Urwah Bin Az-Zubair

(Kakinya Dibuntungi Dengan Gergaji, Karena Menolak Khamar Dan Bius)

"Barangsiapa ingin melihat seseorang dari hebat Surga, hendaklah ia melihat 'Urwah bin az-Zubair" (Abdul Malik bin Marwan)

Baru saja matahari sore itu memancarkan sinarnya di Baitul Haram dan mempersilahkan jiwa-jiwa yang bening untuk mengunjungi buminya yang suci tatkala sisa-sisa para sobat Rasulullah SAW dan para pembesar tabi'in mulai berthawaf di sekeliling Ka'bah, mengharumkan suasana dengan pekikan tahlil dan takbir dan memenuhi hamparan dengan do'a-do'a kebaikan.

Dan tatkala orang-orang menciptakan bundar per-kelompok di sekitar Ka'bah nan agung, yang bangun kokoh di tengah Baitul Haram dalam kondisi yang berwibawa dan agung. Mereka memenuhi pandangan dengan keindahannya yang memikat, dan memoderator pembicaraan-pembicaraan di antara mereka tanpa keisengan dan perkataan dosa.

Di bersahabat Rukun Yamani, duduklah empat orang perjaka yang masih dewasa dan terhormat nasabnya serta berbaju harum seperti mereka bagaikan merpati-merpati masjid, berbaju mengkilat dan menciptakan hati jinak karenanya.

Mereka itu ialah 'Abdullah bin az-Zubair, saudaranya; Mus'ab bin az-Zubair, saudara mereka berdua; Urwah bin az-Zubair dan Abdul Malik bin Marwan.
Terjadi perbincangan ringan dan sejuk di antara bawah umur muda ini, kemudian tidak usang kemudian salah seorang di antara mereka berkata,

"Hendaklah masing-masing dari kita memohon kepada Allah apa yang hendak ia cita-citakan."

Maka khayalan mereka terbang ke alam ghaib nan luas, angan-angan mereka berputar-putar di taman-taman harapan nan hijau, kemudian Abdullah bin az-Zubair berkata,

"Cita-citaku, saya ingin menguasai Hijaz dan memegang khilafah."

Saudaranya, Mus'ab berkata,
"Kalau aku, saya ingin menguasai dua Irak (Kufah dan Bashrah) sehingga tidak ada orang yang menyaingiku."

Sedangkan Abdul Malik bin Marwan berkata,
"Jika anda berdua hanya puas dengan hal itu saja, maka saya tidak akan puas kecuali menguasai dunia semuanya dan saya ingin memegang kekhilifahan sehabis Muawiyah bin Abi Sufyan."

Sementara 'Urwah bin az-Zubair bengong dan tidak berbicara satu kalimat pun, maka saudara-saudaranya tersebut menoleh ke arahnya dan berkata,
"Apa yang kau cita-citakan wahai Urwah?"

Dia menjawab, "Mudah-mudahan Allah memberkati kalian semua terhadap apa yang kalian cita-citakan dalam urusan dunia kalian. Sedangkan saya hanya bercita-cita ingin menjadi seorang 'alim yang 'Amil (Mengamalkan ilmunya), orang-orang mencar ilmu Kitab Rabb, Sunnah Nabi dan hukum-hukum agama mereka kepadaku dan saya mendapatkan keberuntungan di alam abadi dengan ridla Allah dan mendapatkan surga-Nya."

Kemudian waktu pun berjalan begitu cepat, sehingga memang kemudian Abdullah bin az-Zubair dibai'at menjadi Khalifah sehabis simpulan hidup Yazid bin Muawiyah (Khalifah ke dua dari khilafah Bani Umayyah), dan ia pun menguasai daerah Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan Iraq. Kemudian ia dibunuh di sisi Ka'bah tidak jauh dari tempat dimana ia pernah bercita-cita perihal hal itu.

Dan ternyata Mus'ab bin Az-Zubair pun menguasai pemerintahan Iraq sepeninggal saudaranya, 'Abdullah namun ia juga dibunuh di dalam mempertahankan kekuasaannya tersebut.

Demikian pula, Abdul Malik bin Marwan memangku jabatan Khalifah sehabis ayahnya wafat, dan di tangannya kaum Muslim bersatu sehabis pembunuhan terhadap 'Abdullah bin az-Zubair dan saudaranya, Mus'ab di tangan pasukan-pasukannya. Kemudian ia menjadi penguasa terbesar di dunia pada zamannya.

Lalu bagaimana dengan 'Urwah bin Az-Zubair? Mari kita mulai kisahnya dari pertama.

'Urwah bin az-Zubair dilahirkan setahun sebelum berakhirnya kekhilafahan Umar al-Faruq, di dalam keluarga paling terpandang dan terhormat kedudukannya dari sekian banyak keluarga-keluarga kaum muslimin.

Ayahnya ialah az-Zubair bin al-'Awwam, sobat bersahabat dan pendukung Rasulullah SAW, orang pertama yang menghunus pedang di dalam Islam dan salah satu dari sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga.

Ibunya berjulukan Asma` binti Abu Bakar yang bergelar berjuluk "Dzatun Nithaqain" (Pemilik dua ikat pinggang. Hal ini lantaran ia merobek ikat pinggangnya menjadi dua pada ketika hijrah, salah satunya ia gunakan untuk mengikat bekal Rasulullah SAW dan yang satu lagi ia gunakan untuk mengikat bekal makanannya).

Kakeknya pancar (dari pihak) ibunya tidak lain ialah Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalifah Rasulullah SAW dan sahabatnya ketika berada di dalam goa (Tsur). Neneknya pancar (dari pihak) ayahnya berjulukan Shafiyyah binti Abdul Muththalib bibi Rasulullah SAW sedangkan bibinya ialah Ummul Mukminin 'Aisyah RA. Pada ketika mayat 'Aisyah dikubur, 'Urwah sendiri yang turun ke kuburnya dan meratakan liang lahadnya dengan kedua tangannya.

Apakah anda menduga bahwa sehabis kedudukan ini, ada kedudukan lain dan bahwa di atas kemuliaan ini, ada kemuliaan lain selain kemuliaan dogma dan kewibawaan Islam?

Untuk merealisasikan keinginan yang telah diharapkannya perkenaan Allah atasnya ketika di sisi Ka'bah itu, ia tekun di dalam mencari ilmu dan memfokuskan diri untuknya serta memakai kesempatan untuk menimba ilmu dari sisa-sisa para sobat Rasulullah SAW yang masih hidup.

Dia rajin mendatangi rumah-rumah mereka, shalat di belakang mereka dan mengikuti pengajian-pengajian mereka, sehingga ia berhasil mentrasfer riwayat dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa'id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas dan an-Nu'man bin Basyir. Dia aneka macam mentransfer riwayat dari bibinya, 'Aisyah Ummul Mukminin sehingga ia menjadi salah satu dari tujuh Ahli fiqih Madinah (al-Fuqahâ` as-Sab'ah) yang menjadi referensi kaum muslimin di dalam mempelajari agama mereka.

Para pejabat yang shaleh meminta derma mereka di dalam mengemban kiprah yang dilimpahkan Allah kepada mereka terhadap urusan umat dan negara.
Di antara misalnya ialah tindakan Umar bin Abdul Aziz ketika tiba ke Madinah sebagai gubernurnya atas mandat dari al-Walid bin Abdul Malik. Orang-orang tiba kepadanya untuk memberikan salam.

Ketika selesai melaksanakan shalat dhuhur, ia memanggil sepuluh Ahli fiqih Madinah yang diketuai oleh 'Urwah bin Az-Zubair. Ketika mereka sudah berada di sisinya, ia menyambut mereka dengan sambutan hangat dan memuliakan tempat duduk mereka. Kemudian ia memuji Allah 'Azza wa Jalla dan menyanjung-Nya dengan sanjungan yang pantas bagi-Nya, kemudian berkata,

"Sesungguhnya saya memanggil kalian semua untuk sesuatu yang kiranya kalian semua diganjar pahala karenanya dan menjadi pendukung-pendukungku dalam berjalan di atas kebenaran. Aku tidak ingin memutuskan sesuatu tanpa pendapat kalian semua, atau pendapat orang yang hadir dari kalian-kalian semua. Jika kalian semua melihat seseorang menyakit orang lain, atau mendengar suatu kedzaliman dilakukan oleh pegawaiku, maka demi Allah, saya meminta semoga kalian melaporkannya kepadaku."

Maka 'Urwah bin az-Zubair mendo'akan kebaikan baginyanya dan memohon kepada Allah semoga menganugerahinya ketepatan (dalam bertindak dan berbicara) dan mendapatkan petunjuk.

'Urwah bin az-Zubair benar-benar menyatukan ilmu dan amal. Dia banyak berpuasa di kala hari demikian teriknya dan banyak shalat malam di kala malam gelap gulit, selalu membasahkan lisannya dengan dzikir kepada Allah Ta'ala.

Selain itu, ia selalu menyertai Kitab Allah 'Azza wa Jalla dan tekun membacanya. Setiap harinya, ia membaca seperempat al-Qur'an dengan melihat ke Mushafnya.

Kemudian ia membacanya di dalam shalat malam hari dengan hafalan.
Dia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya itu sejak menginjak dewasa hingga wafatnya, kecuali satu kali disebabkan adanya petaka yang menimpanya. Mengenai apa petaka itu, akan dihadirkan kepada pembaca nanti.

Sungguh 'Urwah bin az-Zubair mendapatkan kedamaian hati, kesegaran mata dan nirwana dunia di dalam shalatnya, karenanya, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya, melengkapi syarat rukunnya dengan tepat dan berlama-lama di dalamnya.

Diriwayatkan tentangnya bahwa ia pernah melihat seorang yang sedang melaksanakan shalat dengan ringan (cepat), maka ketika orang itu telah selesai shalat, ia memanggilnya dan berkata kepadanya, "Wahai anak saudaraku, Apakah anda tidak mempunyai keperluan kepada Tuhanmu 'Azza wa Jalla?! Demi Allah bekerjsama saya memohon kepada Allah di dalam shalatku segala sesuatu bahkan garam."

'Urwah bin Az-Zubair ialah juga seorang dermawan, pema'af dan pemurah. Di antara teladan kedermawanannya, bahwa ia mempunyai sebuah kebun yang paling luas di seantero Madinah. Airnya nikmat, pohon-pohonnya rindang dan kurma-kurmanya tinggi. Dia memagari kebunnya selama setahun untuk menjaga semoga pohon-pohonnya terhindar dari gangguan hewan dan keusilan anak-anak. Dan, kalau sudah tiba waktu panen, buah-buahnya siap dipetik dan siap dimakan, ia menghancurkan kembali pagar kebunnya tersebut di banyak arah supaya orang-orang gampang untuk memasukinya.

Maka mereka pun memasukinya, tiba dan kembali untuk memakan buah-buahnya dan membawanya pulang dengan sesuka hati. Dan setiap kali ia memasuki kebunnya ini, ia mengulang-ulang firman Allah, "Dan mengapa kau tidak mengucapkan tatkala kau memasuki kebunmu " MASYA ALLAH, LAA QUWWATA ILLA BILLAH" (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)" (Q.,s.al-Kahfi:39)

Dan pada suatu tahun dari kekhilafahan al-Walid bin Abdul Malik (khalifah ke enam dari khalifah-khalifah Bani Umayyah, dan pada zamannya kekuasaan Islam mencapai puncaknya), Allah Azza wa Jalla berkehendak untuk menguji 'Urwah bin az-Zubair dengan ujian yang berat, yang tidak akan ada orang yang bisa bertahan menghadapinya kecuali orang yang hatinya penuh dengan keimanan dan keyakinan.

Khalifah kaum muslimin mengundang 'Urwah bin az-Zubair supaya mengunjunginya di Damaskus, kemudian Urwah memenuhi seruan tersebut dan membawa serta putra tertuanya.

Dan ketika sudah datang, Khalifah menyambutnya dengan sambutan yang hangat dan memuliakannya dengan penuh keagungan. Namun ketika di sana, Allah SWT berkehendak lain, tatkala putra 'Urwah memasuki sangkar kuda al-Walid untuk bermain-main dengan kuda-kudanya yang tangkas, kemudian salah satu dari kuda itu menendangnya dengan keras hingga ia meninggal seketika.

Belum usang sang ayah yang bersedih menguburkan putranya, salah satu kakinya terkena tumor ganas (semacam kusta) yang sanggup menjalar ke seluruh tubuh. Betisnya membengkak dan tumor itu dengan sangat cepat berkembang dan menjalar.

Karena itu, Khalifah memanggil para dokter dari segala penjuru untuk tamunya dan meminta mereka untuk mengobatinya dengan segala cara. Akan tetapi, para dokter setuju bahwa tidak ada jalan lain untuk mengatasinya selain memotong betis 'Urwah, sebelum tumor itu menjalar ke seluruh tubuhnya dan merenggut nyawanya. Maka, tidak ada alasan lagi untuk tidak mendapatkan kenyataan itu.

Ketika dokter bedah tiba untuk memotong betis 'Urwah dan membawa peralatannya untuk membelah daging serta gergaji untuk memotong tulang, ia berkata kepada 'Urwah,

"Menurutku anda harus meminum sesuatu yang memabukkan supaya anda tidak merasa sakit ketika kaki anda dipotong."

Maka Urwah berkata,
"O..tidak, itu tidak mungkin! Aku tidak akan memakai sesuatu yang haram terhadap kesembuhan yang saya harapkan."

Maka dokter itu berkata lagi,
"Kalau begitu saya akan membius anda."

Urwah berkata,
"Aku tidak ingin, kalau ada satu dari anggota badanku yang diambil sedangkan saya tidak mencicipi sakitnya. Aku hanya mengharap pahala di sisi Allah atas hal ini."

Ketika dokter bedah itu mulai memotong betis, datanglah beberapa orang tokoh kepada 'Urwah, maka 'Urwah pun berkata,
"Untuk apa mereka datang?."

Ada yang menjawab,
"Mereka didatangkan untuk memegang anda, barangkali anda mencicipi sakit yang amat sangat, kemudian anda menarik kaki anda dan balasannya membahayakan anda sendiri."

Lalu 'Urwah berkata,
"Suruh mereka kembali. Aku tidak membutuhkan mereka dan berharap kalian merasa cukup dengan dzikir dan tasbih yang saya ucapkan."

Kemudian dokter mendekatinya dan memotong dagingnya dengan alat bedah, dan ketika hingga kepada tulang, ia meletakkan gergaji padanya dan mulai menggergajinya, sementara 'Urwah membaca, "Lâ ilâha illallâh, wallâhu Akbar."

Dokter terus menggergaji, sedangkan 'Urwah tak henti bertahlil dan bertakbir hingga balasannya kaki itu buntung.

Kemudian dipanaskanlah minyak di dalam baskom besi, kemudian kaki Urwah dicelupkan ke dalamnya untuk menghentikan darah yang keluar dan menutup luka. Ketika itulah, 'Urwah pingsan sekian usang yang menghalanginya untuk membaca jatah membaca Kitab Allah pada hari itu. Dan itu ialah satu-satunya kebaikan (bacaan al-Qur'an) yang terlewati olehnya sejak ia menginjak remaja. Dan ketika siuman, 'Urwah meminta potongan kakinya kemudian mengelus-elus dengan tangannya dan menimang-nimangnya seraya berkata,

"Sungguh, Demi Dzat Yang Mendorongku untuk mengajakmu berjalan di tengah malam menuju masjid, Dia Maha mengetahui bahwa saya tidak pernah sekalipun membawamu berjalan kepada hal yang haram."

Kemudian ia mengucapkan bait-bait sya'ir karya Ma'n bin Aus,

Demi Engkau, saya tidak pernah menginjakkan telapak tanganku pada sesuatu yang mewaspadai
Kakiku tidak pernah mengajakku untuk melaksanakan kekejian
Telinga dan mataku tidak pernah menggiringku kepadanya
Pendapatku dan akalku tidak pernah menunjuk kepadanya
Ketahuilah, bekerjsama tidaklah petaka menimpaku sepanjang masa melainkan ia telah menimpa orang sebelumku

Al-Walid bin Abdul Malik benar-benar merasa sedih terhadap petaka yang menimpa tamu agungnya. Dia kehilangan putranya, kemudian dalam beberapa hari kehilangan kakinya pula, maka al-Walid tidak bosan-bosan menjenguknya dan mensugestinya untuk bersabar terhadap petaka yang dialaminya.

Kebetulan ketika itu, ada sekelompok orang dari Bani 'Abs singgah di kediaman Khalifah, di antara mereka ada seorang buta, kemudian al-Walid bertanya kepadanya perihal alasannya ialah kebutaannya, kemudian orang itu mejawab,

"Wahai Amirul mukminin, di dalam komunitas Bani 'Abs tidak ada orang yang harta, keluarga dan anaknya lebih banyak dariku. Lalu saya bersama harta dan keluargaku singgah di pedalaman suatu lembah dari lembah-lembah tempat tinggal kaumku, kemudian terjadi banjir besar yang belum pernah saya saksikan sebelumnya. Banjir itu menghanyutkan semua yang saya miliki; harta, keluarga dana anak. Yang tersisa hanyalah seekor onta dan bayi yang gres lahir. Sedangkan onta yang tersisa itu ialah onta yang binal sehingga lepas. Akibatnya, saya meninggalkan sang bayi tidur di atas tanah untuk mengejar onta tersebut. Belum begitu jauh saya meninggalkan tempat ku hingga tiba-tiba saya mendengar jeritan bayi tersebut. Aku menoleh namun ternyata kepalanya telah berada di lisan serigala yang sedang menyantapnya. Aku segera menyongsongnya namun sayang saya tidak bisa menyelamatkannya, lantaran srigala telah membunuhnya. Lalu saya mengejar onta dan ketika saya berada di dekatnya, ia menendangku dengan kakinya. Tendangan itu mengenai wajahku, sehingga keningku robek dan mataku buta. Begitulah saya mendapatkan diriku di dalam satu malam telah menjadi orang yang tanpa keluarga, anak, harta dan mata."

Maka al-Walid berkata kepada pengawalnya,
"Ajaklah orang ini menemui tamu kita 'Urwah bin az-Zubair. Mintalah ia mengisahkan ceritanya supaya 'Urwah mengetahui bahwa ternyata masih ada orang yang mengalami cobaan yang lebih berat darinya."

Ketika 'Urwah diangkut ke Madinah dan dipertemukan dengan keluarganya, ia mendahului mereka dengan ucapan,

"Jangan kalian merasa ngeri terhadap apa yang kalian lihat. Allah 'Azza wa Jalla telahmenganugerahuiku empat orang anak, kemudian mengambil satu di antara mereka dan masih menyisakan tiga orang lagi. Segala puji hanya untuk-Nya. Dan Dia memberiku empat anggota badan, kemudian Dia mengambil satu darinya dan menyisakan tiga untukku, maka segala puji bagi-Nya. Dia juga telah memberiku empat buah yang mempunyai ujung (kedua tangan dan kedua kaki-red.,), kemudian Dia mengambilnya satu dan menyisakan tiga buah lagi untukku. Dan demi Allah, Jika pun Dia telah mengambil sedikit dariku namun telah menyisakan banyak untukku. Dan kalau pun Dia mengujiku satu kali namun Dia telah mengaruniaiku kesehatan berkali-kali."

Ketika penduduk Madinah mengetahui kedatangan imam dan orang 'alim mereka, 'Urwah bin az-Zubair, mereka berbondong-bondong tiba ke rumahnya untuk menghibur dan menjenguknya. Di antara untaian kata ta'ziah yang paling berkesan ialah perkataan Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah kepadanya,

"Bergembiralah wahai Abu Abdillah! salah satu anggota tubuh dan anakmu telah mendahuluimu menuju nirwana dan yang keseluruhannya akan mengikuti yang sebagiannya itu, insya Allah Ta'ala. Sungguh, Allah telah menyisakan sesuatu darimu untuk kami yang sangat kami butuhkan dan perlukan, yaitu ilmu, fiqih dan pendapat anda. Mudah-mudahan Allah mengakibatkan hal itu bermanfaat bagimu dan kami. Allah lah Dzat Yang Maha menanggung pahala untukmu dan Yang menjamin jawaban kebaikan amalmu."

'Urwah bin az-Zubair tetap menjadi menara hidayah, petunjuk kebahagiaan dan penyeru kebaikan bagi kaum muslimin sepanjang hidupnya. Dia sangat peduli terhadap pendidikan anak-anaknya, khususnya, dan bawah umur kaum muslimin lainnya, umumnya. Dia tidak pernah membiarkan kesempatan berlalu tanpa digunakannya untuk menawarkan penyuluhan dan nasehat kepada mereka.

Di antara contohnya, ia selalu mendorong anak-anaknya untuk menuntut ilmu ketika berkata kepada mereka,

"Wahai anakku, tuntutlah ilmu dan kerahkanlah segala kemampuan dengan semestinya. Karena, kalau kau kini ini hanya sebagai orang-orang kecil, mudahan-mudahan saja berkat ilmu, Allah mengakibatkan kau orang-orang besar."

Penuturan lainnya,
"Aduh betapa buruknya, apakah di dunia ini ada sesuatu yang lebih jelek daripada orang bau tanah yang bodoh?."

Dia juga menyuruh mereka untuk menilai sedekah sebagai hadiah yang dipersembahkan untuk Allah 'Azza wa Jalla. Yaitu, dalam ucapannya,

"Wahai anakku, janganlah sekali-kali salah seorang di antara kau mempersembahkan hadiah kepada Rabb-nya berupa sesuatu yang ia merasa malu kalau dihadiahkan kepada tokoh yang dimuliakan dari kaumnya. Karena Allah Ta'ala ialah Dzat Yang Paling Mulia, dan Paling Dermawan serta Yang Paling Berhak untuk dipilihkan untuk-Nya."

Dia juga pernah menawarkan pandangan kepada mereka (anak-anaknya) perihal tipikal insan dan seakan mengajak mereka menembus eksklusif menuju siapa inti dari mereka itu,

"Wahai anakku, kalau kau melihat seseorang berbuat kebaikan yang amat menawan, maka harapkanlah kebaikan dengannya meskipun di mata orang lain, ia seorang jahat, lantaran kebaikan itu mempunyai banyak saudara. Dan kalau kau melihat seseorang berbuat keburukan yang nyata, maka menghindarlah darinya meskipun di mata orang lain, ia ialah orang baik, lantaran keburukan itu juga mempunyai banyak saudara. Dan ketahuilah bahwa kebaikan akan memperlihatkan kepada saudara-saudaranya (jenis-jenisnya yang lain), demikian pula dengan keburukan."

Dia juga berwasiat kepada anak-anaknya supaya berlaku lemah lembut, berbicara baik dan bermuka ramah. Dia berkata,
"Wahai anakku, sebagaimana tertulis di dalam hikmah, 'Hendaklah kau berkata-kata baik dan berwajah ramah pasti kau akan lebih dicintai orang ketimbang cinta mereka kepada orang yang selalu menawarkan mereka hadiah."

Bilamana ia melihat insan cenderung untuk berfoya-foya dan menilai baik kenikmatan duniawi, ia mengingatkan mereka akan kondisi Rasulullah SAW yang penuh dengan kesahajaan kehidupan dan kepapaan.

Di antara misalnya ialah sebagaimana yang diceritakan Muhammad bin al-Munkadir (seorang tabi'i dari penduduk Madinah, wafat pada tahun 130 H),

"Saat 'Urwah bin az-Zubair menemuiku dan memegang tanganku, ia berkata, 'Wahai Abu Abdullah.'
Lalu saya menjawab, "Labbaik."
Kemudian ia berkata,
"Saat saya menemui Ummul mukminin 'Aisyah RA, ia berkata, 'Wahai anakku.'
Lalu saya menjawab, 'Labbaik.'
Beliau berkata lagi, 'Demi Allah, bekerjsama kami dahulu pernah hingga selama empat puluh malam tidak menyalakan api di rumah Rasulullah SAW, baik untuk lentera ataupun yang lainnya.'
Lalu saya berkata, 'Wahai Ummi, bagaimana kalian semua sanggup hidup?'
Beliau menjawab, 'Dengan dua benda hitam (Aswadân); kurma dan air.'

Selanjutnya 'Urwah bin az-Zubair hidup hingga mencapai usia 71 tahun, yang diisinya dengan kebaikan, kebajikan dan ketakwaan.

Ketika maut menjelang, ia sedang berpuasa, kemudian keluarganya ngotot memintanyanya semoga berbuka saja namun ia menolak. Sungguh ia telah menolak, lantaran ia berharap kalau kelak ia bisa berbuka dengan seteguk air dari sungai Kautsar di dalam baskom emas dan di tangan bidadari.


CATATAN :
Sebagai materi bacaan, silahkan merujuk ke:

ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa'd, 1:406; 2:382, 387; 3:100; 4:167; 5:334; 8:102.
 
Hilyatu al-Auliya` karya Abu Nuaim, 2/176.
 
Shifat ash-Shafwah, karya Ibnu al-Jauzi, 2:87.
 
Wafayat al-A'yan, karya Ibnu Khalakan, 3: 255.
 
Ansabu al-Asyraf, karya al-Baladziri
 
Jamharatu Ansabi al-'Arab, karya Ibnu Hazm
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent Posts

Entri yang Diunggulkan

Jasa Pelet Mahar Setelah Berhasil

Pesan kata

Jasa pelet Murah Ampuh Terbukti ini dikhususkan hanya untuk pemesan yang MEMBUTUHKAN dalam berpikir dan bertindak dengan baik.
Sadar akan semua syarat yang ada dalam memaharkan jasa pelet Mbah Gewor.
Bukan bersikap seperti anak kecil, labil, dan berharap jasa pelet mahar setelah berhasil dari Mbah Gewor