94 Homer ± Kala Ke- 8 Sm?


 94 HOMER ± ABAD KE- 8 SM?

Berabad-abad lamanya berlangsung kontradiksi pendapat mengenai hak cipta sajak-sajak Homer. Kapan, di mana, dan bagaimana Iliad dan Odyssey dicipta?

Sampai seberapa jauh sajak itu bersandar pada komposisi sebelumnya? Apakah Iliad dan Odyssey disusun oleh orang yang sama? Betulkah salah satunya digubah oleh hanya satu penulis? Mungkin tak ada orang ibarat Homer dan kedua sajak itu yang berkembang lewat proses penggabungan begitu lambat, ataukah memang disusun oleh sekelompok pengolah yang mencomotnya dari sebuah adonan sajak-sajak yang ditulis oleh banyak ragam penyair. Para sarjana yang membuang waktu bertahun-tahun menyelidiki problem ini tidak mencapai kata setuju satu sama lain; lantas bagaimana sanggup seseorang yang bukan sarjana ilmu klasik sanggup tahu jawab yang semestinya? Tentu, saya sendiri tidak tahu jawabannya; meski begitu, untuk menentukan di mana Homer layak ditempatkan di daftar urutan buku ini, saya menciptakan asumsi sebagai berikut.

Perkiraan pertama adalah, memang benar ada seorang penulis utama Iliad. (Alasannya, terlampau cantik kalau karya itu disusun oleh sekelompok orang!). Pada abad-abad sebelum Homer, banyak sajak-sajak yang lebih pendek mengenai problem yang sama digubah oleh penyair-penyair Yunani lain, dan Homer banyak mengambilnya dari karya mereka. Tetapi, Homer berbuat lebih jauh dari sekedar merakit Iliad dari sajak-sajak pendek yang sudah ada sebelumnya. Dia memilih, ia mengatur, ia menyempurnakan kata-kata dan menambahnya serta pada balasannya melengkapinya menjadi hasil final dengan talenta sastranya yang genius. Homer, orang yang menghasilkan karya besar itu, mungkin hidup di kala ke-8 SM meski banyak catatan menganggap lebih awal dari itu. Saya juga memperkirakan bahwa orang yang sama merupakan penulis utama Odyssey. Meski argumen (berdasar sebagiannya dari perbedaan gaya) bahwa kedua sajak digubah oleh penulis-penulis yang berbeda punya kekuatan yang setara, secara keseluruhan persamaan diantara kedua sajak jauh lebih penting daripada perbedaan-perbedaannya.

Dari apa yang sudah dipaparkan, jelaslah sudah betapa sedikitnya sanggup diketahui wacana ihwal Homer sendiri; dan memang tidak ada data biografis mengenai dirinya. Ada tradisi kuno yang teramat kokoh, berasal dari masa awal-awal Yunani, bahwa Homer itu buta. Tetapi, kehebatan yang tampak secara visual dari kedua sajak itu mengatakan andaikata toh Homer itu buta, tidaklah butanya itu dibawa dari lahir. Bahasa yang dipakai dalam sajak itu mengatakan bahwa Homer berasal dari Ionia, tempat sebelah timur maritim Aegea.

Kendati sepertinya sudah percaya bahwa begitu panjang dan begitu cermat susunan suatu sajak sanggup dicipta tanpa tulisan, banyak kaum bakir pintar agaknya setuju bahwa sajak-sajak itu paling sedikit bab permulaannya dan mungkin malah seluruhnya, merupakan komposisi oral (lisan). Tidaklah niscaya kapan sajak-sajak itu pertama kali tertuang ke dalam tulisan. Mempertimbangkan segi panjangnya (secara adonan hampir berjumlah 28.000 bait), sepertinya agak sukar terbayangkan sajak-sajak itu sanggup dipindahkan dengan begitu teliti kecuali kalau ditulis dalam jangka waktu tidak begitu usang setelah penciptaan aslinya. Dalam suatu peristiwa, menjelang kala ke-6 SM, kedua sajak itu sudah dianggap karya klasik besar, dan informasi biografis menyangkut Homer sudah hilang. Setelah itu, orang Yunani senantiasa menganggap Odyssey dan Iliad merupakan hasil karya bangsa yang terjunjung tinggi. Menariknya, sepanjang masa antara kala ke kala dan semua perubahan dalam gaya yang sudah terjadi, reputasi Homer tak pernah punah.

Ditilik dari ketenaran dan reputasi Homer yang tinggi, dengan pikiran yang dag-dig-dug saya tempatkan Homer dalam nomor urutan yang begitu rendah. Hal dan alasan serupa saya lakukan pula terhadap umumnya tokoh-tokoh seni dan sastra. Tempat urutan mereka dalam daftar ini, rendah. Dalam perkara Homer, selisih beda antara reputasi dan efek sepertinya besar. Biarpun hasil karyanya sering dipelajari di sekolah, di dunia remaja ini sedikit sekali orang membaca Homer begitu mereka meninggalkan dingklik sekolah lanjutan atas atau sekolah tinggi tinggi. Ini berlainan besar dengan Shakespeare yang drama maupun sajak-sajaknya dibaca dan drama-dramanya sering dipentaskan dengan menerima pengunjung yang cukup banyak. Walhasil, betul-betul beda.

Dan Homer pun tidaklah dikutip secara luas. Meskipun kutipan Homer terdapat dalam karya Barlett, amat sedikit dipakai dalam percakapan sehari-hari. Bukan saja berbeda jauh dengan Shakespeare, juga berbeda jauh dengan penulis-penulis ibarat Benyamin Franklin atau Omar Khayyam. Kalimat ibarat "sen yang ditabung yaitu sen yang didapat", yang sering disebut orang, mungkin sebetulnya merupakan efek perilaku pribadi seseorang, bahkan suatu perilaku dan keputusan yang berbau politik. Tak ada sangkut pautnya dengan Homer apa yang banyak dikutip orang sekarang.

Kalau begitu halnya, apa lantaran Homer dimasukkan dalam daftar urutan buku ini? Ada dua alasan. Alasan pertama, jumlah orang yang makin bertambah dari kala ke kala baik yang mendengar atau membaca karya Homer memang betul-betul banyak. Di dunia masa silam, sajak Homer jauh lebih terkenal ketimbang sekarang. Di Yunani, karyanya begitu dekat dengan penduduk umum, dan dalam masa yang panjang sekali menghipnotis perilaku agama dan etika. Odyssey dan Iliad terkenal bukan semata di kalangan sastrawan intelektual, tetapi juga di kalangan militer dan pemuka-pemuka politik juga. Banyak pemimpin Romawi usang mengutip Homer, malahan Alexander Yang Agung mengempit salinan Iliad diketiaknya selama bertempur. Bahkan kini, Homer merupakan penulis pujaan di sementara sekolah, dan umumnya kita sudah baca karyanya (paling tidak sebagian) selama di sekolah.

Bahkan lebih penting lagi, mungkin, efek Homer terhadap kesusasteraan. Semua penyair-penyair Yunani klasik dan penulis-penulis drama amatlah sangat terpengaruh Homer. Tokoh-tokoh ibarat Sophocles, Euripides, dan Aristoteles --menyebut beberapa pola saja-- terbenam dalam tradisi Homer, dan semuanya mengambil pandangan gres literatur yang cemerlang darinya.

Pengaruh Homer terhadap para pengarang Romawi kuno terang besarnya. Semua mendapatkan sajaknya sebagai ukuran kesempurnaan. Tatkala Virgil --sering dianggap penulis Romawi terbesar-- menulis karya besarnya Aeneid ia dengan sadar dan atas keyakinan sendiri menyontoh kehebatan Iliad dan Odyssey.

Bahkan di jaman modern pun, nyatanya tiap pengarang penting dipengaruhi oleh Homer pribadi atau oleh penulis-penulis ibarat Sophocles dan Virgil yang keduanya amat terpengaruh oleh Homer. Tak ada penulis dalam sejarah punya efek begitu menyebar dan begitu berjangka lama.

Masalah yang paling final yaitu mungkin yang justru ruwet. Selama seratus tahun terakhir ini, sangat mungkin sekali Tolstoy lebih besar lengan berkuasa dan karyanya lebih banyak dibaca orang ketimbang Homer. Tetapi Tolstoy tak punya efek apapun selama 26 abad, sedangkan efek Homer telah berlanjut selama 2700 tahun atau lebih. Ini betul-betul masa yang teramat lama. Walhasil, Homer tak gampang ditandingi oleh tokoh-tokoh literer lainnya, bahkan oleh tokoh yang berkarya di bidang apa pun.

--------------------------------------------------------------------------------
Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat 
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor