Iyas Bin Mu’Awiyah Al-Muzani

(Sosok Yang Dijadikan Icon Kecerdasan)

“Keberanian ‘Amr ditambah ketoleransian Hatim ditambah kelemahlembutan Ahnaf ditambah kecerdasan Iyas.”(Abu Tammam)
Semalaman Amirul mukminin, Umar bin Abdul Aziz, tidak sanggup tidur, matanya susah terpejam dan ia diliputi kegelisahan yang amat sangat. Pada malam yang masbodoh ketika keberadaannya di Damaskus, ia sedang sibuk memikirkan siapa yang bakal dipilih menjadi Qadli (hakim) untuk daerah Bashrah (suatu kota yang dibangun oleh kaum muslimin sehabis Irak ditaklukkan mereka.) yang kelak akan menegakkan keadilan di tengah masyarakat, memperlihatkan putusan sesuai dengan aturan Allah dan dalam menegakkan al-Haq, dia tidak sedikitpun takut baik di ketika bahagia ataupun ketakutan.

Pilihannya hanya tertuju pada dua orang yang sama-sama kredibel, mempunyai pemahaman agama yang baik, tegar di dalam menegakkan kebenaran, mempunyai pedoman yang bercahaya dan jeli di dalam memandang sesuatu.

Setiap kali ia mendapatkan kelebihan pada salah satunya dalam satu sisi, ia juga menemukan kelebihan itu ada pada yang satunya lagi dalam sisi yang lain.

Pada pagi harinya, ia memanggil gubernur untuk Irak, ‘Adiy bin Artha‘ah -yang ketika sedang berada di sisinya di Damaskus- seraya berkata kepadanya,
“Wahai ‘Adiy, pertemukanlah antara Iyas bin Muawiyah al-Muzanni dan al-Qasim bin Rabi’ah al-Haritsi. Berbicaralah kepada keduanya mengenai peradilan Bashrah dan pilihlah salah satu dari keduanya sebagai Qadli.”
Adiy berkata,
“Sam’an wa tha’atan, (mendengar dan patuh) terhadap titahmu, wahai Amirul mu’minin.”

Akhirnya, Adiy bin Artha‘ah mempertemukan antara Iyas dan al-Qasim seraya berkata,
“Sesungguhnya Amirul mu’minin- mudah-mudahan Allah memanjangkan umurnya- menyuruhku supaya mengangkat salah satu dari anda berdua untuk menjadi Qadli di Bashrah, bagaimana pendapat kalian?”

Maka masing-masing mereka berbicara perihal kawannya, bahwa dia lebih berhak daripada dirinya dengan jabatan ini dan menyinggung keutamaan, ilmu dan fiqihnya serta hal-hal lainnya.
Adiy berkata,
“Kalian berdua dilarang meningalkan majlisku ini kecuali bila telah kalian selesaikan urusan ini.”
Lalu Iyas berkata kepadanya,
“Wahai gubernur, ‘Tanyakanlah kepada dua orang hebat fiqih Irak; al-Hasan al-Bashri (sudah dibahas tentangnya pada kajian sebelumnya-red.,) dan Muhammad bin Sirin (juga telah dibahas-red.,) perihal saya dan al-Qasim, lantaran keduanya yaitu orang yang paling bisa membedakan antara kami berdua.”

Pada waktu sebelumnya, al-Qasim banyak mengunjungi kedua hebat fiqih tersebut, sedangkan Iyas tidak ada korelasi sama sekali dengan keduanya. Maka tahulah al-Qasim bahwa Iyas bahwasanya ingin melibatkannya (sehingga menjadi Qadli dimana mereka berdua saling menolaknya-red.,).

Demikian juga, bila sang Amir (gubernur) meminta pendapat kepada keduanya, maka keduanya selalu menunjuk ke dirinya bukan orang yang bersamanya (Iyas).
Maka, dia eksklusif menoleh ke arah gubernur seraya berkata,
“Wahai Amir, jangan tanyakan lagi kepada siapa pun tentangku dan dia.!
Demi Allah Yang tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, sesungguhnya Iyas yaitu orang yang lebih faham perihal agama Allah dan lebih mengerti perihal peradilan daripadaku.
Jika saya berdusta di dalam sumpahku ini, maka engkau dilarang menunjukku sebagi Qadli, lantaran sudah saya melaksanakan kebohongan.
Dan kalau saya berkata jujur, maka engkau juga dilarang menunjuk orang yang kurang keutamaannya padahal ada orang yang lebih utama darinya!.”

Maka Iyas menoleh ke arah gubernur dan berkata kepadanya,
“Wahai gubernur, sesungguhnya telah menghadirkan seseorang untuk engkau jadikan sebagai Qadli, namun engkau menghentikannya di pinggir neraka Jahannam, kemudian dia berusaha menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsunya yang senantiasa dia mohonkan biar Allah mengampuninya dan dia sanggup selamat dari apa yang dia takutkan.”
Adiy berkata kepadanya,
“Seungguhnya orang yang mempunyai pemahaman sepertimu ini amat pantas untuk dijadikan Qadli.” Kemudian dia menunjuknya sebagai Qadli di Bashrah.

Siapakah orang yang telah dipilih Khalifah yang zuhud, Umar bin Abdul Aziz sebagai Qadli di Bashrah ini?
Siapakah dia orang yang lantaran kecerdasan, kecerdikan dan kecepatan pemahamannya itu dijadikan perumpamaan sebagaimana terjadi terhadap Hatim ath-Tha‘iy lantaran kedermawanannya, atau al-Ahnaf bin Qais lantaran kelemahlembutannya dan ‘Amr bin Mu’dikarib lantaran keberaniannya?.
Sehingga menciptakan Abu Tammam menguntai syair ketika memuji Ahmad bin al-Mu’tashim,
Keberanian ‘Amr ditambah ketoleransian Hatim
Ditambah kelemahlembutan Ahnaf ditambah kecerdasan Iyas

Marilah kita mulai riwayat hidup tokoh kita ini dari awal. Tokoh ini mempunyai riwayat hidup yang amat mengesankan dan tiadaduanya dalam rangkaian riwayat-riwayat hidup yang ada.

Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah al-Muzani dilahirkan pada tahun 46 H di daerah Yamamah, Najd. Lalu pindah bersama keluarganya ke Bashrah yang kemudian di sana dia besar dan belajar.

Pada masa kecilnya dia sudah bolak-balik ke Damaskus dan menimba ilmu kepada para sahabat agung yang masih hidup dan para pemuka Tabi’in.

Anak ini semenjak kecil telah menampakkan gejala kecerdikan dan kecerdasannya. Orang-orang mulai menjadikannya buah bibir dalam berita-berita dan hal-hal langka yang ada padanya padahal dia masih anak kecil.

Diriwayatkan bahwa dia pernah mencar ilmu ilmu hisab di sekolahan milik orang Yahudi dari golongan dzimmi. Lalu berkumpulllah orang-orang Yahudi di sisi sang guru.
Mereka kemudian berbincang-bincang seputar problem agama, sedangkan Iyas mendengarkan mereka dengan seksama tanpa disadari oleh mereka. Guru itu berkata kepada sahabat-sahabatnya (orang-orang Yahudi tersebut),
“Apakah kalian tidak merasa heran terhadap orang-orang Islam yang mengklaim mereka bisa makan di nirwana tanpa membuang hajat (kotoran)!!

Lalu Iyas menoleh kepadanya sembari berkata,
“Apakah anda mengizinkanku, wahai guru, untuk berbicara perihal apa yang kalian perbincangkan barusan.?”
Guru itu berkata, “Ya, silahkan.”
Maka anak muda ini berkata,
“Apakah setiap apa yang dimakan di dunia keluar menjadi kotoran?”
Guru berkata, “Tidak.”
Anak muda itu berkata lagi,
“Lalu ke mana perginya masakan yang tidak ke luar itu.?” Guru itu berkata,
“Pergi (hilang) dan menjadi masakan tubuh (gizi).”
Anak muda itu berkata lagi,
“Lalu apa alasan pengingkaran kalian terhadap sebagian apa yang kita makan di dunia pergi (hilang) dan menjadi masakan tubuh (gizi) bahwa kelak di nirwana semuanya menjadi masakan badan?”
Lalu guru itu mengangkat tangannya dan berkata kepadanya,
“Sungguh engkau ini anak yang luar biasa!”

Usia anak muda ini semakin bertambah dari tahun ke tahun dan kecerdasannya terus mengalami kemajuan sehingga beritanya hingga kemana pun dia berada.

Diriwayatkan, bahwa ketika memasuki Damaskus dia masih anak kecil (belum mencapai usia baligh), kemudian terjadi perselisihan pendapat antara dirinya dan seorang tua, penduduk Damaskus mengenai suatu hak. Ketika dia tidak bisa meyakinkan orangtua tersebut dengan hujjah, maka diapun mengajaknya ke pengadilan.

Ketika keduanya telah berada di hadapan Qadli (hakim), Iyas bersikap keras dan mengeraskan suaranya terhadap lawannya tersebut. Lalu Qadli berkata kepadanya, “Rendahkan suaramu! wahai anak muda alasannya yaitu lawanmu ini yaitu seorang yang bau tanah umur dan kedudukannya.”

Lalu Iyas berkata,
“Akan tetapi, haq (kebenaran) lebih besar (tua) daripada dia.”
Maka Qadli murka kepadanya dan berkata, “Diam!”

Anak muda itu berkata,
“Lalu siapa yang memberikan argumentasiku kalau saya diam?!”

Maka Qadli semakin marah, dan berkata,
“Sejak masuk majlis peradilan, Aku tidak melihatmu kecuali selalu mengucapkan kebatilan.”
Lalu Iyas berkata,
“ Lâ ilâha illallah wahdahu lâ syarîkalah, apakah ini haq atau batil?”
Qadli melongo dan berkata,
"Haq, demi Tuhan Ka’bah, itu yaitu haq.”

Anak muda al-Muzanni ini kemudian rajin menekuni ilmu dan menimbanya dengan sepuas-puasnya hingga hingga kepada derajat yang mengakibatkan para syaikh tunduk kepadanya, mengikuti dan berguru di depannya, meskipun dia masih berusia muda.

Pada suatu tahun, Abdul Malik bin Marwan mengadakan kunjungan ke Bashrah sebelum dia menjadi khalifah, kemudian dia melihat Iyas yang waktu itu masih seorang cowok belia dan belum lagi tumbuh kumisnya.
Abdul Malik melihat di belakangnya ada empat orang Qurra‘ (ahli baca al-Qur’an) yang berjenggot dan mengenakan pakaian hijau mereka (pakaian kebesaran orang alim) sementara Iyas ada di hadapan mereka. Lantas, Abdul Malik berkata,
“Percuma dengan orang-orang berjenggot ini. Apakah di antara mereka tidak ada syaikh yang mengetuai mereka.? Maka merekapun menyodorkan anak muda ini.

Kemudian Abdul Malik menoleh kepada Iyas seraya berkata,
"Berapa umurmu wahai anak muda.?”
“Umurku -mudah-mudahan Allah memanjangkan umur Amir (yang menjabat ketika itu-red.,)- seusia dengan umur Usamah bin Zaid ketika Rasulullah SAW., mengangkatnya sebagai panglima perang yang di dalamnya ikut serta Abu Bakar dan Umar (Waktu itu umur Usamah belum hingga dua puluh tahun)” Katanya.

Abdul Malik berkata,
“Maju…Majulah wahai anak muda, semoga Allah memberkati kamu.”

Dan pada suatu tahun yang lain, orang-orang sedang ke luar untuk melihat bulan sabit awal Ramadlan dan yang memimpin mereka yaitu seorang sahabat agung, Anas bin Malik al-Anshari yang pada waktu itu sudah lanjut usia mendekati seratus tahun.

Orang-orang melihat ke langit dan mereka tidak melihat tanda apa-apa.
Akan tetapi, Anas bin Malik mulai mengamati langit dan berkata,
“Aku sungguh melihat bulan…nah itu dia.” sembari menunjuk ke arah bulan sabit teresbut dengan tangannya namun orang-orang tidak melihat apa-apa.

Ketika itu Iyas melihat Anas bin Malik RA, ternyata ada sehelai rambut panjang melekat di alisnya dan menggantung di depan matanya. Maka Iyas pun dengan soapn minta permisi dan mengulurkan tangannya ke arah sehelai rambut tersebut, kemudian mengusapnya dan meratakannya, kemudian berkata kepada Anas,
“Apakah anda masih melihat bulan sabit itu kini wahai shahabat Rasulullah?”
Lalu Anas melihat-lihat lagi seraya berkata,
“Tidak, saya tidak melihatnya lagi, saya tidak melihatnya lagi.”

Berita kecerdasan Iyas semakin santer dan menyebar, maka orang-orang berdatangan kepadanya dari aneka macam penjuru dan menumpahkan segala permasalahan mereka yang berkenaan dengan ilmu dan agama kepadanya.
Sebagian mereka memang ingin mencari ilmu dan sebagian yang lain hanya ingin menjatuhkan dan mengajaknya berdebat kusir secara batil.
Di antara kisah itu, dikisahkan bahwa ada seorang pejabat besar suatu daerah tiba ke majlisnya, kemudian berkata,
“Wahai Abu Wâ‘ilah, apa pendapatmu perihal minuman keras?”
Iyas menjawab, “Haram”
Pejabat itu berkata,
“Apa alasan keharamannya padahal ia hanyalah berupa buah-buahan dan air yang dimasak di atas api dan semua itu yaitu boleh-boleh saja, tidak apa-apa.”
Iyas berkata,
“Apakah sudah selesai bicaramu, wahai sang pejabat atau masih ada yang nantinya ingin kau utarakan?”
Pejabat itu berkata, “Ya, sudah itu saja.”
Lalu Iyas berkata,
“Seandainya saya mengambil segenggam air kemudian saya pukulkan ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu?”
Pejabat itu berkata, “Tidak.”
“Seandainya saya mengambil segenggam pasir kemudian saya pukulkan ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu,?” Katanya lagi.
Pejabat itu berkata, “Tidak.”
“Seandainya saya mengambil segenggam lumpur, kemudian saya pukulkan ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu,?” katanya lagi.
Pejabat itu berkata, “Tidak.”
“Seandainya saya mengambil pasir kemudian saya lapisi dengan lumpur kemudian saya siram air, kemudian saya aduk-aduk, kemudian saya jemur kumpulan adukan itu di bawah terik panas matahari hingga kering, kemudian saya pukulkan itu ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu,?” katanya lagi.
Pejabat itu berkata, “Kalau itu, ya, bahkan bisa membunuhku!.”
Lalu Iyas berkata,
“Begitulah dengan khamar; ketika bahan-bahannya disatukan dan diragikan, maka haram hukumnya.”

Ketika Iyas menjabat sebagai Qadli, banyak tampak jelaslah beberapa sikapnya yang memperlihatkan kecerdasanya yang memang demikian berlebihan, keluasan wawasannya dan kemampuannya yang luar biasa di dalam menyingkap kenyataan.

Di antara contohnya, bahwa ada dua orang pria yang berhakim kepadanya. Salah satunya mengklaim telah menitipkan uang kepada sahabatnya itu namun ketika dia memintanya, sahabatnya itu mungkir. Lalu Iyas bertanya kepada si tertuduh (terdakwa) perihal titipan itu tetapi orang itu pun mengingkarinya seraya berkata,
“Bila sahabatku yang menuduhku itu mempunyai bukti, maka silahkan dia menghadirkannya. Bila tidak, berarti saya tinggal bersumpah saja.”

Manakala Iyas khawatir orang itu memakan harta dengan sumpahnya, maka dia menoleh ke arah orang yang menitpkan (si pendakwa) sembari berkata kepadanya,
“Di mana anda menitipkan uang kepadanya?”
Orang itu menjawab, “Di tempat anu.”
Iyas berkata, “Benda apa yang ada di tempat itu?”
Orang itu menjawab, “Pohon besar, waktu itu kami duduk-duduk di bawahnya dan makan-makan bersama di bawah naungannya. Ketika kami ingin pulang, saya menyerahkan uang itu kepadanya.”
Iyas berkata lagi kepadanya,
“Pergilah ke tempat yang ada pohonnya itu, barangkali kalau kau telah hingga di sana, kau akan teringat di mana kau menaruh uang dan apa yang kau lakukan dengannya. Kemudian temui saya lagi untuk memberikan apa yang kau lihat.”
Maka orang itu berangkat menuju tempat tersebut sedangkan Iyas berkata kepada si terdakwa,
“Duduklah, hingga temanmu itu datang.”

Lalu orang itu pun duduk. Kemudian Iyas menoleh ke arah orang-orang lain yang mempunyai perkara, dan mulai memutuskan masalah mereka sambil melirik secara belakang layar ke arah si terdakwa itu. Hingga ketika dia melihatnya sudah dalam kondisi membisu dan tenang, dia menoleh ke arahnya seraya bertanya kepadanya lagi dengan secara tiba-tiba,
“Menurut perkiraanmu, sahabatmu itu telah hingga ke tempat dia menyerahkan uang kepadamu itu atau belum.?” Maka orang itu menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu, “Tentu belum alasannya yaitu tempat itu amat jauh dari sini.” jawabnya tanpa berpikir panjang.
Ketika itu, Iyas berkata kepadanya,
“Hai musuh Allah, kau mengingkari telah menyimpan harta itu padahal mengetahui dimana kau mengambil uang itu? Demi Allah, sungguh kau ini seorang pengkhianat.!”

Orang itupun bungkam dan mengaku pengkhianatan yang telah dilakukannya. Lalu Iyas menahannya hingga pemiliknya itu tiba dan menyuruhnya supaya mengembalikan titipan tersebut kepada pemiliknya.

Contoh lainnya, diriwayatkan bahwa ada dua orang pria saling berselisih kepadanya mengenai dua potong materi beludru yang yang biasa dipasang ke atas kepala dan disampirkan ke kedua pundak. Salah satunya berwarna hijau, gres dan mahal dan yang satu lagi berwarna merah namun lusuh.
Si pendakwa (penuduh) berkata,
“Pada waktu itu, saya pergi ke telaga untuk mandi, kemudian saya meletakkan beludru hijauku bersama pakaianku di pinggir kolam, kemudian datanglah orang ini dan meletakkan beledrunya yang berwarna merah di samping milikku, kemudian dia juga turun ke telaga dan ke luar sebelumku. Dia mengenakan pakaiannya dan mengambil beledru milikku kemudian mengenakannya ke kepala dan kedua pundaknya. Setelah itu, dia pergi membawanya. Selanjutnya, saya keluar juga dan menyusulnya seraya meminta beledru milikku itu. Akan tetapi, dia malah mengklaim bahwa itu yaitu miliknya.”
Lalu Iyas berkata kepada si tersangka,
“Apa jawabmu?”
Orang itu berkata, “Ini yaitu beledru milikku dan sudah berada di tanganku.”
Iyas berkata kepada si pendakwa,
“Apakah kau mempunyai bukti?”
Orang itu menjawab, “Tidak.”
Lalu Iyas berkata kepada penjaga pintu rumahnya, “Ambilkan sisir untukku.!”

Lalu sisir dihadirkan untuknya, kemudian Iyas menyisir rambut kedua orang itu, maka keluarlah dari kepala salah satunya bulu (serbuk) berwarna merah dari rontokan bulu materi beledru, dan dari kepada yang lainnya keluar bulu (serbuk) berwarna hijau. Setelah itu, Iyas memutuskan bahwa beledru berwarna merah untuk orang yang di rambutnya ada bulu (serbuk) merah itu dan beledru hijau untuk orang yang di rambutnya ada bulu (serbuk) hijau. (mengingat biasanya serbuk dari materi itu suka menempel-red.,)

Contoh lain dari kisah kecerdikannya, bahwa di Kufah ada orang yang berlagak jadi orang lurus, wara’ dan takwa di hadapan orang-orang, sehingga banyak orang yang memujinya. Sebagian mereka malah menaruh kepercayaan kepadanya dengan menitipkan harta kalau mereka sedang pergi. Bahkan, ada juga yang mengangkatnya sebagai pemegang wasiat mewakili belum dewasa mereka ketika mencicipi bahwa final hayat mereka telah dekat.

Lalu ada seseorang tiba kepadanya dan menitipkan harta. Ketika orang tersebut membutuhkan uangnya, dia memintanya namun orang itu mengingkarinya.

Kemudian si korban itu pergi menghadap Iyas dan melaporkan perihal orang tersebut.

Maka Iyas berkata kepada si pelapor yang menjadi korban ini,
“Apakah orang itu mengetahui kalau kau tiba kemari?” Orang itu menjawab, “Tidak.”
Iyas berkata, “Pergilah dan kembalilah menemuiku besok.!”

Kemudian Iyas mengutus seseorang untuk menemui orang yang diserahi amanat (yang berpenampilan lurus itu) biar menghadapnya. Ketika orang itu datang, Iyas berkata kepadanya,
“Di tanganku terkumpul banyak harta milik belum dewasa yatim yang tidak mempunyai penanggungjawab. Aku melihat engkaulah orang yang pantas untuk dititipi dan mengangkatmu sebagai penanggungjawab mereka. Apakah rumahmu kondusif dan waktumu luang untuk hal itu?”
Orang itu berkata, “Ya, wahai Qadli.”
Iyas berkata lagi,
“Kemarilah kau besok lusa, siapkan tempat untuk harta tersebut serta bawalah bersamamu para tukang panggul untuk memanggulnya.”

Pada hari berikutnya, datanglah orang yang melapor. Maka Iyas berkata kepadanya, “Pergilah kau kepada temanmu dan mintalah harta darinya. Jika dia ingkar, maka katakanlah kepadanya, “Aku akan laporkan kau kepada Qadli.”

Lalu orang itu tiba kepada temannya tersebut dan meminta hartanya, tetapi dia menolak memberikannya dan mengingkarinya.
Maka orang itu berkata, “Kalau begitu akan saya laporkan kau kepada Qadli.!”

Ketika mendengar bahaya itu, dia segera menyerahkan hartanya dan menenangkan hatinya.

Kemudian orang itu kembali kepada Iyas dan berkata kepadanya, “Temanku itu telah mengembalikan hartaku dan mudah-mudahan Allah membalas kebaikan tuan.”

Selanjutnya, orang yang diserahi amanat itu tiba menghadap Iyas pada hari yang telah dijanjikan dan dia membawa serta para tukang panggul.

Namun yang terjadi, Iyas justeru menghardik dan membongkar kebobrokannya sembari berkata kepadanya,
“Kamu yaitu orang yang paling jahat, hai musuh Allah, kau telah mengakibatkan agama sebagai umpan dunia.”

Akan tetapi, sekalipun Iyas dikenal sangat cerdas, memilik daya fikir yang berpengaruh dan sangat cepat daya tangkapnya, namun hujjahnya suatu ketika pernah berhadapan dengan seorang yang bisa mementahkan hujjahnya dan memangkas ucapannya serta membungkamnya.
Mengenai hal itu, dia menceritakan,
“Tidak ada orang yang sanggup mengalahkanku kecuali seorang saja, yaitu ketika saya berada di majlis persidangan di kota Bashrah. Saat itu, seseorang menemuiku dan bersaksi di sisiku bahwa kebun “anu” yaitu milik si fulan, kemudian dia menyebutkan letak geografisnya kepadaku.”

Saat itu, saya ingin menguji kesaksiannya seraya bertanya kepadanya,
“Berapa jumlah pohon yang ada di kebun tersebut?”
Lalu orang itu menunduk sebentar, kemudian mengangkat kepalanya dan balik bertanya,
“Sudah berapa usang tuan menjadi Qadli di sini?”
“Sejak sekian tahun,” jawabku.
Lalu orang itu bertanya lagi,
“Berapa jumlah kayu atap tempat (majlsi) ini?”

Namun lantaran tidak tahu, saya berkata kepadanya,
“Kebenaran berada di pihakmu.!” Kemudian saya mendapatkan kesaksiannya.

Ketika Iyas telah berumur tujuh puluh enam tahun, dia melihat di dalam mimpinya bahwa dirinya dan ayahnya masing-masing menunggangi kuda, kemudian keduanya berbalapan, namun anehnya dia tidak bisa membalap ayahnya dan ayahnya juga tidak bisa membalapnya. Saat meninggal dunia dulu, ayahnya berumur tujuh puluh enam tahun.

Pada suatu malam, Iyas rebahan di atas tempat tidurnya dan berkata kepada keluarganya,
“Tahukah kalian malam apa ini?”
Mereka menjawab, “Tidak.”
Iyas berkata,
“Pada malam ini, ayahku melengkapi umurnya (wafat).”
Dan pada pagi harinya, mereka menemukannya telah wafat.
Mudah-mudahan Allah merahmati Iyas, sang Qadli. Sungguh dia yaitu orang langka dan tanda keajaiban zaman dalam hal kecerdikan, kecerdasan, mencari kebenaran dan menggapainya.


CATATAN:

Sebagai materi perhiasan perihal biografi Iyas bin Mu’awiyah al-Muzanni, silahkan rujuk:

1- Akhbâru al-Qudlât karya Waki’, h.312-374.
2- Syarh al-Maqâmât karya asy-Syuraisyi: 1/113-115.
3- Al-Bayân wa at-Tabyîn karya al-Jâhizh, Jld.I, h.56
4- Al-‘Iqd al-Farîd karya Ibnu ‘Abdi Rabbih.
5- Hilyah al-Awliy karya Abu Nu’aim, Jld.III, h.123 dan setelahnya.
6- Wafayât al-A’yân karya Ibnu Khalakân, Jld.I, h.247 dan setelahnya.
7- Tsimar Al-Qulub karya at-Tsa’âlabi, h.92-94.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor