Al-Hasan Al-Bashri

"Bagaimana mungkin suatu kaum sanggup tersesat kalau di antara mereka ada al-Hasan al-Bashri?!" (Maslamah bin Abdul Malik)

Datanglah seorang pembawa khabar gembira untuk memberikan info gembira kepada istri Nabi Ummu Salamah, bahwa budak perempuannya "Khairah" telah melahirkan anak laki-laki.

Maka berbunga-bungalah hati Ibu kaum mu'minin RA, dan kegembiraan itu telah menciptakan wajahnya yang cakap dan wibawa bersinar-sinar.
Beliau segera mengutus utusan supaya ibu dan anaknya dibawa kepadanya untuk mengisi waktu nifas di rumahnya.

Waktu itu Khairah sangat dimuliakan dan dicintai oleh Ummu Salamah. Beliau ingin segera melihat anak yang gres lahir. Tidak usang kemudian datanglah Khairah dengan menggendong anaknya.

Ketika kedua mata Ummu Salamah melihat anak bayi ini, hatinya merasa sayang dan lega. Anak kecil yang gres lahir sangat tampan dan ganteng, jauh pandangannya, tepat ciptaannya, menyenangkan orang yang melihatnya dan memikat orang yang memandangnya.

Kemudian Ummu Salamah mengarahkan pandangannya ke arah budak perempuannya dan berkata, "Apakah kau telah memberinya nama, wahai Khairah?"
Khairah menjawab, "Belum wahai Ibu. Masalah nama saya serahkan kepada engkau, supaya engkau menentukan nama yang engkau sukai."
Lalu Ummu Sa0lamah berkata, "Kami memberinya nama dengan memohon barakah dari Allah 'al-Hasan.'"
Kemudian dia mengangkat kedua tangannya dan berdo'a memohon kebaikan.

Kegembiraan dengan lahirnya Al-Hasan bukan hanya sebatas di rumah Ummul mu'minin Ummu Salamah RA saja, akan tetapi juga hingga ke rumah yang lain di Madinah. Yaitu rumah seorang teman besar Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu Rasulullah SAW.
Kaitannya, alasannya "Yasar" ayah anak bayi ini ialah budaknya juga dan termasuk orang yang paling dia hormati dan dia cintai.

Al-Hasan bin Yasar yang kemudian dipanggil dengan Al-Hasan Al-Bashri berkembang besar di salah satu rumah Rasulullah SAW. Dia terdidik di pangkuan salah seorang istri Nabi SAW, yaitu Hindun binti Suhail yang dikenal dengan Ummu Salamah.

Bila anda ingin tahu, ketahuilah bahwa Ummu Salamah ialah perempuan arab yang paling tepat nalar dan keutamaannya serta paling keras kemauannya.
Selain itu, dia juga termasuk istri Rasul yang paling luas ilmunya dan banyak meriwayatkan hadits darinya.

Beliau meriwayatkan dari Nabi SAW sekitar tiga ratus delapan puluh tujuh hadits.
Hal lainnya, dia termasuk perempuan yang jarang ditemukan yang sanggup menulis pada zaman jahiliyah.

Hubungan anak bayi ini dengan Ummul mu'minin bukan hanya hingga di sini. Akan tetapi memanjang lebih jauh dari itu. Khairah ibu al-Hasan waktu itu banyak keluar rumah dalam rangka mengerjakan kebutuhan Ummul mu'minin, dan anak yang masih menetek ini pernah menangis alasannya lapar dan tangisnya semakin keras, maka Ummu Salamah mengambilnya dan memangkunya dan menyuapinya dengan tetek (mengempeng), supaya anak itu bersabar dan sibuk dengannya sambil menunggu ibunya.

Saking cintanya Ummul mu'minin kepadanya, teteknya malah mengeluarkan air susu dan mengalir ke mulutnya, maka anak itu menetek dan membisu karenanya.
Maka dengan demikian Ummu Salamah menjadi ibu bagi Al-Hasan dari dua arah; dia ialah Ibunya alasannya dia termasuk orang yang beriman (Ummul Mu'minin). Dan dia ialah Ibunya alasannya menyusui juga.

Hubungan Ummahat mu'minin yang erat dan rumah-rumah mereka yang berdekat-dekatan menciptakan anak kecil yang senang ini dengan bebas sanggup berpindah dariu satu rumah ke rumah yang lain.

Dia berakhlak dengan watak semua para pendidiknya. Mendapatkan petunjuk dari petunjuk yang mereka semua berikan.

Sebagaimana dia mengisahkan wacana dirinya, bahwa dia memenuhi rumah-rumah ini dengan gerakannya yang lincah dan permainannya yang gesit, sehingga dia sanggup menyentuh atap rumah-rumah Ummahat mu'minin dengan kedua tangannya sambil melompat.

Al-Hasan terus bermain di udara yang harum dengan wewangian kenabian yang kemilau dengan sinarnya ini. Dia meneguk dari mata air tawar yang memenuhi rumah-rumah Ummahat mu'minin itu dan mencar ilmu kepada pembesar-pembesar teman di masjid Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.

Dia meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy'ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan selain mereka.

Akan tetapi dia banyak bergant meneladani Amirul mu'minin Ali bin Abi Thalib RA.
Dia meneladaninya dalam kesalihan agama, kebagusan ibadahnya dan zuhudnya dari dunia dan perhiasannya. Dia terpesona oleh bayannya yang bersinar, hikmahnya yang mengesankan, perkataannya yang padat dan nasehatnya yang menggetarkan hati. Maka kemudian terbentuklah pada dirinya citra orang yang diteladaninya itu dalam hal ketakwaan, ibadah, retorika dan kefasihan berbicara.

Ketika al-Hasan telah berumur empat belas tahun, dan memasuki usia remaja, dia pindah bersama ayahnya ke Bashrah dan menetap di sana bersama keluarganya.
Dan dari sinilah kemudian kenapa di final namanya dicantumkan "al-Bashri", yaitu nisbah kepada kota Bashrah sehingga dikenal banyak orang dengan sebutan Al-Hasan Al-Bashri.

Waktu al-Hasan pindah ke sana, kota Bashrah merupakan benteng ilmu terbesar di negeri Islam. Dan masjidnya yang agung penuh dengan pembesar-pembesar teman dan tabi'in yang pindah ke sana. Kajian-kajian ilmu dengan aneka ragamnya meramaikan ruangan masjid dan mushallanya.

Al-Hasan telah menetap di masjid dan mengikuti secara khusus pengajian yang dipandu Abdullah bin Abbas, seorang 'Alim umat Muhammad. Darinya dia belajat tafsir, hadits dan Qiraa`at kepadanya, plus fiqih, bahasa, sastra dan lain-lainnya baik kepadanya ataupun kepada ulama selainnya.

Sehingga dia menjadi seorang 'alim yang sempurna, dan mahir fiqih yang tsiqah.
Maka orang-orang berdatangan kepadanya dan mengambil ilmunya yang demikian matang.

Mereka berkerumun di sampingnya untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya yang sanggup melunakkan hati yang keras dan menyucurkan air mata maksiat.
Mereka menghafal hikmahnya yang kolam mencengkeram akal.

Mereka mencontoh sirahnya yang aromanya lebih harum daripada minyak kasturi.
Berita wacana al-Hasan al-Bashri telah menyebar di aneka macam pelosok negeri, dan namanya demikian agung di kalangan manusia.

Maka para Khalifah dan pejabat mulai bertanya tentangnya dan mengikuti beritanya.

Khalid bin Sufwan bercerita, dia berkata, "Aku telah bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di Hirah (Negeri bau tanah di Irak, kurang lebih sejauh tiga mil dari Kufah namun telah punah dan kini tidak ada lagi bekasnya), dia berkata kepadaku:
Khabarilah saya wahai Khalid wacana al-Hasan al-Bashri, alasannya saya kira anda mengetahui sesuatu darinya, yang tidak diketahui oleh orang lain."
Maka saya berkata, "Mudah-mudahan Allah meluuruskan anda wahai tuan pimpinan. Aku ialah orang yang paling baik yang memberikan beritanya kepadamu secara yakin. Karena saya ialah tetangganya, sobat duduk di majlisnya dan orang Bashrah yang paling mengetahuinya."

Maka dia berkata, "Coba ceritakanlah apa yang anda miliki."
Lalu saya berkata,
"Sesungguhnya dia ialah seseorang yang rahasianya menyerupai dhahirnya dan ucapannya menyerupai perbuatannya. Jika menyuruh yang ma'ruf, maka dia ialah orang pertama yang melakukannya. Jika dia melarang kemungkaran, maka dia ialah orang pertama yang meninggalkannya.
Sungguh, saya melihatnya sebagai orang yang menjaga diri dari sumbangan orang, zuhud dari apa yang dimiliki orang-orang.
Aku melihat orang-orang membutuhkannya dan meminta apa yang dia miliki."
Lalu Maslamah berkata, "Cukup wahai Khalid, cukup wahai Khalid!! Bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat kalau di antara mereka ada orang menyerupai ini?!"

Ketika al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi menjabat gubernur di Irak dan, seorang yang sangat kejam dan sombong.
Maka al-Hasan al-Bashri ialah termasuk orang langka yang berani menentang kekejamannya tersebut. Beliau membeberkan keburukan perbuatan al-Hajjaj di hadapan orang-orang dan berkata benar di depannya.

Di antara contohnya, al-Hajjaj membangun suatu bangunan di daerah Wasith untuk kepentingan pribadinya, dan ketika bangunan tersebut rampung, al-Hajjaj mengajak orang-orang supaya keluar untuk bersenang-senang bersamanya dan mendo'akan keberkahan untuknya.

Rupanya, al-Hasan tidak ingin kalau kesempatan berkumpulnya orang-orang ini lewat begitu saja. Maka dia keluar menemui mereka untuk menasehati, mengingatkan, mengajak zuhud dari gelimang harta dunia dan menganjurkan mereka supaya mencari keridlaan Allah Azza wa Jalla.

Ketika al-Hasan telah hingga di tempat, dan melihat orang-orang berkumpul mengelilingi istana yang megah, terbuat dari bahan-bahan yang mahal, dikelilingi halaman yang luas dan sepanjang berdiri dihiasi dengan pernik-pernik. Al-Hasan berdiri di depan mereka dan berceramah banyak, di antara yang dia ucapkan adalah, "Kita telah melihat apa yang dibangun oleh insan paling keji ini tidak ubahnya menyerupai apa yang kita temukan pada masa Fir'aun yang telah membangun bangunan yang besar dan tinggi, kemudian Allah membinasakan Fir'aun dan menghancurkan apa yang dia berdiri dan dia kokohkan itu.

Mudah-mudahan al-Hajjaj mengetahui bahwa penduduk langit telah mengutuknya dan bahwa penduduk bumi telah menipunya."

Al-Hasan terus berbicara dengan gaya menyerupai ini, sehingga salah seorang yang hadir merasa khawatir kalau al-Hajjaj akan menyiksanya. Karena itu, orang tadi berkata kepadanya, "Cukup wahai Abu Sa'id! cukup.!"
Lalu Al-Hasan berkata kepadanya, "Allah telah berjanji kepada Ahli ilmu, bahwa Dia akan menjelaskannya kepada insan dan tidak menyembunyikannya."
Keesokan harinya, al-Hajjaj memasuki ruangannya dengan menahan amarah, kemudian berkata kepada orang-orangnya, "Celakalah kamu! Seorang hamba sahaya milik penduduk Bashrah berdiri dan berkata wacana kita dengan seenaknya, kemudian tidak seorangpun membalasnya atau mengingkarinya!!
Demi Allah, saya akan menyiramkan darahnya kepadamu wahai para pengecut!"
Lalu dia menyuruh supaya pedang dan lemek darah dihadirkan, kemudian keduanya dihadirkan. Selanjutnya, dia memanggil tukang pukul, kemudian tukang pukul itu segera berdiri di depannya.
Kemudian mengirim sebagian polisinya menemui al-Hasan dan menyuruh mereka supaya membawanya-serta sekembalinya nanti."

Tidak usang kemudian datanglah al-Hasan, maka seluruh pandangan orang tertuju padanya. Hati-hati mereka bergetar.

Ketika al-Hasan melihat pedang dan lemek darah, dia menggerakkan kedua bibirnya, kemudian menghadap kepada al-Hajjaj dengan penuh 'izzah seorang mu'min, kewibawaan Islam dan keteguhan seorang da'i yang menyeru kepada Allah."
Ketika al-Hajjaj melihatnya dengan kondisi menyerupai itu, dia menjadi sangat gentar, kemudian berkata kepadanya, "Kemari wahai Abu Sa'id! Kemarilah!", Kemudian terus mempersilahkan jalan kepadanya jalan seraya berkata, Kemarilah!." Sementara orang-orang menyaksikan hal itu dengan penuh rasa kaget dan aneh, hingga hasilnya al-Hajjaj mempersilahkannya duduk di atas permadaninya.

Begitu al-Hasan telah duduk, al-Hajjaj menoleh ke arahnya, dan mulai menanyakan aneka macam permasalahan agama kepadanya. Sementara al-Hasan menjawab setiap pertanyaan tersebut dengan mantap dan pasti. Penjelasan yang diberikannya demikian memikat, bersumber dari ilmu yang mumpuni.
Lalu al-Hajjaj berkata kepadanya, "Engkau ialah tuannya para ulama' wahai Abu Sa'id.!"

Kemudian dia meminta supaya dibawa ke hadapannya beberapa macam minyak wangi, kemudian meminyakinya ke jenggot al-Hasan. Setelah itu, dia berpisah dengannya.
Ketika al-Hasan telah keluar, pengawal al-Hajjaj mengikutinya dan berkata kepadanya, "Wahai Abu Sa'id, sungguh, al-Hajjaj memanggil anda bukan untuk tujuan menyerupai yang barusan dilakukannya terhadap anda. Aku melihat anda ketika menghadap dan memandangi pedang dan lemek darah, seakan anda menggerakkan kedua bibir anda, kiranya apa yang anda baca?"

Maka al-Hasan menjawab, "Aku telah membaca (artinya) 'Wahai Pembelaku ni'matku, dan pelindungku pada ketika saya dalam bahaya, jadikanlah siksanya masbodoh dan keselamatan kepadaku, sebagaimana Engkau telah menyebabkan api menjadi masbodoh dan keselamatan kepada Ibrahim.'"

Sikap al-Hasan al-Bashri menyerupai ini seringkali terjadi dengan para penguasa dan pejabat, dan dia keluar dari setiap bencana tersebut dalam kondisi seorang yang Agung di mata penguasa, bangga dengan Allah serta terjaga di bawah naungan perlidungan-Nya.

Contoh lainnya, sehabis Khalifah yang zuhud, Umar binAbdul Aziz berpulang ke rahmatullah dan kekuasaan berpindah ke tangan Yazid bin Abdul Malik, dia menugaskan Umar bin Hubairah al-Fazari sebagai gubernur Irak.
Kemudian dia memberinya mandat yang lebih, di samping menyebabkan tempat Khurasan di bawah kekuasaannya.

Cara Yazid memperlakukan rakyatnya tidak sama menyerupai yang pernah dilakukan pendahulunya yang agung.

Dia sering mengirim surat kepada Umar bin Hubairah dan memerintahkannya supaya melaksanakan apa yang ada di dalamnya, meskipun terkadang harus melanggar hak.

Untuk itu, Umar bin Hubairah mengundang dua orang, yaitu al-HAsan al-Bashri dan Amir bin Syurahbil yang dikenal dengan sebutan "asy-Sya'bi." Dia berkata kepada keduanya, "Sesungguhnya Amirul mu'minin, Yazid bin Abdul Malik telah ditunjuk Allah sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya, dan mewajibkan insan mentaatinya.

Dia telah menunjukku untuk mengurusi wilayah Irak sebagaimana yang anda lihat, kemudian dia menambahi kekuasaanku hingga tempat Persia.
Sedangkan dia terkadang mengirimkan surat kepadaku berisi perintah supaya saya melaksanakan sesuatu yang membuatku ragu terhadap keadilannya.
Karena itu, apakah anda berdua sanggup memperlihatkan jalan keluar di dalam agama seputar batas ketaatanku kepadanya di dalam melaksanakan perintahnya?"
Maka asy-Sya'bi menjawab dengan balasan yang lunak terhadap Khalifah dan memperlihatkan toleransi kepada gubernur.

Sedangkan al-Hasan hanya terdiam. Lalu Umar bin Hubairah menoleh ke arahnya dan berkata, "Apa pendapatmu, wahai Abu Sa'id?"
Maka Al-Hasan menjawab, "Wahai Ibn Hubairah, takutlah kepada Allah dalam duduk kasus Yazid dan janganlah kau takut Yazid dalam duduk kasus Allah. Dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla sanggup melindungimu dari Yazid, sedangkan Yazid tidak sanggup melindungimu dari Allah.

Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya dikhawatirkan akan tiba padamu malaikat yang garang lagi keras, yang tidak pernah durhaka terhadap Allah dalam apa yang Dia perintahkan kepadanya, kemudian malaikat itu menurunkanmu dari kursimu ini dan memindahkanmu dari istanamu yang luas ke kuburanmu yang sempit.
Bilamana di sana sudah tidak ada Yazid, maka yang ada hanya amalmu yang kau gunakan untuk menyalahi perintah Tuhannya Yazid.
Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya kalau kau bersama Allah Ta'ala dan mentaati-Nya, maka Allah akan menghindarkanmu dari siksa Yazid bin Abdul Malik di dunia dan akhirat.

Dan kalau kau bersama Yazid dalam bermaksiat kepada Allah Ta'ala, maka sesungguhnya Allah akan menyerahkan kau kepada Yazid.
Dan ketahuilah wahai Ibn Hubairah, bahu-membahu tidak ada ketaatan kepada makhluk manapun dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla."

Mendengar ucapan al-Hasan tersebut, menangislah Umar bin Hubairah hingga air matanya membasahi jenggotnya. Dia berpaling dari pendapat asy-Sya'bi kepada pendapat al-Hasan dan dia sangat mengagungkan serta menghormatinya.
Ketika keduanya telah keluar darinya, keduanya sama-sama menuju ke masjid.
Lalu orang-orang mengerumuninya dan menanyakan wacana apa yang dibicarakan keduanya dengan gubernur Irak.

Maka asy-Sya'bi menoleh kepada mereka seraya berujar,
"Wahai manusia! Barangsiapa di antara kau semua ingin mementingkan Allah Azza wa Jalla di atas kepentingan makhluk-Nya dari segala tempat, maka hendaklah dia melaksanakan hal itu.
Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, apa yang dikatakan al-Hasan kepada Umar bin Hubairah ialah perkataan yang keluar karena kejahilanku.
Aku menginginkan dari apa yang saya katakan untuk mencari wajah Ibnu hubairah, sementara al-Hasan menginginkan dari apa yang dia katakan semata untuk mendapat wajah Allah. Maka Allah menjauhkan saya dari Ibn Hubairah dan mendekatkan al-Hasan kepadanya dan membuatnya cinta terhadapnya."

Al-Hasan al-Bashri berumur panjang, yaitu hingga mencapai umur sekitar 80 tahun. Dan, dalam umur yang sepanjang itu dia mengisi kehidupan dunia ini dengan ilmu, nasihat dan fiqih.

Warisan paling besar yang dia wariskan kepada generasi demi generasi ialah nasehat dan wasiatnya yang ikut bergulir seiring dengan putaran hari-hari di dalam belahan-belahan hati manusia.

Dan nasehat-nasehatnya yang menggetarkan hati dan terus akan menggetarkannya, menciptakan air mata bercucuran, memperlihatkan si tersesat ke jalan Allah dan mengingatkan si terperdaya dan lalai dengan hakikat dunia serta tujuan keberadaan insan di dunia ini seakan menyebabkan orang tengah hadir bersamanya.

Di antara contohnya, perkataannya kepada orang yang bertanya wacana dunia dan hakikat keberadaannya,
"Kamu bertanya wacana dunia dan akhirat? Sesungguhnya perumpamaan dunia dan alam abadi ialah bagaikan timur dan barat.
Setiap salah satunya bertambah dekat, maka yang satunya lagi semakin jauh. Dan kau berkata kepadaku, Sebutkanlah karateristik dunia ini kepadaku!!
Apa yang harus saya sebutkan kepadamu wacana rumah yang awalnya melelahkan sedangkan hasilnya membinasakan, di dalam kehalalannya ada perhitungan dan di dalam keharamannya ada siksaan.?
Siapa yang tidak membutuhkannya terkena fitnah dan siapa yang membutuhkannya akan sedih."

Contoh perkataannya yang lain, yaitu ketika ada orang lain bertanya wacana kondisinya dan kondisi orang-orang,
"Celakalah kita! Apa yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri!!
Kita telah merendahkan agama kita dan meninggikan dunia, kita membiarkan watak kotor dan memperbarui tempat tidur dan pakaian.
Salah seorang di antara kita bersandar dengan tangan kirinya dan makan dari harta yang bukan miliknya, makanannya di sanggup dari hasil menyerobot, pelayannya dipaksa tanpa upah, meminta yang manis sehabis asam, meminta yang panas sehabis dingin, dan meminta yang berair sehabis kering sehingga ketika dia telah kenyang, menguap alasannya kepenuhan, kemudian berkata, 'Wahai pelayan! ambilkan pencerna makanan! Wahai orang bodoh- Demi Allah- Jangan sekali-kali kau mencerna kecuali agamamu! Di mana tetanggamu yang mengaharap uluran tanganmu?!! Di mana anak yatim kaummu yang lapar?!! Di mana orang miskinmu yang melihatmu?!! Di mana wasiat yang Allah Azza wa Jalla sampaikan kepadamu?!!
Barangkali kau mengetahui bahwa kau berjumlah banyak. Dan bahu-membahu setiap matahari hari ini terbenam, maka berkuranglah jumlahmu sementara sebagian kau pergi bersamanya.'"

Pada hari Jum'at bulan Rajab tahun 110 H, al-Hasan al-Bashri memenuhi panggilan Tuhannya. Dan pada pagi harinya, tersebarlah info wafatnya di kalangan orang-orang sehingga Bashrah bergetar alasannya kematiannya.

Dia kemudian dimandikan, dikafani dan dishalati sehabis shalat Jum'at di masjid Jami' yang sepanjang hidupnya dia habiskan waktunya di sana sebagai seorang 'alim, pendidik dan penyeru kepada Allah.
Kemudian orang-orang semuanya mengiringi janazahnya.
Dan shalat ashar pada hari itu tidak dilaksanakan di masjid jami' Bashrah, alasannya di dalamnya tidak ada seorangpun yang melaksanakan shalat.

Dan orang-orang tidak mengetahui bahwa shalat libur pada hari itu di masjid Bashrah sejak kaum muslimin membangunnya kecuali pada hari itu, yaitu hari kepulangan al-Hasan al-Bashri menuju sisi Tuhannya.

Catatan:
Sebagai materi tambahan biografi Al-hasan Al-bashri, lihatlah:

Ath-Thabaqat Al-Kubra, oleh Ibnu Sa'd: 7/156, 179, 182, 188, 195, 197, 202, dan halaman-halaman lainnya (Lihat daftar isi di jilid terakhir)
Shifat Ash-Shafwah, oleh Ibnu Al-Jauzi: 3/233- 237 (Cetakan Dar An-Nashir di Halb)
Hulliyatu Al-Auliya, oleh Al-Ashfahani: 2/131-161.
Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath: 123, 189, 287, 331, 354, 189.
Wafayat Al-A'yan, oleh Ibnu Khalkan: 1/354-356.
Syadzarat Adz-Dzahab: 1/138-139.
Mizan Al-I'tidal: 1/254 dan setelahnya.
Amali Al-Murtadla: 1/152, 153, 158, 160.
Al-bayan wa At-Tabyin: 2/173 dan 3/144.
Al-Muhabbar, oleh Muhammad bin Habib: 235 dan 378.
Kitab Al-Wafayat, oleh Ahmad bin Hasan bin Ali bin Al-Khathib: 108-109.
Al-Hasan Al-Bashri, oleh Ihsan Abbas. 
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor