Sufyan Bin Khalid



-  Termasuk pemeran paling gencar dan menonjol melaksanakan perbuatan dosa, kejahatan, dan pengrusakan.
-  Penentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
-  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abdullah bin Unais kepadanya lantas ia membunuhnya.

Mereka tidak terikat melainkan dengan tali kefajiran, menumpahkan darah, merampas harta, merusak kehormatan, berperilaku buruk dan pemilik maksud dan tujuan-tujuan yang paling buruk.

Siapakah Mereka?

Agar semakin terang citra kelompok yang jahat lagi buruk dari Hudzail, Lihyan, dan orang-orang perusak dari kalangan Arab ini, maka dengarkanlah perkataan penyair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang menggambarkan mereka:

Seandainya keburukan diciptakan sebagai insan yang mengajak mereka bicara pasti ia tiba menjadi orang terbaik di antara mereka. Terlihat tanda keburukan di mata mereka bagaikan tanda alasannya yaitu tapak keledai betina. Kuburan menangis apabila tidak ada yang mati dari mereka hingga ia berteriak pada orang yang ada di bumi ketika kiamat. Sebagaimana landak malu apabila ia dikagetkan, ia sembunyi di siang hari dan tampak berjalan ketika malam hari.

Adapun mengenai bejatnya kekufuran, kecintaan mereka kepada perkara yang jelek, dan kelancangan mereka melaksanakan kehinaan dan kekejian tanpa malu, tersebut bahwa Hudzail meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mereka akan memeluk Isam, supaya dihalalkan bagi mereka berbuat zina, mereka tidak melihat perkara zina sebagai perkara yang keji, perbuatan buruk mereka menutupi amalan mereka. Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata dalam mencela dan mencerca mereka alasannya yaitu hal itu:

Hudzail meminta izin melaksanakan perbuatan keji kepada Rasulullah. Dia sesat dan menyimpang dengan permintaannya itu. Mereka meminta kepada Rasul apa yang tidak akan Beliau berikan. Hingga mati dan mereka yaitu orang-orang Arab yang tercela. Selamanya tidak akan pernah engkau lihat Hudzail seorang penyeru yang menyeru kehormatan jauh dari hal negatif. Mereka mengharapkan kecelakaan dari kekejian itu, mereka meminta sesuatu yang diharamkan dalam Alquran.

Kejelekan serta banyak sekali kerendahan Sufyan bin Khalid aI-Hudzali, dijadikan umpan untuk menarik setiap orang kafir yang menentang, yang sangat enggan melaksanakan kebajikan, dan melanggar batas. Dia menentukan orang-orang pinggiran dari Bani Lihyan dan yang lainnya. Alangkah bagusnya perkataan Hassan:

Celakalah bagi Lihyan di setiap keadaan Mereka disebutkan dalam Quran sebagai penyebab kerusakan.

Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berencana untuk mendatangi orang yang kaku lagi kasar dan bejat ini dengan tiba-tiba, diluar perhitungan dan planning mereka, supaya Beliau menumpasnya lebih awal. Lalu apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?!
Orang yang Mengorbankan Dirinya dengan Berani

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpikir mengenai sarana yang sanggup membinasakan orang yang sombong itu, yakni Sufyan bin Khalid. Hal ini dilakukan sebelum bertambah kesombongannya, menyebar bahayanya, dan meluas anggotanya yang terdiri dari para setan yang berdosa di kalangan Arab dan yang terkucil dari mereka, maka Beliau mendapati bahwa pendekar yang berani yaitu Abdullah bin Unais al-Anshari al-Juhani, dialah orang yang mengemban pengorbanan amat besar dalam sejarah Anshar dan dialah yang menghabisi Sufyan bin Khalid al-Hudzali.

Abdullah bin Unais termasuk orang yang langka dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keberanian, kepahlawanan, dan ketangkasan. Dia tidak takut mati dalam menghadapi musuh.

Abdullah bin Unais tergolong orang yang dikenal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keberanian dan kepemimpinannya di garis depan, pendekar juga Sang Pembela.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskannya tatkala Beliau melihat tidak seorang pun dari para pendekar di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhu yang sanggup pantas mengembannya selainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam insan yang paling tahu ihwal keadaan juga tingkat kepahlawanan para sahabatnya, demikian pula paling tahu akan keberanian mereka menghadapi final hidup di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu sebagai bukti dalam memenuhi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila Beliau menyeru mereka kepada kehidupan yang abadi selamanya.

Bagaimana Ciri-Cirinya Wahai Rasulullah?

Abdullah bin Unais tidak ragu dalam menjalankan kiprah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi beliau tidak mengetahui lelaki yang dimaksud, yaitu Sufyan bin Khalid al-Hudzali. Maka beliau bertanya dengan penuh etika dan pengagungan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana ciri-cirinya Wahai Rasulullah?”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apabila melihatnya, engkau takut kepadanya dan berusaha untuk menghindarinya, kamu dapati beliau mengagetkan dan mengingatkanmu akan setan.”

Sifat apa ini?! Benar-benar sifat yang angker dan menciutkan, mencabut jantung dari sela-sela tulang rusuk orang yang mendengarnya. Membuat takut pendekar paling berani dan paling cekatan untuk maju menghadapi si Kafir yang mirip setan itu.
Tatkala sang pembela, Abdullah bin Unais bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ihwal ciri Sufyan bin Khalid, Beliau pun menggambarkannya dengan benar, selaksa setan yang amat jahat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensifati seseorang yang memusuhi Islam mirip Beliau mensifatinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abdullah bin Unais untuk membunuh Sufyan bin Khalid –semoga Allah menghinakannya- secara rahasia, sehingga info itu tidak terdengar oleh Sufyan yang mengakibatkan beliau bersiap-siap, risikonya kesempatan kaum muslimin untuk membunuhnya menjadi lenyap.

Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu seorang pendekar pemberani, hatinya lapang, tidak takut mati. Dia tidak takut bertemu musuh di medan pertempuran atau peperangan. Karena itulah pilihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dijatuhkan padanya, Beliau memberi tahu ciri Sufyan dengan rinci seraya memberi peringatan kepadanya:

“Apabila engkau melihatnya engkau takut kepadanya dan berusaha menghindarinya, engkau mendapatinya me-ngagetkan dan mengingatkanmu akan setan.”

Abdullah bin Unais berkata dengan penuh etika dan keberanian, “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah kabur sekali pun.” Diriwayatkan pula, “Wahai Rasulullah, demi yang mengutusmu dengan hak, saya tidak takut pada sesuatu pun.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “ltulah tanda antara engkau dengannya.” Untuk menambah peringatan sang pendekar pemberani Abdullah bin Unais terhadapnya, memompa kemauan kuatnya serta menanamkan dalam dirinya benih keberanian.

Gambaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk langsung yang sombong dan berdosa ini menunjukkan bahwa beliau telah hingga pada penampilan yang amat buruk dan buram, tidak lezat dipandang, kepribadian yang ganas, sifat yang buruk, jiwa yang rendah hingga sejajar dengan pemimpin para setan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai referensi yang paling buruk dan pemandangan paling buruk.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menempelkan dosa, kejelekan dan peman-dangan yang buruk pada Sufyan bin Khalid. Suatu hal yang mengakibatkan orang yang melihatnya takut, menggetarkan kaum lelaki yang paling berani dan paling agresif.
Maha Benar Allah dan Rasul-Nya

Setelah Abdullah bin Unais mengetahui tugasnya dan mempelajari keadaan musuh yang akan dihadapinya, beliau keluar mencarinya sendirian. Tidak seorangpun bersamanya melainkan pedang. Dia tidak mengetahui ciri si Jahat Sufyan bin Khalid melainkan apa yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abdullah berjalan menuju sasarannya, beliau bertanya pada orang yang ditemuinya di jalan ihwal Sufyan bin Khalid supaya beliau bertemu dengannya. Tatkala Abdullah hingga di tempat tinggal Sufyan, yang mengumpulkan kaum jahat lagi fakir di kawasan ‘Uranah. Abdullah berjumpa dengan sekumpulan perusak lagi jahat. Dia mendapati gerombolan orang berjalan di belakang Sufyan dan pengikutnya-pengikutnya dari para durjana.

Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu berkata tatkala pandangannya tertuju pada si Bejat Sufyan bin Khalid al-Hudzali:

Tatkala saya melihatnya diriku merasa ciut, saya teringat dengan ciri yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, saya mencicipi perasaan gemetar mirip dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keringat mengucur.

Aku bergumam, “Maha benar Allah dan RasuI-Nya.” Lantas saya menemuinya, saya takut terjadi pertarungan antara diriku dengan dirinya hingga melalaikanku dari shalat. Maka saya melaksanakan shalat seraya berjalan menuju ke tempatnya dengan kode kepala yang membuktikan ruku’ dan sujud? Tatkala saya erat darinya beliau berkata, “Dari mana lelaki ini?”

Aku menjawab, “Dari Khuza’ah, saya mendengar engkau mengumpulkan orang untuk memusuhi Muhammad, saya mendatangimu untuk bergabung.’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan kepada Abdullah bin Unais, “Nisbatkanlah dirimu kepada Khuza’ah.”

Ibnu Nubaih berkata dengan sikap angkuh dan sombong, “Benar, bergotong-royong beliau sedang mengumpulkan orang untuknya.”

Abdullah bin Unais berkata, “Aku berjalan bersamanya, saya mengajaknya bicara dan beliau terkesan dengan pembicaraanku serta saya membacakan syair untuknya.” Abdullah bin Unais terhitung salah seorang penyair di kalangan sahabat.

Perlu diingat bahwa Abdullah bin Unais telah meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkata dengan syair dan Taurat serta dialek pembicaraan yang diterima dan menenangkan si Fajir yang sombong Sufyan bin Khalid hingga beliau tidak mencurigai Abdullah, atau beliau akan merasa ragu dan sangsi akan kedatangannya. Sehingga beliau sanggup menyakinkan lelaki jahat itu bahwa beliau mendatanginya untuk bergabung dengan kelom-poknya yang ganas.

Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu berkata ketika sedang memaparkan pembicaraannya kepada Sufyan supaya pujiannya diterima,

“Sungguh absurd apa yang dilakukan Muhammad dengan agama gres ini, beliau menyelisihi nenek moyang dan membodohkan pe-mikiran mereka.”

Sufyan berkata memuji kalimat Abdullah bin Unais dan beliau telah tersanjung, “Sesungguhnya beliau –maksudnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak bertemu dengan orang yang selevel denganku.”

Inilah hakekat yang menunjukkan mukjizat kenabian, kalimat ini diucapkan oleh orang yang sombong lagi hina, bahwa tidak ada yang menyerupainya, orang yang sangat rendah, hina dan penuh dengan dosa. Sungguh benar Rasulullah, beliau menyifatinya persis dengan fakta.
Bagaimana Terbunuhnya Thaghut Ini

Bukan hal yang praktis bagi Abdullah bin Unais untuk membunuh si Jahat, melainkan dengan menghadirkan keberanian dan hikmah. Abdullah bin Unais menggambarkan Sufyan bin Khalid dengan mengatakan: Tatkala beliau berjalan dengan tongkat seolah-olah beliau mengguncang bumi.

Kalau begitu, pesan tersirat disini menuntut ketenangan dan sandiwara unik. Abdullah berjalan bersama lelaki jahat yang kesetanan ini, langkahnya seakan mengguncang bumi dikarenakan berat pijakan, juga sifat sombongnya, Abdullah berjalan bersamanya sambil bercakap-cakap hingga hingga ke tempat persembunyian, kawan-kawannya berpencar ke rumah yang erat disekelilingnya, mereka mengelilinginya. Saat itu beliau bet-kata kepada Abdullah bin Unais, “Kemarilah wahai saudaraku dari Khuza’ah.”

Aku mendekatinya, beliau menyodorkan padaku gelas supaya saya meminum susu. Lantas saya meminumnya kemudian saya kembalikan kepadanya, maka beliau mengisinya mirip mengisi unta. Kemudian beliau berkata, “Duduklah.” Aku pun duduk bersamanya hingga malam tiba untuk menyelimuti kehidupan dengan kegelapan, sunyilah kebisingan orang-orang jahat disekitarnya dan mereka pun tidur. Aku pun menunggu hingga beliau tertidur nyenyak, kemudian saya pun. mengambil kesempatan ketika beliau lalai dengan mengayunkan pedang, lantas saya membunuhnya dan kubawa kepalanya dan kutinggalkan para wanitanya menangis.

Kemudian saya menuju ke gunung dan mendakinya, lantas saya masuk ke sebuah gua. Orang-orang berkuda mencari sedang saya bersembunyi di gua, satang laba-laba menutupi gua. Seseorang tiba di lisan goa dengan membawa kendi yang besar beliau memegang kedua sandalnya –sedangkan saya tidak beralas kaki-, maka orang itu meletakkan sandal dan kendinya kemudian duduk di pintunya, lantas berkata pada teman-temannya, “Di gua tidak ada seorang pun, selanjutnya mereka bubar pulang.”

Aku merasa sangat kehausan, saya keluar dan meminum apa yang di kendi kemudian mengambil kedua sandal dan memakainya, saya pun berjalan di malam hari dan bersembunyi di slang hari hingga hingga ke Madinah. Maka kudapati Rasulullah di Masjid, tatkala Beliau melihatku Beliau menyapa, “Alangkah beruntungnya wajahmu.”

Aku menimpali, “Sungguh beruntung wajahmu wahai Rasulullah, saya telah membunuhnya.”

Beliau menjawab, “Engkau benar.”

Kemudian kuletakkan kepala lelaki buruk itu di depan Rasulullah dan kuceritakan apa yang kualami. Beliau menjulurkan tongkat itu kepadaku seraya bersabda, “Pakailah tongkat ini di surga, bergotong-royong orang-orang yang menggunakan tongkat di nirwana amat sedikit.”
Tongkat barakah ini selalu dipegang Abdullah bin Unais hingga tatkala ia meninggal tahun 54 H, beliau berwasiat supaya tongkatnya disisipkan di kain kafannya, maka mereka pun melakukannya dan ia dikubur bersamanya.

Terbunuhnya Sufyan bin Khalid bin Nubaih di tahun keempat Hijriah. Musa bin ‘Uqbah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan para sahabatnya mengenai Abdullah bin Unais yang membunuh Sufyan bin Khalid, sebelum kedatangan Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu. Ini menunjukkan kenabiannya, berkenaan dengan hal ini Abdullah bin Unais telah mengarang syair berikut:
Aku tinggalkan anak sapi mirip anak unta, sedangkan di sekitarnya orang-orang berteriak sambil menyobek saku berkeping-keping. Aku menebasnya sedangkan kambing di belakangku dan di belakangnya, dengan pedang Muhammad yang lebih putih dari cairan besi. Dia menebas kepala seolah-olah kobaran api yang menyala dikarenakan ada yang menyulutnya. Aku berkata kepadanya, Bunuhlah ia dengan sabetan orang yang agung, higienis lurus di atas agama Nabi Muhammad. Kebiasaanku apabila mendapati Nabi mengeluh ihwal orang kafir, saya bersegera mendahuluinya dengan peang dan tangan.

Demikianlah Abdullah bin Unais menghabisi pemimpin orang kafir, Sufyan bin Khalid aI-Hudzali. Dia menumpas kelompok Sufyan bin Khalid –semoga dilaknat Allah- yang berhak menerima Neraka alasannya yaitu dosanya dan ia merupakan seburuk-buruk tempat, walhasil Allah telah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan dengan mereka.

Dia Masuk Neraka dan Kekal di Dalamnya

Sufyan bin Khalid bin Nabih aI-Hudzali sang lelaki yang penuh dosa termasuk salah seorang yang jahat hidup di masa kenabian, yang melarang, memusuhi, merintangi dan menyelisihi Allah dan Rasul-Nya. Mereka menyembunyikan depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bekerja untuk meruntuhkan dakwah Islam dengan banyak sekali cara, Allah menghinakan mereka, mencelakakan dan melaknat mereka serta mengakibatkan neraka tempat kembali mereka, abadi di dalamnya sebagai imbalan atas perbuatan tangan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan jawaban bagi orang yang berusaha berbuat kerusakan di muka bumi atau menjadi penyebab kerusakan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan RasuI-Nya dan menciptakan kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik [memotong ajun dan kaki kiri, dan kalau melaksanakan lagi, maka dipotong tangan kiri dan kaki kahan. Atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di alam abadi mereka peroleh siksaan yang besar.” (QS. AI-Maa’idah: 33)

Sufyan bin Khalid aI-Hudzali termasuk salah seorang .ang memerangi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan permusuhannya terhadap Rasul-Nya yang mulia, tidak memeluk Islam dan tidak mendapatkan agama yang benar. Akan tetapi beliau mengumpulkan orang-orang fasiq disekitarnya, orang-orang murtad serta para penentang yang seakan sanggup meruntuhkan gunung. Mereka berusaha merampas jiwa, darah dan harta kaum muslimin di Madinah sedapat mungkin kalau ada jalan.
Sufyan merupakan pemimpin mereka dan aktivis per-buatan itu, maka beliau berhak menerima kehinaan di dunia, adapun di akhirat, tempat kembalinya yaitu Neraka yang di dalamnya beliau tidak hidup untuk bernafas lega dan tidak pula mati untuk beristirahat dari siksa.

Dalam Al-Qur’an aI-Karim terdapat info ihwal masuk-nya orang yang ingkar kepada Allah dan RasuI-Nya ke dalam Neraka mirip Sufyan bin Khalid yang melampaui batas dalam kemaksiatannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasuI-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, pasti Allah memasukkannya ke dalam api Neraka sedang ia abadi di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. An-Nisaa’: 14)

Lelaki berdosa Sufyan bin Khalid ini telah menempuh jalan orang-orang yang berbuat kejahatan, kezhaliman, keku-furan dan kemaksiatan. Kesalahannya telah mengubumya. Dia tergolong penghuni Neraka yang kekal, didalamnya bersama orang-orang yang kekal, yaitu mereka patut berhak mendapatkan kalimat Rabb-mu yang benar lagi adil.

Di dalam hadits Nabawi yang mulia juga terdapat keterangan mengenai adzab bagi orang yang dibunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau Nabi menyuruh orang untuk membunuhnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap orang yang dibunuh Nabi atau Nabi menyuruhnya untuk dibunuh dizamannya, beliau akan diadzab semenjak terbunuh, hingga ditiup sangkakala.”

Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M.
http://kisahmuslim.com
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor