Diteror Rombongan Hantu Pengusung Mayat

 Dunia ini memang masih banyak orang yang tidak percaya akan keberadaan makhluk halus Diteror Rombongan Hantu Pengusung Mayat

MyMisteri Leony Li - Dunia ini memang masih banyak orang yang tidak percaya akan keberadaan makhluk halus, namun bagi sebagian orang percaya dan yakin bahwa mereka itu ada. Simak kisah selengkapnya dibawah ini.

Dulu, saya juga tidak percaya dengan yang berbau mistis. Namun hal itu berubah sesudah saya sendiri mengalami sebuah insiden yang sangat menyeramkan, sekaligus mengerikan. Pengalaman ini pula yang sekaligus memperlihatkan saya sebagai pelajaran yang berharga.

Kisah mistis ini terjadi di bulan Mei dan telah terjadi 10 tahun silam. Tepatnya malam Minggu Kliwon, tanggal 23 Mei 2004 yang lalu. Dan hingga kini insiden ini masih membekas terang di ingatanku. Mungkin ini akan menjadi sebuah pengalaman mistis yang seram sepanjang hidupku.

Sebagai perjaka yang masih lajang, setiap malam Minggu, saya paling suka menonton hiburan dangdut yang ditangcap oleh orang yang sedang mengadakan pesta hajatan. Baik itu di kampung ku ataupun di desa-desa tetangga.

Selain sekedar mencari hiburan, siapa tahu ada gadis yang mau denganku untuk kujadikan pacar. Biasanya kami selalu pergi berombongan dengan mengendarai sepeda motor.

Awal ceritanya, malam itu terpaksa saya pulang sendirian sesudah menonton program dangdutan di kampung seberang. Jarak kampung ku dengan kampung seberang kurang lebih 2 Km. Jalan penghubung satu-satunya dari kampung ku ke kampung seberang harus melalui sebuah perkebunan karet.

Tapi entah mengapa kampung itu disebut kampung seberang. Menurut orang-orang tua, di kampung ku alasannya ialah letaknya di seberang sungai, maka disebut kampung seberang.

Saat itu semua teman-temanku malam itu sudah pulang duluan. Sebenarnya salah ku sendiri, alasannya ialah sebelumnya kami sudah sepakat, jam setengah dua belas malam harus berkumpul di satu kawasan yang sudah disepakati untuk pulang bersama-sama. Karena keasyikan menonton, hingga saya lupa pada janji itu.

Mungkin alasannya ialah ditunggu-tunggu hingga pukul dua belas saya tidak kunjung muncul, hasilnya temanku memutuskan untuk pulang. Semua teman-temanku mengira, saya sudah pulang duluan. Namun sialnya, malam itu saya tidak membawa kendaraan sendiri. Sewaktu pergi, saya di berbarengan sepeda motor temanku.

Dengan perasaan jengkel, kuputuskan pulang sendirian saja dengan jalan kaki. Apalagi jarak kampung ku tidak begitu jauh. Perasaan takut tak jadi dilema bagiku. Dari kecil saya tak pernah kenal dengan yang namanya takut. Apalagi dengan hantu, saya sama sekali tidak mempercayainya.

Suara jangkrik mengiringi langkah ku menyusuri jalanan yang sunyi. Sesekali bunyi burung hantu terdengar di kejauhan. Pohon-pohon karet bangun diam berjejer di kiri-kanan jalan. Untung saja ketika itu sempurna pada bulan purnama sehingga keadaan jalan tidak begitu gelap.

Untuk mengusir kesepian, sengaja saya bersiul-siul menyanyikan lagu kegemeranku. Anehnya, begitu hingga di tengah-tengah perkebunan karet, entah mengapa tiba-tiba saja tubuh ku merinding. Kulihat jam di tanganku memperlihatkan pukul satu malam.

Namun, tiba-tiba sebatang cabang kayu yang cukup besar jatuh sempurna di depanku. Suaranya mengejutkanku hingga jantungku hampir copot. "Satu langkah lagi, habislah aku," bisik batinku.

Karena menghalangi jalan, kucoba untuk menyingkirkan cabang kayu itu kesamping. Belum lagi cabang kayu itu berhasil saya singkirkan, tiba-tiba terdengar bunyi tawa cekikikan. Nyaring sekali. Hati kecil ku berkata, "jangan-jangan ini Kuntilanak?"

Aku perhatikan sekelilingku namun tidak ada apa-apa. Kembali bunyi tawa cekikikan itu terdengar. Ku perhatikan kembali sekelilingku. Akan tetapi tetap tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan karet yang bangun mematung tertimpa cahaya bulan. Lagi-lagi bunyi tawa cekikikan itu terdengar. Kali ini malah lebih keras dan berulang-ulang. "Benar ini niscaya Kuntilanak" pikirku.

Karena bunyi tawa itu terus saja terdengar, bukannya takut malah timbul rasa jengkelku. Dengan penuh emosi, saya berteriak menantang. "Hei.. Kuntilanak! Jangan ganggu aku. Kalau berani jangan sembunyi-sembunyi, tunjukkan wujudmu. Kau pikir saya takut, dasar setan. Keluar kau"

Begitu saya selesai berteriak, bunyi tawa itu pun berhenti. Karena dari kecil saya dikenal sebagai anak pemberani menghadapi keadaan menyerupai ini, tidak ada setitik pun rasa takut di benakku. Bahkan timbul rasa penasaranku. Seperti apa Kuntilanak itu. Ku tunggu beberapa saat, tapi bunyi tawa itu tidak terdengar lagi.

Kemudian dengan perasaan jengkel kembali saya melangkahkan kakiku.Tapi belum sempat kakiku melangkah, tiba-tiba bahuku ada yang menepuk dari belakang, diiringi sapaan bunyi perempuan.

Dengan terkejut, buru-buru ku putar tubuh ku menghadap kebelakang. Seorang wanita dengan wajah tertunduk bangun sempurna di belakangku. Entah darimana datangnya, buru-buru saya mundur beberapa langkah ke belakang, sambil terus memperhatikan wanita itu. Kulihat baju putih panjangnya menutupi kaki dan tangannya.

Lalu tiba-tiba saja tercium busuk bunga kantil. Belum sempat saya bertanya pada wanita itu, tiba-tiba dengan perlahan-lahan wanita itu menaikkan mukanya. Di keremangan malam, kulihat wajah wanita itu pucat sekali. Kedua matanya bolong. Dan dari kedua lubang matanya, memancarkan sinar merah. Rambutnya acak-acakan.

Dengan impulsif rasa takut menyergapku. Baru kali ini saya mencicipi ketakutan. Jantung ku berdebar kencang ketika secara tiba-tiba wanita itu tertawa cekikikan sambil memperlihatkan taringnya, kemudian kedua tangannya diacungkan padaku, seolah ingin mencekikku. Kembali saya dibentuk terkejut. Ternyata jari-jari tangannya tinggal tulang semua.

"Kun.. Kuntilanak!!" teriakku dengan tergagap. Tanpa pikir panjang lagi kuambil langkah seribu. Melihat saya lari, Kuntilanak itupun ikut berlari mengejarku. Sekilas sanggup kulihat tubuhnya melayang-layang terbang, dengan bunyi cekikikan yang mengerikan.

Kemudian dengan sekuat tenaga saya percepat lari. Tapi Kuntilanak itu terus saja mengejarku dengan disertai bunyi tawanya yang menakutkan.Sementara rasa takut yang kurasakan semakin menjadi-jadi. Baru kali ini saya mencicipi takut yang teramat sangat.

Pada ketika genting itu tiba-tiba ada cahaya lampu dari depanku. Begitu ada cahaya lampu, bunyi tawa Kuntilanak itupun hilang. Dengan terengah-engah kuhentikan lari, kemudian kulihat ke belakang ternyata benar Kuntilanak itu sudah hilang. Mungkin alasannya ialah takut dengan cahaya lampu itu, pikirku.

Sambil mengatur napas, saya tunggu cahaya lampu yang ku kira lampu sepeda motor itu mendekat. Aku pikir mungkin salah seorang temanku yang ingin menjemputku. Tapi semakin erat cahaya lampu itu ke arahku, ternyata bukan bunyi sepeda motor yang terdengar. Justru busuk kemenyan dan bunga kantil yang menusuk hidung. Kembali rasa takut mulai menjalariku.

Begitu cahaya lampu itu tiba di depanku, saya nyaris pingsan dibuatnya, ternyata cahaya itu ialah rombongan hantu pengusung peti mayat. Mereka berjalan tanpa menginjak tanah, ketika itu badanku seolah tidak berdarah lagi dan jantungku berdegup kencang.

Keberanian yang dulu saya bangga-banggakan hilang sudah, dengan terang kulihat satu orang tanpa kepala dengan leher berlumuran darah sedang membawa lampu berupa bundar cahaya yang sangat terang.

Empat orang pengusung peti mayat, mukanya hancur semua, dengan tubuh dipenuhi bercak-bercak darah di sana-sini. Sementara orang-orang yang mengiringi di belakang, tubuhnya juga tidak ada yang utuh.

Mataku melotot dan tidak sanggup dikedipkan, sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Tiba-tiba, rombongan pengusung keranda mayit itu berhenti ketika lewat di depanku, kemudian secara serentak makhluk-makhluk mengerikan itu memalingkan wajahnya dan menatap kearah ku.

Rasa takut yang kurasakan semakin menjadi-jadi dan nafasku memburu alasannya ialah menahan takut. Wajah-wajah makhluk itu sangat mengerikan, mereka menatap ku dengan tajam. Lalu salah seorang tiba mendekati ku. Wajah berlumuran darah mengerikan dan salah satu matanya menggantung keluar hampir copot, isi perutnya terburai keluar dengan jalannya yang menyerupai robot, makhluk itu mendekati ku.

Saat itu ingin rasanya saya lari, tapi kedua kakiku tidak sanggup digerakkan, kemudian dengan cepat tangan makhluk itu mencengkeram bahuku. Kucoba meronta melepaskan cengkeramannya, tapi tidak berhasil. Energi makhluk itu sangat berpengaruh sehingga tubuhku diangkatnya dengan gampang kemudian dengan cepat tubuhku dilemparkan kearah keranda mayat.

Tubuhku melayang menuju keranda, dengan tiba-tiba pula, epilog keranda itu terbuka sendiri. Lalu dengan telak tubuhku jatuh ke dalam peti itu, dengan cepat epilog keranda itupun menutup kembali. Aku sudah di dalam peti mati, meronta-ronta kesana kemari dengan sekuat tenaga kucoba membuka epilog keranda itu tapi sungguh sangat sulit.

Aku coba berteriak meminta pemberian tapi tak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari mulutku, bagai tikus terkena perangkap, saya terus saja meronta-ronta kesana-kemari sambil terus berusaha membuka epilog keranda tapi usahaku sia-sia.

Lalu dengan bersamaan, makhluk-makhluk itu tertawa mengerikan, kemudian mereka mulai lagi berjalan dengan membawa ku yang terus meronta-ronta. Karena di cekam rasa takut yang teramat sangat, ditambah tenagaku yang semakin lemah, hasilnya saya pun jatuh pingsan dan sesudah itu saya tak ingat apa-apa lagi.

Sayup-sayup kudengar bunyi orang membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Sesekali diiringi bunyi orang memanggil-manggil namaku, dengan perlahan-lahan kucoba membuka mataku dan kulihat disamping kananku ada Pak Haji Ismail yang tengah khusuk membaca Al-Qur'an. Sementara di samping kiri ku, kulihat Ibuku yang tengah memandangiku dengan kedua matanya yang sembab, menunjukan jika Ibuku habis menangis.

Begitu melihat saya membuka mata, eksklusif Ibuku memelukku dan menciumi pipiku sambil terus menangis. "Alhamdulillah Ya Allah, kau sudah sadarkan diri, Anakku. Terima kasih ya Allah" ratap Ibuku berkali-kali, Ayahku yang duduk di samping Ibuku, segera menenangkan Ibuku yang terus menangis memeluk ku.

Sementara saya hanya diam, saya gundah apa bahu-membahu yang telah terjadi denganku. Pak Haji Ismail yang sedari tadi duduk disampingku membaca Kalam Illahi, dengan senyumnya yang teduh menyuruhku meminum segelas air putih yang sudah disediakan.

"Sudah satu ahad kau pingsan, Mat! Kamu ditemukan tergeletak pingsan di tengah kuburan." kata Pak Haji menjelaskan. Mendengar kata kuburan, saya teringat kembali pada insiden yang menimpa ku.

Dengan perasaan yang masih diliputi rasa takut, kuceritakan semua insiden yang kualami dari awal hingga akhir, semua orang yang hadir di ruangan itu bergidik ngeri mendengarkan dongeng ku. Sejak insiden itu hingga sekarang, saya kian rajin mendekatkan diri pada Allah SWT.

Kukerjakan lagi sholat, sesudah sekian usang kutinggalkan. Ku buka lagi kitab suci Al-Qur'an, sesudah sekian usang tidak pernah ku baca. Meskipun insiden itu masih membuatku stress berat pada kesunyian, namun saya kian menyadari bahwa memang ada dimensi kehidupan lain yang diciptakan Allah SWT di samping kehidupan insan yang faktual ini.

Sumber: memoarema.com

0 Response to "Diteror Rombongan Hantu Pengusung Mayat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel