Kumenthus Ora Pecus

Kumenthus Ora Pecus

Artinya: Belagak pinter tapi gotong royong tidak paham/ngerti.

Jika kita semua dapat memerankan diri secara penuh sesuai dengan bidang dan kemahiran kita, maka tentu pengertian wacana falsafah diatas tentu tidak akan muncul.

Kita contohnya contohnya komentator bola, komentator A dapat menyampaikan bahwa pemain bola tidak becus menedang bola sehingga bola tidak masuk, namun ada juga kometator B menyampaikan bahwa tendangan yang baik namun antipasi yang anggun dari penjaga gawang sehingga bola tidak masuk. Dari kedua pola ini dapat kita melihat bahwa kini ini banyak dari kita menyerupai komentator yang bertindak sebagai instruktur atau bahkan pemain itu sendiri, yang mana pada dikala dilapangan tentu kondisi sudah berbeda dan pastinya merusak banyak hal.

Banyak sekali dalam perjalanan hidup, kita sendiri kadang demi nama baik, pengakuan, status, ingin diakui, kita telah bertindak sok/sombong padahal kita sendiri tidak paham bahkan tidak mengalami langsung. Ini justru gotong royong akan mempeburuk kwalitas diri secara tidak sadar, kita dapat saja menjadi menjerumuskan, bahkan merusak orang lain.

Dalam Kehidupan berumah tangga, “Kumenthus Ora Pecus”, bertindak arogansi terhadap pasangan hidup dengan tidak mengerti tahu masalahnya itu ialah ciri kesombongan yang tanpa paham permasalahan. Komunikasi menjadi kunci penting untuk saling dapat memberi tahu dan mengerti posisi masing-masing, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam menuduh yang mana gotong royong tidak memahaminya. Ketegasan juga dibutuhkan kalau pasangan dalam kondisi ancaman yang mana beliau sendiri tidak menyadarinya, harus secara tegas diberitahu.

Dalam relasi orang bau tanah dan anak (Guru dan Murid), orang bau tanah dan guru haruslah mengajarkan apa yang telah dimengertinya, bukan memalsukan orang bau tanah dan guru yang lain, sebab terprovakasi oleh pengalaman anak/murid yang tentunya mengalami interaksi dengan sekitarnya. Anak-anak dan murid jangan pula melaksanakan hal-hal yang belum dipahami atau belum disuruh untuk lakukan, untuk menghindari kesombongan (berlagak) diri yang muncul.

Dalam relasi keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), bertindak seakan-akan polos, seakan-akan berbaik hati, seakan-akan lemah lembut, seakan-akan apa adanya, ialah tindakan munafik yang memang tujuan halusnya ialah untuk menjadi diakui atau legalisasi diri, sangat berbahaya dalam relasi kehidupan bermasyarakat, sebab pada jadinya akan ada bersifat menipu dan tidak menimbulkan dasar sebagai kehidupan beradab, sebab pada jadinya akan menjadi sombong (berlagak) padahal tidak mengerti, ini sama nanti akan menjerumuskan beramai-ramai.

Mari berdamailah dengan keluarga sendiri dulu kedalam, maka tindakan apa adanya ialah murni demikian.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor