Potret Tasripin-Tasripin Lain Di Pesisir Riau


Kisah Tasrifin  bocah berusia dua belas tahun putra dari Sartijo penduduk Dusun  Persawaha Potret Tasripin-Tasripin Lain di Pesisir Riau

Kisah Tasrifin bocah berusia dua belas tahun putra dari Sartijo penduduk Dusun Persawahan Desa Gunung Lurah Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah yang memiliki tiga orang adik, tiba tiba saja menjadi pembicaraan rakyat Indonesia, Mulai dari para pejabat, hingga kepada buruh. Mulai dari loby hotel berbintang, hingga kepada warung kopi, sesudah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengirim Staf khusus Kepresidenan untuk memberikan pertolongan Presiden kepada Tasrifin. Sejak itu Tasrifin menjadi terkenal. Iapun diburu oleh banyak sekali media baik media surat kabar maupun media elektronik online mapun media televisi. Tasrifinpun berobah layaknya menyerupai salebritis dan juga menyerupai politikus yang sering menjadi buruan media.

Kehidupan yang dihadapi oleh Tasrifin dengan tiga orang adiknya yang tertua berusia Sembilan tahun dan yang nomor dua delapan tahun serta yang nomor tiga enam tahun dimana ibunya telah usang meninggal dunia akhir tertimbun longsor sewaktu bekerja sebagai penambang pasir, dan ayahnya alasannya ketiadaan dana untuk modal berusaha kemudian hijrah merantau ke Kalimantan. Sehingga Tasrifin mengambil alih kiprah orang tuanya untuk menjaga dan memberi makan sang adik. Akibatnya Tasrifin harus meninggalkan dingklik sekolah dalam bahasa modern nya putus sekolah. Adalah merupakan cerita perjalanan hidup biasa yang dialami oleh anak anak Indonesia di Negara ini.

Tidak ada yang luar biasa dari cerita hidup Tasrifin kalau dibandingkan cerita cerita sedih anak Indonesia yang tidak terekpos oleh media. Tasrifin dalam usianya dua belas tahun terpaksa putus sekolah alasannya mengambil kiprah dan tanggungjawab orang tuanya, itu yaitu cerita yang biasa dialami oleh anak anak Indonesia. Banyak anak anak Indonesia yang mengalami cerita menyerupai itu, bahkan lebih parah dari pada apa yang dialami oleh Tasrifin.

Lantas kenapa kita merasa sedih terhadap cerita perjalanan hidup Tasrifin, kemudian kenapa kita tidak sedih atas perjalanan hidup anak anak nelayan yang berada di pesisir pantai Selat Malaka. Mereka juga mengalami nasib yang sama dengan apa yang dialami oleh Tasrifin. Dalam usia yang sama dengan Tasrifin anak anak nelayan ini sudah bekerja sebagai nelayan, mengharungi lautan berhadapan dengan ombak dan angin puting-beliung yang ganas. Mereka juga putus sekolah. Katakanlah mereka memiliki orang tua, tapi alasannya ketiadaan mereka juga harus meninggalkan dingklik sekolah seusia Tasrifin, alasannya keadaan yang tidak mencukupi didalam lingkungan keluarganya. Mereka rela berhujan dan berpanas serta berembun ditengah lautan untuk membantu penghasilan keluarga.

Jika kita membaca kehidupan insan Pincalang (Perahu) di Provinsi Riau tentu kita akan lebih terenyuhlagi. Dimana mereka hidup didalam pincalang ditengah lautan. Ancaman demi bahaya yang sering tiba mendera tanpa mereka ketahui entah kapan berakhirnya. Berbulan bulan bahkan bertahun tahun secara turun temurun mereka menjadi insan pincalang. Anak anak mereka tidak mengenal sama sekali nikmatnya duduk dibangku sekolah. Setiap ketika mereka harus siap untuk bertarung dengan bahaya Ombak dan Badai yang tidak sanggup untuk dideteksi kapan datangnya. Belum lagi bahaya yang tiba dari para lanun lanun maritim yang siapa merampok, memperkosa dan membunuh. Namun mereka tetap tabah dan sedikitpun mereka tidak pernah menjadi perhatian kita.

Taroklah Manusia pincalang itu jauh dari pandangan mata kita, alasannya mereka hidup berkelompok diatas pincalang ditengah maritim atau dibalik balik pulau diluasnya samudra. Ada yang begitu bersahabat dan menempel dari pandangan mata kita, tapi inipun tidak pernah menjadi perhatian kita. Malah cerita perjalanan hidupnya lebih tragis dari Tasrifin dan insan pincalang. Yakni mereka yaitu anak anak yang kehilangan masa depannya. Mereka menjadi pengemis dan gelandangan, setiap hari mereka berada di setiap lampu merah. Untuk memperjuangkan hidupnya mereka rela berpanas kalau siang hari dan berembun pada malam hari dan tampa kenal dengan yang namanya hujan.

 Kisah Tasrifin  bocah berusia dua belas tahun putra dari Sartijo penduduk Dusun  Persawaha Potret Tasripin-Tasripin Lain di Pesisir Riau

Tidur mereka juga diemperan toko, gedung bertingkat, dan tidak sedikit pula diantara mereka yang harus tidur dikolong jembatan, alasannya mereka tidak punya rumah untuk tempat tinggal. Terkadang mereka tinggal dengan adik adiknya di emperan toko, gedung bertingkat dan dibawah kolong jembatan. Hanya beralaskan Koran atawa kardus. Untuk memenuhi perut sejengkal mereka terkadang tidak merasa aib kalau harus mengorek ngorek tong sampah untuk mencari sisa masakan yang dibuang oleh orang orang kaya yang bersipat kapitalis dan borjuis. Dibanding dengan kehidupan Tasrifin yang masih punya rumah tempat berteduh, dan masih sanggup tidur lelap walaupun diatas dipan yang reot. Bila dibanding dengan bocah bocah gelandangan dan pengemis, yang tidak punya tempat tinggal dan tidur hanya beralaskan Koran.

Jika Tasfirin hidup ditengah tengah masyarakat yang ada memperhatikan keselamatannya, beda dengan para anak anak pengemis dan gelandangan yang harus tidur diemperan toko dan gedung bertingkat atau dibawah kolong jembatan yang keselamatannya juga terancam. Kalau yang gelandangan itu anak wanita bahaya pemerkosan dan pelecehan sek setiap ketika akan mengancam nya, kalau ia seorang laki laki, maka bahaya sodomi yang sering kita dengar akan menjadi bahaya bagi dirinya.

Kenapa terhadap mereka ini kita tampaknya tidak perduli. SBY seakan lupa memperhatikan nasib mereka ini. Pada hal cerita perjalanan hidup mereka untuk mempertahankan hidup lebih tragis bila dibandingkan dengan nasib Tasrifin. Kita tidak apriori terhadap perhatian Presiden SBY kepada Tasrifin. Tapi kita perlu juga menggugat, atas kealfaan Presiden SBY terhadap nasib anak anak gelandangan dan pengemis yang hidupnya lebih tragis dari Tasrifin. Apakah alasannya Tasrifin yang dibantu oleh Presiden SBY yaitu Tasrifin yang hidup dipulau jawa, lantas mengabaikan nasip para Tasrifin yang ada didaerah luar jawa, Atau memang pertolongan SBY kepada Tasrifin hanya sebuah pencitraan?

Jika menyerupai ini kebenarannya, pantaslah apa yang dikatakan oleh orang Sumatera bahwa Pemimpin yang berasal dari kawasan pulau Jawa memiliki Ismesentris yang tinggi terhadap suku diluar pulau jawa. Pada hal sebagai seorang pemimpin haruslah menanggalkan ismesentrisnya dan harus menganggap bahwa siapapun dia, berasal dari suku manapun beliau tapi yaitu tetap sebagai Bangsa Indonesia.

Mari kita buka mata kita, kita pandang Tasrifin Tasrifin yang lain, yang begitu banyak tersebar di Nusantara, tapi luput dari pandangan kita. Kita menjadi eforia terhadap cerita Tasrifin dalam menjalani kehidupannya hanya biasa biasa saja. Masih banyak Tasrifin Tasrifin lain yang tersebar di Nusantara yang menghadapi problema hidup lebih parah dan lebih sedih dari pada Tasrifin yang dibantu oleh Presiden SBY. Tasrifin Tasrifin ini mengharapkan perhatian kita, perhatian pemerintah dan perhatian Presiden SBY secara Pribadi. Semoga.


 SUMBER



0 Response to "Potret Tasripin-Tasripin Lain Di Pesisir Riau"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel