83. Mani (216 - 276)

83. MANI (216 - 276)

"Nabi" Mani dari periode ke-3 M ialah pendiri Manichaeisme, semacam "agama" yang kendati sudah melenyap kini, pada jamannya punya aneka macam pengikut. Berasal dari Timur Tengah, Manichaeisme menyebar luas. Ke barat hingga menyentuh pantai Samudera Atlantik, ke timur hingga menyentuh pantai Samudera Pasifik. Agama itu sanggup bertahan hingga ribuan tahun.

Agama yang didirikan Mani merupakan gabungan menarik dari pelbagai macam agama yang sudah ada sebelumnya. Mani mengakui Zoroaster, Buddha, dan Isa selaku nabi sejati. Tapi, ia mengaku sanggup "wahyu" yang lebih belakangan dan lebih komplit dari semua mereka yang disebut duluan.

Kendati unsur Buddha dan Nasrani ada terasa dalam agama Mani, kepercayaan yang paling mengesankan (paling sedikit buat orang Barat) berasal dari Zoroaster yang dualistis. Mani mengajarkan bahwa dunia tidaklah diperintah zat kekuasaan tunggal, melainkan cuilan dari pertarungan terus-menerus antara dua kekuatan. Salah satu daripadanya ialah pokokpokok kejahatan yang oleh Mani diidentifisir dengan kegelapan dan benda; satunya lagi ialah pokok-pokok kebaikan yang diidentifisir dengan sinar terang dan jiwa. Secara dangkal kedengarannya menyerupai pendapat Nasrani perihal Tuhan dan Iblis; tapi, dalam faham Manichaeisme kejahatan dan kebaikan dianggap intinya punya kekuatan berimbang. Konsekuensi kepercayaan ini ialah adanya paradoks filosofis terhadap eksistensi kejahatan, yang membikin resah filosof Nasrani dan Yahudi, tapi tak ada duduk perkara sama sekali dalam anutan filosofi Manichaeisme.

Keruan saja tak ada tempat di sini menguraikan secara terperinci faham keagamaan Manichaeisrne. Tapi, haruslah disebut bahwa sebagai konsekuensi dari identifikasi mereka bahwa jiwa insan itu pokok kebaikan dan badan insan itu pokok kejahatan, penganut Manichaeisme percaya bahwa semua korelasi seksuil --meskipun untuk tujuan membikin keturunan-- harus dijauhi. Juga ada larangan-larangan makan daging dan minum anggur.

Sepintas kilas, sepertinya tidak mungkin kepercayaan macam begituan sanggup punya pengikut banyak. Tapi, larangan-larangan itu tidaklah berlaku buat anggota penganut biasa dari gereja Manichaeis, melainkan cuma berlaku buat sekelompok kecil orang yang disebut "Orang-orang pilihan." Anggota biasa yang disebut "pendengar" diijinkan punya istri atau piaraan, boleh beranak-pinak, boleh ganyang daging, boleh minum anggur dan seterusnya. Ada pelbagai upacara ibadah keagamaan yang mengikat anggota. Ada pembagi upacara ibadah keagamaan yang mengikat anggota "pendengar" untuk mengikutinya dan mereka diwajibkan mendukung golongan "orang-orang pilihan," tapi isyarat moral yang dipikulkan ke bahu mereka tidaklah keliwat memberatkan. (Tentu saja banyak pula agama lain yang melarang perkawinan bagi para pendetanya tapi tidak pemeluk-pemeluk kebanyakan). Roh para "orang-orang pilihan" pribadi masuk sorga begitu mereka mati; sedangkan jalan ke sorga buat para "pendengar" agak berbelit-belit. Tapi, beberapa sekte Manichaeis, menyerupai yang namanya sekte Cathari, percaya bahwa "pendengar" sanggup masuk sorga menyerupai halnya "orang-orang pilihan" dan sebagai tambahannya mereka peroleh semacam dispensasi selama masih hidup.

Mani dilahirkan tahun 216 di Mesopotamia yang kala itu menjadi cuilan Kekaisaran Persia di bawah kekuasaan dinasti Arsacid atau Parthian. Mani sendiri berketurunan Persia dan punya korelasi dengan penguasa Arsacid. Kebanyakan orang-orang Persia memeluk kepercayaan semacam Zoroasterianisme tapi Mani dibesarkan dari keluarga pemeluk sebuah sekte agama yang menerima efek berpengaruh dari kepercayaan Kristen. Dia sudah punya pandangan keagamaan tatkala usianya gres dua belas tahun dan mulai mengkhotbahkan agama barunya di ketika umurnya dua puluh empat tahun. Mulanya tidak begitu sukses di kampung halamannya. Tapi begitu ia melaksanakan perjalanan ke cuilan timur bahari di India dan sanggup menarik penguasa setempat jadi pengikutnya, tampaklah kemajuan-kemajuannya.

Tahun 242 ia kembali ke Persia dan ketika itu sudah punya hadirin yang mendengarkan khotbahnya termasuk Raja Shapur juga jadi pemeluk, ia sangat terkesan dengan ucapan-ucapan Mani dan mengijinkannya membuatkan agama barunya di seantero Kekaisaran Persia. (Kekaisaran yang disebut belakangan ini kadang kala dijuluki Kekaisaran Sassanid setelah sebuah kekaisaran gres didirikan sekitar 226). Sesudah kira-kira tiga puluh tahun kemudian, di bawah Raja Shapur I dan Hormizd I, Mani mengajarkan agamanya tanpa ada rintangan dan menerima pengikut dalam jumlah besar. Dalam jangka masa itu, utusan-utusan juga dikirim ke negeri-negeri lain. Tapi, keberhasilan Mani menjadikan penentangan dari kalangan pendeta agama Zoroaster yang menjadi agama resmi negara Persia di masa kekuasaan dinasti Sassanid. Sekitar tahun 276, setelah naik tahtanya raja gres yang berjulukan Bahram l, Mani ditahan dan dijebloskan ke penjara. Dan setelah mengalami siksaan selama dua puluh enam hari, Mani meninggal dunia.

Selama hidupnya Mani menulis beberapa buku: satu dalam bahasa Persia, satu dalam bahasa Suriah (sebuah bahasa Semit yang berkaitan erat dengan bahasa Aramais di ketika hidupnya Isa). Buku-buku ini merupakan buku resmi agama Mani. Sesudah agama ini musnah, buku-buku itu pun lenyap. Beberapa di antaranya gres diketemukan di periode ke-20

Dari permulaan, Manichaeisme merupakan agama yang bersemangat menarik para pengikut. Di masa Mani masih hidup, agamanya punya banyak pemeluk mulai dari India hingga Eropa. Sesudah Mani meninggal dunia, agama itu masih berlanjut penyebarannya, meluas ke barat hingga menyentuh Spanyol dan ke timur hingga menyentuh Cina di cuilan barat. Puncak kejayaannya berada di periode ke-4, yang ketika itu bersaing sengit dengan Agama Kristen. (St. Augustine merupakan seorang pemeluk Manichaeisme selama sembilan tahun). Tapi setelah Nasrani menjadi agama resmi negara Romawi, Manichaeisme dihajar habis-habisan dan disekitar tahun 600 agama itu hampir seluruhnya lenyap di benua Eropa.

Tapi, di Mesopotamia dan Iran ia masih punya kaki. Dari situlah Manichaeisme menyebar ke Asia Tengah, Turkestan dan sebelah barat Cina. Di penghujung periode ke-8 agama itu jadi agama resmi Uighurs yang membawahi sejumlah tempat belahan barat Cina dan Mongolia. Juga menyebar hampir ke seantero Cina hingga ke pantai timur dan dari situ melompat ke Taiwan. Tapi, kemajuan Islam di periode ke-7 kesannya menyapu habis Manichaesime. Mulai periode ke-8 Khalifah Abbasiyah di Bagdad dengan tegas membabat Manichaeisme dan dalam tempo singkat habislah ia di Mesopotamia dan Iran. Terhitung semenjak periode ke-9, agama itu pun merosot dengan derasnya di Asia Tengah serta penyerbuan orang Mongol di periode 13 simpel merupakan pukulan yang mematikan. Tapi, Marco Polo secara kebetulan masih menjumpai masyarakat pemeluk Manichaeisme di cuilan timur Cina tahun 1300.

Sementara itu, pelbagai sekte yang berasal mula dari Manichaeisme muncul di Eropa. Sekte Paulician muncul di tempat Kekaisaran Byzantium mulai periode ke-7. Sekte Bogomil, sekte terkuat di Balkan, menyebar di sekitar periode ke-10. Tapi yang paling menonjol di Eropa ialah Cathari (lebih populer dengan sebutan Albigensian, berasal dari nama kota Albi di Perancis yang merupakan basis kekuatannya). Di periode ke-12, sekte Chatari ini memperoleh banyak penganut di Bropa, khusus di cuilan selatan Perancis. Sekte Albigensian, meski doktrinnya lebih mendekati Manichaeisme, mengganggap diri mereka orang Kristen; pejabat gereja ortodoks menganggap mereka orang-orang murtad. Akhirnya Paus Innocent III Paus yang paling toleran dan berpengaruh di antara Paus-Paus periode tengah menyerukan "perang suci" untuk mengganyang mereka. "Perang suci" itu bermula tahun 1209; menjelang tahun 1244, setelah menjadikan banyak korban dan kehancuran yang luas di cuilan selatan Perancis, sekte Albigensian sepenuhnya dihancurkan. Tapi, sekte Catharisme tidak dihapuskan hingga periode ke- I 5 .

Tiap agama punya efek besar terhadap para pemeluknya. Atas dasar alasan ini, pendiri agama walau sekecil apa pun tidak sanggup tidak merupakan orang yang punya pengaruh. (Malangnya, tapi tidak sanggup dianggap enteng, ajaran-ajaran Mani senantiasa digasak oleh pelbagai agama besar).

Peranan pribadi Mani dalam hal mendirikan agama gres memang luar biasa. Dia dirikan itu, ia merancang teologinya dan menyusun kode-kode moralnya. Memang benar, banyak dari ide-idenya berasal dari para pemikir terdahulu, tapi Manilah yang menghimpun pelbagai aliran pikiran ini menjadi sistem gres yang jelas. Dia juga menciptakan perubahan-perubahan pada Manichaeisme dalam khotbah-khotbahnya, menyusun organisasi keagamaan dan menulis kitab-kitab suci. Jarang terjadi seorang pendiri agama punya penganut gerakan massa yang begitu hebat. Jelaslah, agama yang didirikannya tak mungkin ada di dunia tanpa kehadirannya, dan dalam kaitan ini Mani, menyerupai pemuka-pemuka agama lainnya, punya arti jauh lebih penting ketimbang para penemu bidang ilmiah.

Karena itu, Mani sudah sepantasnya peroleh tempat di buku ini: soalnya, di mana? Jelas, ia harus ditempatkan jauh di bawah para pendiri agama-agama besar (Nasrani, Islam, Buddha), yang pengikutnya bermilyar banyaknya sepanjang jaman. Di lain pihak, kendati Zoroasterisme dan Jainisme masih ada hingga kini sedangkan Manichaeisme sudah punah, sepertinya Manichaeisme pada puncak kejayaannya jauh punya pengikut lebih banyak dibanding kedua agama itu dan punya efek lebih besar bagi dunia secara umum.

Oleh alasannya ialah itulah Mani ditempatkan lebih tinggi dalam daftar urutan buku ini ketimbang baik Zoroaster ataupun Mahavira.

--------------------------------------------------------------------------------
Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor