Sejarah Kerajaan Keritang, Indragiri

Ciri khas asal usul Bukti peninggalan puncak kejayaan kerajaan keritang indragiri dan penyebab runtuhnya kerajaan keritang indragiri


Ciri khas asal usul Bukti peninggalan puncak kejayaan kerajaan keritang indragiri dan penyebab runtuhnya kerajaan keritang indragiri

Kerajaan Keritang indragiri , bagi pengunjung weblog Wisata Riau ini mungkin itu yakni kata yang baru. Namun Kerajaan Keritang yakni sebuah kerajaan di Riau, tepatnya di Kabupaten Indragiri Hilir kini ini. Untuk mengingatkan kembali kepada dongeng yang terlupa itu. Berikut ini artikel Sejarah Kerajaan Keritang yang disadur dari banyak sekali sumber. Tentu dalam membahas sejarah banyak versi. Silakan berbeda pendapat dikolom komentar nantinya.

Sejarah Keritang tidaklah banyak yang sanggup diketahui jelas. Nama Keritang berasal dari kata Akar Itang. Itang ialah sebangsa tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat di sepanjang Sungai Gangsal. Akar-akar dari tumbuh-tumbuhan tersebut di atas begitu banyak di tebing-tebing sungai sehingga menyulitkan bagi perjalananan. Dari kata-kata akar dan itang terbentuklah Karitang, yang lama-lama kelamaan kebiasaan orang Melayu suka mempermudah sesuatu ucapan kata tersebut menjadi Karitang dan hasilnya menjadi Keritang.

Dalam Negarakertagama, Keritang disebut sebagai daerah yang takluk kepada Majapahit bersama Kerajaan Kandis, selain beberapa kerajaan lain di Sumatera yang juga tunduk di bawah Majapahit. Menyebutkan Keritang gotong royong dengan kerajaan lain yang mengandung pengertian bahwa Keritang bukan hanya sekedar kampung, tetapi sudah merupakan suatu kerajaan cukup besar dan berarti bagi Majapahit yang demikian besar kekuasaannya.

Mengenai masa hidup Kerajaan Keritang ini sanggup diperkirakan semasa dengan Kerajaan Kuantan. Tempat Kerajaan Keritang ini berpusat di sekitar Desa Keritang kini ini, yaitu di tepi Sungai Gangsal di Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir. Kapan lenyapnya kerajaan ini tidaklah sanggup dipastikan, tetapi beberapa petunjuk yang mengarah ke Kerajaan Keritang disebabkan kehilangan Raja pemangku tahta. Raja di tawan oleh Kerajaan Melaka. Raja Merlang yang hasilnya meninggal di dalam pengasingan. Ketika dalam penawanan, Raja Merlang dikawinkan dengan seorang puteri Sulatn Mansyur Syah mempunyai keturunan. Dari rahim isterinya lahir seorang putera mahkota Kerajaan Keritang. Narasinga, nama putera mahkota itu, kelak akan dijemput untuk diminta memerintah kembali Kerajaan Keritang, lantaran sudah usang kerajaan menyerupai tidak bertuan.

Ketika rakyat Indragiri tidak mempunyai raja, maka datuk Patih meminta kepada Narasingan, sang putera mahkota yang masih menetap di Melaka untuk pulang ke Keritang memerintah kerajaan yang tidak mempunyai raja.
Kerajaan Keritang di Bawah Kekuasaan Sriwijaya

Hampir semua wilayah yang ada di Kepulauan Sumatera berada dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya. Dalam catatan perjalanan I-Tsing, sepeninggalannya dari Sriwijaya, Jambi , tempat ia pernah menetap selama dua bulan, telah menjadi wilayah kekuasaan Sriwijaya.

Menurut Hall (1988), Petunjuk-petunjuk dari catatan-catatan orang Cina dan Batu Ligor yang ditemukan di Wat Sema-muang, diceritakan pada dikala peringatan pendirian tempat suci Budha Mahayana oleh Raja Sriwijaya pada tahun yang sama dengan dengan 15 April 775. Disebutkan, ekspansi Kerajaan Sriwijaya dan Budha Mahayana hingga ke Semenanjung Melayu.

Menurut Marwati (1992) dari keterangan prasasti yang ditemukan di Telaga Batu, Sriwijaya memperluas wilayah kekuasaannya mulai daeah Malayu di sekitar Jambi kini hingga ke Pulau Bangka dan daerah Lampung Selatan serrta berusa menaklukkan Pulau Jawa yang menjadi saingannya dalam bidang bidang pelayaran dan perdagangan dengan luar Nusantara.

Penaklukan Pulau Bangka diduga bersahabat hubungannya dengan penguasaan perdagangan dan pelayaan internasional di selat Malaka. Selian letaknya yang strategis, Pulau Bangka pada masa Sriwijaya berdasarkan Obdeyn (Marwati: 1992), masih bersambung menjadi satu dengan Semenanjung Tanah Melayu termausk didalamnya Kepuluan Riau dan Lingga.

Sehingga dengan demikian, sangat berpengaruh sekali untuk menghubungkan bahwa kerajaan Keritang juga berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Sebab daerah yang menjadi perbatasan Kerajaan Keritang, daerah Jambi dan Semenanjung Melayu berada dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya.

Pada dikala Kerajaan Sriwijaya sebagai Kerajaan Maritim terbesar menguasai daerah-daearah sekitarnya, seperti, Bangka, Riau, Lingga, Jambi, Semenanjung Tanah Melayu dan Keritang, sepenuhnya menguasai kemudian lintas perdagangan dan pelayaran dari kerajaan-kerajaan dari Barat ke Cina atau sebaliknya. Karena perahu-perahu absurd semuanya terpaksa harus berlayar melalui Selat Melaka dan Selat Bangka yang dikuasai Sriwijaya.

Keuntungan dari penguasaan tersebut, maka Sriwijaya laba pajak kemudian lintas yang melimpah-limpah dari bahtera yang lewat. Sementara dari daerah Sriwijaya sendiri, ekspor banyak sekali macam komoditi dalam negeri, penyu, gading gajah, kapur barus, damar, lada dan lainnya sangat banyak. Karena daerahnya yang luas dan banyak memproduksi komoditi yang diinginkan para pedagang. Komoditi tersebut ditukarkan dengan banyak sekali macama alat-alat sejenis porselen, kain katun dan kain sutera.

Kerajaan Keritang di bawah kekuasan Sriwijaya, pada selesai masa ke-13, diperkirakan mulai lepas dari imbas kerajaan laut itu. Pada pada masa tersebut, kekuasaan kerajaan Sriwijaya semakin pudarnya.Ini menjadi faktor keberuntungan bagi kerajaan-kerajaan kecil yang selama ini tunduk di bawah kekuasaan Sriwijaya. Kerajaan-kerajaan kecil, satu persatu mulai melepaskan diri dari pemerintahan Sriwijaya. Karena mustahil lagi bagi Sriwijaya untuk sanggup kembali menguasai dan memaksakan keinginannya, lantaran dilema dalam negeri tidak sanggup teratasi lagi dan semakin banyaknya serangan dari luar yang juga harus dihadapi.

Sehingga secara perlahan, nama Sriwijaya semakin hilang dari peredaran. bandar dagang yang semula ramai dikunjungi, beransur-angsur menjadi sepi dan ditinggalkan pedagang. Sebab sumber-sumber komoditi yang diperjual belikan semakin menipis dan kuantitasnya tidak memenuhi undangan pedagang lagi.

Berakhirnya Kerajaan Sriwijaya ini tidak hanya disebabkan hanya disebabkan kondisi dalam negeri yang tak menentu, tetapi juga serang dari luar. Adanya serangan dari Kerajaan Cola dan Majapahit. Sementara semakin derasnya gelombang penyebaran Islam ke Nusantara disinyalir sebagai penyebab eksternal runtuhnya Kerajaan Maritim Sriwijaya.

Marcopolo dalam perjalanannya dari Cina pada tahun 1292 M tidak menyebut-nyebut nama Sriwijaya lagi. Hal itu memberikan Sriwijaya sudah terpecah menjadi beberapa Kerajaan kecil. Dan salah satu diantaranya yakni Kerajaan Keritang ini merupakan Kerajaan Hindu-Budha. Karena setelah melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Majapahit yang menganut agama Budha, selanjutnya Kerajaan Keritang menjadi sebuah kerajaaan yang berdiri sendiri. Kedaulatan itu tidak berlangsung lama, lantaran kerajaan itu ditaklukkan oula oleh Kerajaan Majapahit yang menganut agama Hindu.
Kerajaan Keritang di Bawah Kekuasaan Majapahit

Tidak sanggup dipastikan awal berdirinya Kerajaan Keritang (Indragiri), lantaran tebatasnya sumber. Suatu sumber yang menyebutkan bahwa raja pertama Kerajaan Indragiri yakni Raja Kecik Mambang yang memerintah ± 1298-1337 (T. Arief, tt:39). Sumber itu tidak menyebutkan di mana letaknya sentra pemerintahan dari Kerajaan Indragiri. Sebaliknya Mpu Prapanca danal negara Kertagama tidak pula menyebut nama Indragiri, tetapi yang ditulis hanyalah Keritang. Karena Keritang itu terdapat di Inderagiri, maka diperkirakan nama kerajaan Indragiri yang disebut di atas yakni identik dengan Kerajaan Keritang (Inderagiri).

Dalam perjalanan sejarah Kerajaan Keritang dari tahun 1298-1331 masih tetap merdeka dan berdaulat. Berita dalam Negara Kertagama menyebutkan Majapahit hingga tahun 1331 M wilayah kekuasan gres daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Daerah-daerah di luar dari keduanya belum lagi masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit (Muhammad Yamin, 1960). Selama berdaulat itu, tidak ditemukan sumber tertulis yang sanggup mengungkapkan kembali sejarah kerajaan itu. Begitu juga di daerah Keritang sendiri tidak didapat dongeng rakyat wacana Kerajaan Keritang.

Majapahit menguasai daerah luar Jawa diperkirakan sehabis tahun 1331. Tetapi tidak sanggup dipastikan tahun yang sempurna mulai masuknya daerah-daerah di luar Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mpu Prapanca dalam Negara Kertagama menuliskan beberapa kerajaan yang termasuk dalam kekuasaan Majapahit sebagai berikut:

Lwir nung nusa pra nusa sakahawat ksoni Melayu Ning

Jambi

Mwang Palembang karitang i teba le Dharmacraya

tumut

Kandis Kahwas Manangkabwa ri Siak Rekan Kampar

mwang i pane

Kampe Harw atahwe Mandahiling i Tumihang Parliak

mwang i Barat

Lwas lawan Samudera mwang i Lamuri Batan Lampung

mwang i Barus

(Slamet Mulyono, 1965)

Isi syair 13 dalam Negara Kertagama itu diterjemahkan Muhammad Yamin sehingga mempunyai pengertian sebagai berikut: Seluruh pulau Sumatera (melayu) telah menjadi daerah yang berada di bwah kekuasaan Majapahit yang mencakup Lampung, Palembang, Jambi, Keritang (Indragiri) Muara Tebo, Darmasraya (Sijunjung), Kandis, Kahwas, Haru, Mandahiling, Tamiang, Perlak (Aceh) Barat, Lamuri (Aceh Tiga Segi), Bantan dan Barus (Muhammad Yamin. 1960).

Kedudukan Keritang dalam syair 13 itu setara dengan Kerajaan Jambi, Kerajaan Darmasraya, Kerajaan Minangkabau dan Kerajaan lainnya, yang merupakan bukti bahwa Keritang yakni juga suatu Kerajaan. Kerajaan Keritang ini terletak di dalam daerah Indragiri. Nama Indragiri dalam uraian Muhammad Yamin di atas terletak sehabis menyebut nama Keritang yang dalam tanda kurung. Selanjutnya dalam Atlas Sejarah, nama Keritang terletak di wilayah Inderagiri atau antara Kampar di utara dan Jambi di Selatan (Muhammad Yamin, 1965)

Sebagai suatu kerajaan, Keritang mempunyai beberapa orang raja yang memerintah selama lebih kurang 213 tahun (1298-1508). Raja-raja tersebut yaitu Raja Kecik Mambang dsebut juga dengan gelar Raja Merlang I (± 1298-1337), Raja Iskandar atau Nara Singa (± 1337-1400), Raja Merlang II (± 1400-1437) dan Raja Nara Singa. Pada masa pemerintahan Raja Merlang II, Kerajaan Keritang (Inderagiri) menjadi daerah jajahan Melaka, sebagai hadiah perkawinan putri Majapahit dengan Sultan Mansyursah dan Melaka.

Kerajaan Keritang di Bawah Kekuasaan Melaka

Dalam tahun 1275 raja Kertanegara dari Singosari mengirim suatu ekspedisi Pamalayu. Ekspedisi ini dimaksudkan untuk merebut daerah penghasil lada terbesar di tempat ini. Singosari waktu itu sedang dalam konflik dengan kerajaan Mongol. Hubungan yang memburuk ini diikuti dengan kedatangan armada Mongol di bawah pimpinan Ike Mise dan Shih Pi untuk menyerang Kerajaan Singasari dan menghukum raja Jawa, Kertanegara yang telah menghina utusan Mongol berjulukan Mingki. Ming Ki dipotong pendengaran ketika memberikan pesan dari kerajaan Mongol.

Perseteruan antara Kerajaan Singasari dan Mongol dimanfaatkan oleh Kerajaan Melaka untuk menguasai Keritang. Sebab melihat potensi hasil bumi yang dimiliki Kerajaan Keritang akan membantu Melaka dalam meningkatkan intensitas perdagangannya. Jambi dan sekitarnya pada waktu itu penghasil lada terbesar di pantai Timur Sumatera, Keritang merupakan lumbung padi. Sedangkan Melaka gres muncul sebagai bandar perdagangan besar di Asia. Bandar yang dibangun itu menampung dan mengekspor kembali barang-barang dari Asia Tenggara dan Asia Timur ke Eropa melalui India dan Teluk Persia. Maka jikalau terjadi ikatan antara Melaka dengan Jambi dan Keritang yang juga menghasilkan lada, akan menjamin suplai materi perdagangan.

Untuk sanggup menguasai Keritang, maka Melaka harus menciptakan korelasi diplomatik yang baik dengan kerajaan Majapahit, kerajaan yang berkembang pesat setelah kekuasaan Singosari. Maksud tercapai setelah Raja Melaka yaitu Sultan Mansursyah kawin dengan seorang puteri Raja Majapahit. Sejak itulah Kerajaan Keritang oleh Majapahit diserahkan penguasaannya kepada kerajaan Melaka. Majapahit mau menyerahkan Kerajaan Keritang kepada Kerajaan Melaka di samping lantaran korelasi perkawinan tersebut, juga lantaran pada dikala itu kebesaran Majapahit dalam keadaan menurun sejak meninggalnya Patih Gajah Mada.

Untuk memperkuat ikatan kerajaan Melaka terhadap kerajaan Keritang, maka Sultan Mansyursyah mengawinkan salah seorang puterinya dengan Raja Keritang yang berjulukan Raja Merlang II. Setelah perkawinan itu, raja Merlang pun menetap di Melaka.

http://www.mbahgewor/search?q=sejarah-kerajaan-keritang-indragiri
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor