertunduk lesu....

“Sekarang, makamkanlah keduanya dengan cara yang semestinya,” lanjut Ki Tunggulwana di depan banyak orang, kemudian berjalan kembali ke rumahnya dengan perasaan masygul.
Beberapa orang pun eksklusif mendekat dan mengangkat jasad kedua pengemis itu. Belum lagi jasad itu terangkat dengan sempurna, kembali Jagal Kasusra bersama dengan beberapa temannya menciptakan ulah.
“Buang saja ke sungai. Kenapa kita yang jadi sibuk dengan janjkematian dua gembel ini,” gerutu Jagal Kasusra.
Mereka merampas jasad pengemis itu, kemudian menyeretnya dengan agresif dan menghanyutkannya di sungai yang mengalir di tepian desa.

Sementara itu, mereka yang mengangkat jasad pengemis itu melaporkan insiden yang gres saja dialaminya kepada Ki Tunggulwana.Sambil menarik napas dalam-dalam untuk menahan gejolak amarahnya yang kian membuncah, lalu, Ki Tunggulwana pun berangkat ke sungai untuk mencari kedua jasad yang gres saja dihanyutkan oleh Jagal Kasusra.

Tapi apa daya, walau hampir seluruh warga desa turun ke sungai, setiap cekungan diperhatikan dengan saksama, namun, jasad itu tak jua diketemukan.
Walau telah diulang sampal tiga kali, tapi, kedua jasad itu hilang tak berbekas seolah raib ditelan bumi. Dengan perasaan menyesal yang teramat sangat, Ki Tunggulwana beserta dengan seluruh warga desa kembali ke rumahnya masing-masing.
Empat puluh hari kemudian, musibah pun datang!

Tanpa lantaran yang jelas, seluruh binatang tennak mendadak Iumpuh dan terjangkit penyakit kulit. Melihat insiden yang tak biasanya itu, Ki Sura, salah seorang penduduk desa tiba menghadap Ki Tunggulwana untuk menceritakan apa yang terjadi.
“ini semua berkait dengan janjkematian dua orang tak bersalah ketika kita sedang melaksanakan upacara higienis desa kemarin,” demikian kata Ki Tunggulwana.

“Untuk itu, mandikanlah ternak kalian di sungai yang terkletak di pinggiran desa itu,” imbuhnya lagi.
Dengan cepat, Ki Sura memberitahukan apa yang disarankan oleh Ki Tunggulwana kepada seluruh penduduk desa. Tapi apa daya, sungai yang dituju oleh seluruh penduduk desa kering airnya. Semua yang tiba ke sungai hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan mendesah; “lni semua gara-gara ulah Jagal Kasusra.”

“Benar ... ulahnya menciptakan kita semua sengsara,” timpal yang lain pula.
Untuk mencegah emosi warga, maka, Ki Sura kembali menghadap Ki Tunggulwana. Usai menceritakan apa yang dilihatnya, terdengar gumam lirih Ki Tunggulwana; “Hal ini pernah pula terjadi di Desa Tempel. Tenangkan seluruh warga, dan jangan ganggu aku.”

Di tengah-tengah kegalauan yang melanda desa tersebut, tanpa ada yang tahu, Ki Tunggulwana pergi ke suatu tempat untuk melaksanakan tapabrata. Entah berapa lama Ia menghilang.
Tapi, sekembalinya dari tapabrata, Ki Tunggulwana seluruh mengumpulkan seluruh warga desa dan berkata; “Pertama, kita harus selalu mengungkapkan rasa syukur setiap tahun dengan cara higienis desa, kedua, seluruh warga harus bisa menjaga perilaku dan tidak menyakiti makhluk lain, ketiga, harus selalu taat beribadah kepada Gusti Allah.”

“Dengan begitu, maka, Ngara-ara (nama tempat tersebut waktu itu), dan Sayegan, tidak akan terkena peristiwa yang serupa. Dan yang terakhir, semua warga, laki-laki, perempuan, besar, kecil, tua, muda, harus buang air di bawah pohoin beringin itu,” tunjuk Ki Tunggulwana.
Semua yang hadir hanya bisa tunduk. Tak ada yang berani melihat wajah Ki Tunggulwana apalagi balik bertanya. Dan sehabis itu, sebagian dari mereka ada yang kembali ke rumahnya, sementara, yang Iainnya eksklusif buang air kecil di bawah pohon beringin renta itu...

Cerita rakyat dongeng anak nusantara 


Esoknya, kegemparan pun terjadi di desa itu. Betapa tidak, di bawah pohon beringin renta itu, mendadak muncul dua buah sendang atau mata air. Mata air yang besar yang terletak di sebelah utara selanjutnya dikenal dengan sebutan sendanglanang (sendang laki-laki), sedang, sendang yang lebih kecil yang terletak di sebalah selatan dikenal dengan sebutan sendang wadon (perempuan).

Beberepa orang yang keheranan eksklusif melaporkan apa yang terjadi kepada Ki Tunggulwana. Mendengar penuturan warga, Ki Tunggulwana hanya terdiam. Hatinya berbisik, “Semua itu sudah tergambar dengan terperinci dalam tapabrataku kemarin.”
itulah dongeng rakyat dongeng nusantara wacana asal mula terciptanya sumber air sendang
Baca Juga kisah sejarah tembakau serintil yang populer mahal

Akhirnya, bersama dengan beberapa orang warga, Ia pun berangkat menuju ke sendang yang dimaksud. Setibanya di sana, Ki Naya pun berkata dengan santun; “Tolong Ki Tunggulwana menunjukkan nama kepada sendang-sendang ni.”
Setelah sejenak terdiam, akhirnya, Ki Tungguwana pun berkata; “Karena terletak di bawah pohon beringin besar yang sudah Iingkap atau terkelupas, maka, sendang ini dibeni nama Sendang Klangkapan.”
Semua yang hadir mengangguk tanda setuju. Sampai ketika ini, Sendang Klangkapan yang terletak di Desa Margodadi, Sayegan, Sleman itu masih sering didatangi banyak orang untuk mengalap berkah. Terutama, pada malam Selasa Kliwon atau Anggara Kasih.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor