Imam Ath-Thahawi (Ulama Pemurni Tauhid)

Nama Dan Nasabnya

Beliau ialah Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah bin Abdil Malik al-Azdy al-Mishri ath-Thahawi.

Al-Azdy ialah qabilah terbesar Arab, suku yang paling masyhur, dan paling banyak furu’ (cabang suku) nya. Juga merupakan belahan dari qabilah Qahthaniyah, dinasabkan kepada al-Azdi bin al-Ghauts bin Malik bin Zaid bin Kahlan.

Beliau ialah Qahthani dari sisi bapaknya dan adnani dari sisi ibunya lantaran ibunya seorang Muzainah, yakni saudara al-Imam al-Muzanni shahabat imam Syari’i.

Dan termasuk seorang Hajri, saudara sepupu dari al-Azdi, yakni Hajr bin Jaziilah bin Lakhm, yang disebut Hajr al-Azdi, agar berbeda dengan Hajr Ru’ain.

Dan ath-Thahawi dinasabkan pada Thaha sebuat desa di Sha’id Mesir.

Lahirnya Dan Zamannya

Mengenai kelahiran Imam Thahawi tahun 239 H, maka menyerupai yang diriwayatkan Ibnu Yunus muridnya yang kemudian diikuti oleh sebagian besar orang yang menulis riwayat hidupnya dan inilah yang besar. Memang ada yang menyatakan dia lahir tahun 238 H, dan bahkan ada yang menyatakan tahaun 229 H. Ini tentu saja suatu tahrif (kekeliruan) penulisan, yang kemudian dikutip beberapa orang tanpa merujuk kembali kepada kitab lainnya.

Disepakati para ulama bahwa dia wafat tahun 321 H, kecuali Ibn an-Nadim yang menyatakan dia wafat tahun 322 H.

Imam athThahawi ialah sezaman dengan para imam jago Huffazh para pengarang/penyusun enam buku induk hadits (al-Kutub as-Sittah), dan gotong royong dengan mereka dalam riwayat hadits. Umur dia saat imam Bukhari wafat ialah 17 tahun, saat imam Muslim wafat ia berumur 22 tahun, saat imam Abu Dawud wafat ia berumur 36 tahun, saat imam Tirmidzi wafat berumur 40 tahun dan saat Nasa’i wafat ia berumur 64 tahun, dan saat imam Ibnu Majah wafat ia berumur 34 tahun.

Asal Muasalnya

Adalah dia rahimahullah bermula dari rumah yang berlingkungan ilmiah dan unggul. Bapaknya, Muhammad bin Salaamah ialah seorang cendekiawan ilmu dan bashar dalam syi’ir dan periwayatannya. Sedangkan ibunya termasuk dalam Ash-haab asy-Syafi’i yang aktif dalam majlisnya. Kemudian pamannya ialah imam al-Muzanni, salah seorang yang paling faqih dari Ash-haab asy-Syafi’i yang banyak berbagi ilmunya.

Sebagian besar mengira bahwa dasar kecendekiawanannya ialah di rumah, yang kemudian lebih didukung dengan adanya halaqah ilmu yang didirikan di masjid Amr bin al-‘Ash. Menghafal al-Qur’an dari Syeikhnya, Abu Zakaria Yahya bin Muhammad bin ‘Amrus, yang diberi predikat: “Tidak ada yang keluar darinya kecuali telah hafal al-Qur’an.” Kemudian bertafaquh (belajar mendalami agama-red.,) pada pamannya –al-Muzanni, dan sami’a (mendengar) darinya kitab Mukhtasharnya yang bersandar pada ilmu Syafi’i dan makna-makna perkataannya. Dan dia ialah orang pertama yang berguru wacana itu. Ia juga menukil dari pamannya itu hadits-hadits, dan mendengar darinya periwayatan-periwayatannya dari Syafi’i tahun 252 H. Beliau juga mengalami masa kebesaran pamannya, al-Muzanni. Pernah bertamu dengan Yunas bin Abdul A’la (264 H), Bahra bin Nashrin (267 H), Isa bin Matsrud (261 H) dan lain-lainnya. Semuanya ialah shahabat Ibn Uyainah dari kalangan ahlu Thabaqat.

Pindah Madzhab Dari Syafi’i Ke Hanafi

Ketika umurnya mencapai 20 tahun, ia meninggalkan madzhab yang telah ia geluti sebelumnya yakni madzhab Syafi’i ke madzhab Hanafi dalam bertafaqquh, disebabkan beberapa faktor:
1. Karena dia menyaksikan bahwa pamannya banyak menelaah kitab-kitab Abi Hanifah.

2. Tulisan-tulisan ilmiah yang ada, yang banyak disimak para tokoh madzhab Syafi’i dan madzhab Hanafi.

3. Tashnifat (karangan-karangan) yang banyak dikarang oleh kedua madzhab itu yang berisi perdebatan antara kedua madzhab itu dalam beberapa masalah. Seperti karangan al-Muzanni dengan kitabnya al-Mukhtashar yang berisi bantahan-bantahan terhadap Abi Hanifah dalam beberapa masalah.

4. Banyaknya halaqah ilmu yang ada di masjid Amr bin al-‘Ash tetangganya mengkondisikan dia untuk memanfaatkannya dimana di sana banyak munasyaqah (diskusi) dan tabrak dalil dan hujjah dari para pesertanya.

5. Banyak syeikh yang mengambil pendapat dari madzhab Abi Hanifah, baik dari Mesir maupun Syam dalam rangka menunaikan tugasnya sebagai qadli, menyerupai al-Qadli Bakar bin Qutaibah dan Ibnu Abi Imran serta Abi Khazim.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa perpindahan madzhabnya itu tidaklah bertujuan untuk mengasingkan diri dan mengingkari madzhab yang ia tinggalkan, lantaran hal ini banyak terjadi di kalangan jago ilmu saat itu yang berpindah dari satu madzhab ke madzhab lainnya tanpa meningkari madzhab sebelumnya. Bahkan pengikut Syafi’i yang paling populer sebelumnya ialah seorang yang bermadzhab Maliki, dan diantara mereka ada yang menjadi syeikhnya (gurunya) ath-Thahawi. Tidak ada tujuan untuk menyeru pada ‘ashabiyah (fanatisme-red.,) atau taklid, tetapi yang dicari ialah dalil, kemantapan, dan hujjah yang lebih mendekati kebenaran.

Syuyukh (Para Guru) Beliau

1. Al-Imam al-‘Allaamah, Faqihul Millah, ‘Alamuz Zuhad, Isma’il bin Yahya bin Isma’il bin ‘Amr bin Muslim al-Muzanni al-Mishri. Salah satu sahabat Syafi’i yang mendukung madzhabnya, wafat tahun 264 H. Karangannya antara lain al-Mukhtashar, al-Jami’ al-Kabir, al-Jami’ ash-Shaghir, al-Mantsur, al-Masa-il al-Mu’tabarah, Targhib fil ‘Ilmi, dan lain-lainnya. Ia ialah orang pertama yang dinukilkan haditnya oleh ath-Thahawi, dan kepadanya berguru di bawah madzhab Syafi’i, menyimak dari dia juga kitab Mukhtasharnya serta kumpulan hadits-hadits Syafi’i.

2. Al-Imam al-‘Allaamah, syaikhul Hanafiyah, Abu Ja’far Ahmad bin Abi Imran Musa bin Isa al-Baghdadi al-Faqih al-Muhaddits al-Hafizh, wafat tahun 280 H. Beliau disebut sebagai lautan ilmu, disifatkan sangat cerdas dan kuat hafalannya, banyak meriwayatkan hadits dengan hafalannya. Dan dia ialah seorang yang paling kuat atas ath-Thahawi dalam madzhab Abi Hanifah. Adalah ath-Thahawi sangat membanggakan gurunya ini dan banyak meriwayatkan hadits-hadits dari beliau.

3. Al-Faqih al-‘Allamah Qadli al-Qudlat Abu Khazim Abdul Hamid bin Abdil Aziz as-Sakuuni al-Bishri kemudian al Baghdadi al-Hanafi. Menjabat Qadli di Syam, Kufah dan Karkh, Baghdad. Dan dipuji selama menjalankan jabatannya. Ath-Thahawi berguru kepada dia saat menjadi tamu di Syam tahun 268 H. Beliau menguasai madzhab Ahlul Iraq sampai melampaui guru-gurunya. Seorang yang tsiqah, patuh pada dien, dan wara’. Seorang yang ‘alim, paling piawai dalam berzakat dan menulis, cendekia disertai tabiat pemberani, sangat sampaumur dan cerdik, pintar menciptakan permisalah untuk memudahkan akal. Wafat tahun 292 H.

4. Al-Qadli al Kabir, al-‘allaamah al-Muhaddits Abu Bakrah Bakkar bin Qutaibah al-Bishri, Qadli al-Qudlat di Mesir, wafat tahun 270 H. Seorang yang ‘alim, faqih, muhaddtis, memiliki kedudukan yang terhormat, dan agung, bila dalam kebenaran tidak takut celaan orang yang mencela, zuhud, shaleh dan istiqamah. Imam Thahawi bertemu dengan dia saat ia masih seorang pemuda, menyimak dari beliau, banyak pengaruhnya atas dirinya. Banyak mengambil riwayat dari beliau, dan banyak menimpa dari dia ilmu Hadits serta tidak pernah bolos dari majlisnya saat mendiktekan hadits.

5. Al-Qadli al-‘Allaamah al-Muhaddtis ats Tsabit, Qadli al Qudlat, Abu Ubaid Ali bin al Husain bin Harb Isa al Baghdadi, salah seorang shahabat Syafi’i, wafat tahun 319 H. Sangat piawai dalam Ulumul Qur’an dan hadits, sangat pendai dalam problem ikhtilaf dan ma’ani serta qiyas fashih, berakal, lemah lembut, suka menyatakan kebenaran.

6. Al-Imam al-Hafizh ats-Tsabit, Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurrasani an Nasa’i, wafat tahun 303 H. Berkata Dzahabi: “Beliau ialah orang yang paling piawai dalam hadits dan ‘ilal. Dan rijalnya dari Muslim dan dari Abi Dawud dan dari Abi Isa (at-Turmudzi-red.,). Dan dia ialah tetangga dengan Imam Bukhari dan Abu Zur’ah di masa tuanya.

7. Al-Imam Hafizh, syaikhul Islam, Abu Musa Yunus bin Abdul A’la Shadari al-Mishri, wafat tahun 264 H. Belajar pada Syafi’i, membaca al-Qur’an pada Warsy, shahabat Nafi’, menyimak hadits dari Syafi’i, Sufyan bin Uyainah, dan Abdullah bin Wahab dan mengumpulkannya. Termasuk orang yang termasyhur dalam keadilannya dan ulama’ di zamannya di Mesir, ditsiqahkan oleh Nasa’i.

8. Al-Imam al-Muhaddits al-Faqih al-Kabir, Abu Muhammad ar Rabi’ bin Sulaiman al-Muradiy al-Mishri. Seorang shahabat Syafi’i dan mewarisi ilmunya. Wafat tahun 270 H. Banyak hadits yang diriwayatkan dari beliau, panjang umurnya, masyhur namanya, banyak menimba ilmu darinya para ashabul hadits, syaikh yang sangat disukai, menghabiskan umurnya dalam ilmu dan menyebarkannya, akan tetapi dia tergolong seorang hufazh (ahli menghafal, maka dikatakan oleh Nasa’i: Laa ba’sa bihi).

9. Syaikhul Imam ash-Shadiq, Muhaddits Syam, Abu Zur’ah Abdurrahman bin amr bin Abdullah bin Shafwan bin Amr an-Nashri ad-Dimasyqi. Wafat tahun 281 H. Seorang yang tsiqah, shaduq. Mempunyai karangan mengenai Tarikh Dimasyq.

10. Al-Imam al-Hafizh al-Mutqin, Abu Ishaq Ibrahim bin Abi Dawud Sulaiman bin Dawud al-Azdi al-Kufi asli, lahirnya di Syria, dan rumahnya di al-Barlusi. Wafat tahun 270 H. Disifatkan oleh Ibnu Yunas bahwa dia salah seorang hufazh al-Mujawwidin, tsiqah dan tsabit.

11. Al-Hafidz Abu Bakr Ahmad bin Abdullah bin al-Barqi. Wafat tahun 270 H. Menyimak dari Amr bin Abi Salmah dan thabaqatnya, memiliki karangan wacana mengenal shahabat dan termasuk seorang hufazh yang mutqin.

12. Al-Hafizh al-Hujjah, Abu Ishaq Ibrahim bin Marzuq al-Bishri, menjadi tamu di Mesir. Wafat tahun 270 H. Berkata Nasa’i, “Periwayat yang diterima haditsnya (Shalih)”. Berkata Ibnu Yunas: “Tsiqah, tsabit”.

13. Al-Imam al-Hujjah, Abu Ishaq Ibrahim bin Munqidz bin Isa al-Khaulani Maulahum al-Mishri al-‘Ushfuri, wafat tahun 269 H. Berkata Abu Sa’id bin Yunas: “Beliau tsiqah ridla”.

14. Al-Imam al-Muhaddits ats-Tsiqah, Abu Abdullah Bahr bin Nashr bin Sabiq al-Khaulani maulahum al-Mishri, wafat tahun 267 H. Ditsiqahkan Abi Hatim dan Yunus bin Abdul A’la, dan Ibnu Khuzaimah.

15. Al-Hafizh ats-Tsabit, Abu Ali al-Husain bin Ma’arik al-Baghdadi, suami saudara wanita al Hafidz Ahmad bin Shalih, menjadi tamu di Mesir. Wafat tahun 261 H. Berkata Ibnu Yunus: “ Tsiqah, tsabit”.

16. Ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Azdi maulahum, al-Mishri al-Jiizi al-A’raj. Wafat tahun 256 H. Berkata ibnu Yunus: “Tsiqah”.

17. Abu Ja’far Abdul Ghani bin Rifa’ah bin Abdul Malik al-Lakhmi al-Mishri. Wafat tahun 255 H. Meriwayatkan dari dia Abu Dawud, Ibrahim bin Matawaih al-Ashbahani dan Abu Bakar bin Abi Dawud.

18. Al-Imam al-Hafizh ash-Shaduq Abul Hasan Ali bin Abdul Aziz al-Baghawi. Syaikh al-Haram al-Makki, mushannif kitab Al Musnah. Wafat tahun 280 H. Berkata Daruquthni: “Tsiqah, terpercaya”

19. Al-Imam al-Faqih al-Muhaddits Abu Musa Isa bin Ibrahim bin Matsrad al-Ghafiqi maulahum, al-Mishri. Seorang sandaran yang tsiqah. Wafat tahun 261 H. Berkata Nasa’i: “Laa ba’sa”. Dan berkata Maslamah bin Qasim: “Tsiqah”.

20. Al-Imam al-Muhaddits ats-Tsiqah, syaikhul Haram, Abu Ja’far Muhammad bin Isma’il bin Salim al Qurasyi al-‘Abbasi maulaal Mahdi Al Baghdadi mengakibatkan tamu di Makkah. Wafat tahun 276 H. Berkata Ibnu Abi Hatim: “Shaduq”.

21. Al-Imam syaikhul Islam, Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul hakim bin A’yah bin Laits al-Mishri al-Faqih. Cendekiawan negeri Mesir di zamannya bersama al-Muzanni. Wafat tahun 268 H. Berkata Ibnu Khuzaimah: “Aku belum pernah melihat orang yang lebih pintar dari kalangan fuqaha’ wacana perkataan para shahabat dan tabi’in dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakim, dan merupakan orang yang paling alim di kolong bumi dengan madzhab Maliki.” Berkata Abi Hatim: “Ibnu Abdul hakim tsiqah, shaduq, seorang fuqaha Mesir dari madzhab Maliki”.

22. Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid Abu Bakar Muhammad bin ali bin Dawud bin Abdullah al-Baghdadi, menjadi tamu di Mesir. Dikenal dengan sebutan Ibnu Ukhti Ghazaal. Berkata Yunus: “Seorang penghafal hadits dan memahaminya. Seorang yang tsiqah, hasan haditsnya”. Wafat tahun 264 H.

23. Al-Imam al-‘Allaamah al-Hafizh, syaikhul Baghdad, Abu Bakar Abdullah bin sulaiman bin al-Asy’ats as-Sajistaani, wafat tahun 316 H. Mengarang as-Summah, al-Mashaahif, Syari’ah al-Muqaari’, Nasikh wal Mansukh, al-Ba’ts dan lainnya. Seorang yang faqih, alim dan hafizh.

24. Al-Imam al-Muhaddits al-Adl, Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Sulaiman bin Rabi’ah bin ash-Shaiqah ‘Allaan al-Mishri. Wafat tahun 317 H. Seorang yang tsiqah, banyak meriwayatkan hadits, salah seorang yang populer adil.

25. Al-Iman al-Hafizh al-Baari’, Abu Bisyrin Muhammad bin Ahmad bin Hammad bin Sa’id bin Muslim al-Anshari ad-Duulabi. Wafat tahun 310 H. Beliau ialah pengarang kitab al-Kunniy wal Asma’. Berkata Daruquthni: “banyak digunjingkan, tidak terperinci perkaranya kecuali dia ialah seorang yang baik”.

26. Al-Iman al-Kabir al-Hafizh ats-Tsiqah, Abu Zakaria Yahya bin Zakaria bin Yahya an-Naisaburi al-A’raj. Wafat tahun 307 H. Berkata Ibnu Yunus: “Seorang hafizh, terhormat dan mulia”.

27. Al-‘Allaamah al-Hafizh al-Akhbaari, Abu Zakaria Yahya bin Utsman bin Shalih bin Shafwan as-Sahmi al-Mishri. Wafat tahun 282 H. Berkata Ibnu Yunus: “Seorang alim dengan ahbar Mesir, dan wacana meninggalkan ulama, penghafal hadits, dan meriwayatkan hadits yang tidak ditemukan di orang lain”.

28. Al-Imam ats-Tsiqah al-Musannid, Abu Yazid Yusuf bin Yazid bin Kamil bin Hakim al-Umawi maulahum al-Qurathisi. Wafat tahun 287 H. Seorang yang alim, banyak meriwayatkan hadits, pemberani, panjang umur dan pernah melihat Syafi’i.

29. Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid ar-Rahhal, Abu Umayyah Muhammad bin Ibrahim bin Muslim al-Baghdadi, kemudian ath-Thurasusi, menjadi tamu di ThuTharsusi dan menjadi muhadditsnya di sana, pengarang Al Musnad dan memiliki beberapa mushannifat. Wafat tahun 273 H.

30. Al-Imam al-‘Allaamah al-Mutqin, al-Qadli al-Kabir, Abu Ja’far Ahmad bin Ishaq bin Buhlul bin hasan an-Tanwikhi al-Anbari, al-Faqih al-Hanafi. Wafat tahun 318 H.

31. Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid, Abu Ha’far Ahmad bin Sinan bin Asad bin Hibban al-Wasithi al-Qaththan. Wafat tahun 258 H. Berkata Abi Hatim: “Beliau seorang imam di zamannya, seorang yang tsiqah shaduq”.

32. Al-Imam al-Hafizh ats-Tsabit Syaikhul Waqti Abu Bakar Ja’far bin Muhammad bin al-Hasan bin al-Mustafaadl al-Firyaabi al-Qadli. Wafat tahun 301 H. Berkata Khuthaib al-Baghdadi: “Tsiqah, hujjah, gudang ilmu”.

33. Rauh bin Farj Abu Zinba’ bin Farj bin Abdirrahman al-Qaththan maulanan Zubair bin al-‘Awwam. Wafat tahun 282 H. Seorang alim, faqih di madzhab Maliki, seorang yang paling tsiqah di zamannya dan meninggikannya dengan ilmu, memiliki riwayat dalam qira’ah dari, Ashim Yahya bin Sulaiman al-Ju’fi. Adalah imam Thahawi mengambil qira’ah dari abjad demi huruf, dari Yahya bin Sulaiman al-Ju’ri, dari Abi Bakar bin ‘Iyasy, dari ‘Ashim bin Bahdalah Abi an-Nujud, menyerupai yang ia nyatakan dalam kitabnya ini juz I hal 227 dan 263.

34. Mahmud bin Hasan an-Nahwi Abu Abdullah. Wafat tahun 272 H. Berkata Ibnu Yunus dalam Tarikh Mishri: “Seorang jago nahwu, jago tajwid, meriwayatkan dari Abul Malik bin Hisyam dari Abi Zaid dari Abi Amr bin al-‘Ala.

35. Al-Walid bin Muhammad at-Tamimi an-Nahwi, yang termasyhur dengan sebutan Wullaad. Wafat tahun 263 H. Seorang jago nahwu, jago tajwid, tsiqah, berasal dari Bashrah.

Sifat-Sifatnya

Adalah ath-Thahawi rahimahullah seorang hafizh (penjaga dan penghafal) kitab Allah, yang mengerti hukum-hukumnya dan maknanya, dan terhadap atsar dari shahabat dan tabi’in terhadap tafsir ayat-ayatnya, asbabun nuzulnya. Mempunyai wawasan yang menakjubkan dengan ilmu qira’ah. Penghafal hadits, luas jangkauan pengenalannya terhadap thuruq (jalan-jalan) hadits, matan, illah dan ahwalnya, rijal-rijalnya, banyak menelaah madzhab para shahabat dan tabi’in serta para imam yang mepat yang diikuti dan para imam mujtahid yang lain. Seperti Ibrahim an-Nakha’i, Utsman al-Batti, Auza’i, ats-Tsauri, Laits bin Sa’d, Ibnu Syubrumah, Ibnu Abi Laila dan al-Hasan bin Hay. Sangat piawai dalam ilmu Syurut dan Watsaiq. Seorang yang sangat jeli dalam membahas suatu masalah. Tidak bertaklid pada seorangpun, tidak dalam problem ushul (pokok), dan tidak dalam problem furu’. Beliau berputar bersama kebenaran yang berdasar pada ijtihadnya. Mengikuti manhaj salaf dalam aqidah. Dan atas manhaj ini pula dia mengarang kitab aqidah yang masyhur (yakni Aqidah ath-Thahawiyah, pen.). Sangat memperhatikan apa yang dia dengan dalam majelis ilmu, dan kemudian diulangi kembali sesudah simpulan majlis, mengklasifikasikan secara rinci riwayat-riwayat yang ia terima dan menyusunnya dalam mushannafnya. Sifat inilah yang mengantarkannya untuk menyusun mushannafat yang banyak berdasarkan babnya. Dan dia ialah seorang yang lapang dada, baik akhlaqnya, baik dalam pergaulan, bertindak tanduk sopan, memberi nasehat para pemimpin, dengan penuh tawadlu’, bersahabat dengan para qadli dan jago ilmu, menghadiri halaqah ilmu dan menukil riwayat dari sana. Orang-orang yang berbeda pendapat dan sependapat dengan dia mengakui kewara’annya dan kezuhudannya, lemah lembut terhadap keluarga, jauh dari rasa ragu-ragu. Ketsiqahan ulama pada dia mencapai puncaknya saat Abu Ubaid bin Harbawaih – salah seorang shahabat Syafi’i mengakui keadilannya dan mendapatkan syafa’atnya.

Ath-Thahawi Seorang Imam Mujtahid

Ath-Thahawi telah berguru madzhab Syafi’i kepada pamannya al-Muzanni, kemudian mempelajari madzhab Hanafi, dan tidak berta’ashub pada salah seorang imam pun. Akan tetapi menentukan perkataan yang ia anggap paling benar berdasarkan kekuatan dalilnya. Dan bila salah seorang imam menyamai pendapatnya maka disebabkan kesamaan yang berdasarkan dalil dan hujjah, tidak lantaran taklid. Keadaannya menyerupai keadaan para ulama semasanya, yang tidak ridla dengan taklid. Tidak kepada jago hapal hadits dan tidak pula kepada para ulama fiqih. Berkata Ibnu Zaulaq: “Aku mendengar Abu hasan Ali bin Abi Ja’far ath-Thahawi berkata: Aku mendengar bapakku berkata dan disebutkan keutamaan Abi Ubaid bin harbawaih dan fiqihnya kemudian berkata: Ketika itu ia mengingatkan saya dalam satu masalah. Maka saya jawab problem itu. Tetapi dia berkata kepadamu: Bagaimana ini, kenapa menggunakan perkataan Abu Hanifah? Maka saya katakan kepadamu: Wahai Qadli, apakah setiap perkataan yang diucapkan Abu Hanifah saya katakan juga? Beliau berkata: Aku tidak mengira engkau kecuali seorang muqallid (suka mengikuti saja). Aku jawab: Apakah ada orang yang bertaklid kecuali orang yang berta’ashub (fanatik buta)? Beliau menambahi: Atau orang yang bodoh? Berkata: Maka menjadilah kalimat ini masyhur di Mesir sampai semacam menjadi pameo yang dihafal manusia.

Dan tidak ada yang menghalanginya untuk berijtihad lantaran dia telah menguasai ilmu perangkatnya. Beliau ialah seorang hafidz. Luas telaahnya, dalam pemahamannya, luas cakrawala tsaqafahnya, jago dalam mengenali hadits dan periwayatannya, piawai dalam mencari illat hadits serta mahir dalam ilmu fiqih dan bahasa Arab.

Berkata Imam al-Laknawi dalam al-Fawaid al-Bahiyah hal. 31; Bahwa Imam Thahawi memiliki derajat yang tinggi dan urutan yang mulia. Banyak menyelisihi shahibul madzhab (pendiri madzhab) dalam problem ushul maupun problem furu’. Barang siapa yang menelaah kitab Syarh Ma’anil Atsar dan karangan-karangannya yangn lain maka akan mendapati bahwa dia banyak menyelisihi pendapat yang dipilih para pemimpin madzhabnya bila yang mendasari pendapatnya itu sangat kuat. Yang benar dia ialah salah seorang mujtahid, akan tetapi insan tidak bertaklid kepada beliau. Tidak dalam furu’ maupun dalam ushul, lantaran mereka mensifatinya dengan mujtahid. Akan tetapi yang mereka referensi dari dia ialah caranya berijtihad. Atau paling tidak dia ialah seorang mujtahid dalam madzhab yang bisa untuk mengeluarkan hukum-hukum dari kaidah-kaidah yang dinyatakan sang imam madzhab, dan tidak pernah derajat dia rendah dari martabat itu selamanya.

Dan berkata Maulana Abdul Aziz al-Muhaddits ad-Dahlawi dalam kitab Bustan al-Muhadditsin: “Dalam mukhtashar Thahawi mengatakan bahwa dia ialah seorang mujtahid. Dan bukan seorang muqallid (pengekor) terhadap madzhab Hanafi dengan pengekoran total. Karena dia sering menentukan pendapat yang berbeda dengan madzhab Abu Hanafi saat hal itu berdasarkan dalil-dalil yang kuat.

Murid-Murid Beliau

Tidak sedikit kalangan jago ilmu yang berguru pada beliau. Diantara mereka para hufadz yang termasyhur. Mereka menyimak dari beliau, menerima manfaat dari ilmu beliau. Diantaranya ialah sebagai berikut:
1. Al-Hafizh Abul Farj Ahmad bin al-Qasim bin Ubaidillah bin Mahdi al-Baghdadi. Atau yang populer dengan nama Ibnu Khasyab. Wafat 364 H.

2. Al-Imam al-Faqih al-Qadli Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Manshur al-Anshari ad-Damaghaani.

3. Ismail bin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Aziz, atau yang populer dengan nama Abu Sa’id al-Jurjani al-Khallaal al-Warraaq. Wafat tahun 364 H

4. Al-Muhaddits al-Hafizh al-Jawwal al-Mushannif Abu Abdullah al-Husain bin Ahmad bin Muhammad bin Abdirrahman bin Asad bin Sammakh bin Syammaakhi al-Hirawi ash-Shaffar, pengarang al-Mustakhraj Ala Shahih Muslim. Wafat tahun 371 H.

5. Al-Muhaddits al-Imam Abu Ali al-Husain bin Ibrahim bin Jabir bin Abi Azzamzaam ad-Dimasyqi al-Faraidli asy-Syahid. Wafat tahun 368 H.

6. Al-Imam al-Hafizh ats-Tsiqah ar-Rahaal al-Jawwal Muhadditsul Islam Alim al-Mua’ammarin Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayub bin Muthair a-Lakhmi As Syammi At Thabrani, pengarang tiga mu’jam; al-Kabir, al-Ausath, As Shaghir. Wafat tahun 360 H.

7. Al-Imam al-Hafizh An Naqid al-Jawal Abu Ahmad Abdullah bin ‘Addi bin Abdullah bin Muhammad bin al-Mubarak bin al-Qaththaan al-Jurjaani, pengarang kitab al-Kamil. Wafat tahun 365 H.

8. Al-Imam al-Hafizh al-Mutqin Abu Sa’id Abdurrahman bin Ahmad bin Yunus bin Abdil A’la ash-Shadafi al-Mishri, pengarang kitab Tarikh Ulama’ Mishra. Wafat tahun 347 H.

9. Al-Imam al-Hafizh Ats Tsiqah al-Jawwal Abu Bakar Muhammad bin Ja’far bin al-Husain al-Baghdadi al-Warraaq. Wafat tahun 370 H.

10. Asy-Syaikh al-‘Alim al-Hafizh Abu Sulaiman Muhammad bin al-Qadli Abdullah bin ahmad bin Rabi’ah bin Zabrin ar-Raba’i. Wafat tahun 379 H.

11. Asy-Syaikh al-Hafizh al-Mujawwid Muhaddis Iraq Abul Husein Muhammad bin al-Mudzaffar bin Musa bin Isa bin Muhammad al-Baghdadi. Wafat tahun 379 H.

12. Al-Muhaddits ar-Rahhal Abul Qasim Maslamah bin al-Qasim bin Ibrahim al-Andalusi al-Qurthubi. Wafat tahun 353 H.

13. MuhadditsAshbahaan al-Imam ar-Rahhal al-Hafizh ash-Shaduq Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim bin Ali bin ‘Ashim bin Zaadzan al-Ashbahan, yang termasyhur dengan sebutan Ibnul Muqri’ al-Mu’jam. Wafat tahun 381 H.

14. Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Salamah Abul Hasan ath-Thahawi, anak imam Thahawi. Wafat tahun 381 H.

15. Abu Utsman Ahmad bin Ibrahim bin Hammad bin Zaid al-Azdi. Wafat tahun 329 H.

Dan lain-lain rahimahullah ajma’in.


Kitab-Kitab Karangan Beliau

Imam ath-Thahawi ialah termasuk diantara sekian orang yang memiliki banyak kitab karangan dan mahir dalam menyusun tashnifaat. Dikarenakan beberapa faktor yang dianugerahkan Allah kepadanya. Yakni cepat hafal, memiliki wawasan pengetahuan yang luas, dan memiliki kesiapan yang cukup, dia telah menyusun aneka macam macam dan jenis kitab, baik dalam bidang aqidah, tafsir, hadits, fiqih, dan tarikh. Sebagian jago tarikh menyatakan lebih dari tiga puluh kitab. Diantaranya sebagai berikut:
1. Syarh Ma’ani al-Atsar.
2. Ikhtilaaf al-Fiqhiyah.
3. Mukhatashar athThahawi.
4. Sunan asy-Syafi’i.
5. Al-Aqidah ath-Thahawiyah.
6. Naqdlu kitab al-Mudallisin li Faqih Baghdad al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi.
7. Taswiyatu baina Hadtsana wa Akhabarana.
8. Asy-Syurut ash-Shaqhir.
9. Asy-Syurut al-Ausath.
10. Asy-Syurut al-Kabir.
11. At-Tarikh al-Kabir.
12. Ahkamul Qur’an
13. Nawadirul Fiqhiyah.
14. An-Nawadir Wal Hikayaat.
15. Juz-un fi hukmi ardli Makkah.
16. Juz-un fi qismi al-fay`i wal Ghanaa-`im
17. Ar-Raddu ‘ala Isa bin Abbaan fi Kitaabihi alladzi sammaahu Khatha’u al-Kutub.
18. Al-Raddu ‘ala Abi Ubaid fiima Akhtha a fiihi fi Kitaabi an-Nasab.
19. Ikhtilaaf ar-Riwayaat ‘ala Madzhab al-Kuufiyiin.
20. Syarh al-Jami’ al-Kabir lil imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani.
21. Kitab al-Mahadlir wa as-Sijillaat.
22. Akhbar Abi Hanifah wa ash-haabuhu.
23. Kitab Aal-Washaya wal Faraidl.
24. Dan lain-lain.


Maraji’ (Rujukan):

1. Syarh Musykil al-Atsar oleh imam Thahawi.
2. Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah oleh Imam al-‘Allaamah Abil Izzi al-Hanafi.

(SUMBER: Majalah as-Sunnah, no.4/Th.I, Sya’ban-Ramadhan 1413 H, diterjemahkan dan disusun oleh Aboe Raihan al-Jawi. Redaksi di sini menurunkan sebagaimana adanya dalam bahasa aslinya kecuali terhadap kesalahan penulisan atau terjemahan yang kami anggap kurang pas atau agak fatal) 
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor